Sekjen MPR RI: Memilih Itu Memuliakan Kedaulatan Rakyat

Inisiatifnews – Sekretaris Jenderal MPR RI Ma’ruf Cahyono mengingatkan seluruh kalangan menggunakan hak pilihnya pada pemilu serentak 17 April nanti. Menurutnya, pesta demokrasi lima tahunan ini adalah momen rakyat dimuliakan karena diberi hak suara dan memilih.

Inilah satu-satunya milik rakyat yang paling tinggi dalam berdemokrasi dengan menentukan masa depan dan jalannya negara dan bangsa. “17 April nanti semua pihak harus berpartisipasi. Kalau tidak memanfaatkan, artinya kita sedang mereduksi posisi mulia rakyat sebagai pemegang tertinggi kedaulatan,” kata Ma’ruf saat Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Gedung Serba Guna HKBP Balige, Toba Samosir (Tobasa), Sumatera Utara, Selasa (09/04/2019).

Bacaan Lainnya

Acara ini diikuti sekitar 400 peserta dari berbagai elemen seperti ASN, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh pemuda. Hadir pula Asisten III Bidang Administrasi Umum Rudian Siregar, Kadis pariwisata dan Kebudayaan Audi Murphi, Pimpinan Gerjea HKBP Pendeta Donda Simanjuntak, dan Tokoh masyarakat sekaligus Staf Ahli Ketua DPD RI Edison Manurung.

Kembali ke Ma’ruf, dia sangat berharap partisipasi masyarakat dalam pemilu tinggi. Terutama bagi kalangan generasi milenial. “Jadi ini bukan soal datang ke TPS, tapi soal memuliakan kedaulatan rakyat, dan diri kita sebagai warga negara yang memilih demokrasi,” katanya.

Dalam paparan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, Ma’ruf menekankan untuk memperkuat Pancasila dan nilai-nilai kearifan kedaerahan. Nilai-nilai luhur peninggalan orang tua dan pendiri bangsa ini harus terus dibumikan di tengah arus perubahan yang sangat cepat, lebih cepat dari cara kita menjaga Indonesia.

Landasan nilai ini perlu dijaga. Setiap warga negara memiliki tanggung jawab moral dan konstitusional membumikan ini. “Masih Indonesiakah kita? Pancasila, lima sila hapal kita. Tapi gotong royong, saling menghormati dan nilai yang mempersatukan kita di atas perbedaan-perbedaan yang ada apa masih lestari? Perbedaan sekarang ini menjadi sumber perpecahan,” ujarnya khawatir.

Karena itulah, dia sangat berbahagia atas sambutan warga Tobasa yang hidup dalam berbagai perbedaan tetapi saling menghormati. “Di Toba Samosir, saya dihormati sangat tinggi. Ternyata Bhinneka Tunggal Ika sudah berjalan di sini. Saling menghormati dan menghargai. Saya orang Jawa, Islam, diberi Ulos, tak hanya itu didoakan dengan adat dan agama daerah ini. Saya bangga dan bersyukur. Semangat kebangsaan, nilai-nilai masih ada,” tandasnya.

Di luar ini, Ma’ruf merasakan, penyampaian nilai-nilai Pancasila di kalangan generasi milenial agak sulit. Selain kurikulum pendidikan mengenai Pancasila yang tak semassif dahulu, ditambah lagi karena gempuran teknologi informasi. “Orang semua tidak bisa lepas dari gadget. Oleh karena itu, bagaimana kita harus menjaga. Sekarang sudah ada BPIP. Saya bersyurkur, internalisasi ideologi memang harus tetap ada,” ujar dia.

Tokoh masyarakat Tobasa Edison Manurung menegaskan, nilai-nilai filosofis kedaerahan banyak di Sumut dan masih lestari hingga kini. Di tengah keberagaman suku, marga, agama, warga Sumut masih saling menghargai perbedaan dan bergotong royong dalam berbagai kegiatan.

Edison yakin pemilu akan berjalan lancar dan aman selama masyarakat saling menghargai. “Kami ini heterogen, agama, marga banyak sekali tapi masih saling menghormati satu dengan yang lain. Kalau sudah nyanyi bareng, tak ada lagi persoalan. Jangan khawatir kalau di Sumatera Utara nilai-nilai sangat kita jaga,” ujarnya. (FMV)

Temukan kami di Google News.

Pos terkait