Cak Imin Diperiksa KPK

Cak Imin
Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar penuhi panggilan KPK. [foto : Istimewa]

Inisiatifnews.com – Wakil Ketua DPR RI Muhaimin Iskandar alias Cak Imin akhirnya penuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Setelah beberapa kali bersurat belum bisa memenuhi panggikan KPK, hari ini Cak Imin datang sebagai saksi untuk tersangka Hong Arta John Alfred pada kasus suap proyek PUPR.

Cak Imin tiba di Gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, sekitar pukul 10.20 WIB. Cak Imin yang juga Ketua Umum PKB itu memakai kemeja putih, celana gelap dengan jaket hitam.

Bacaan Lainnya

Ia didampingi Mantan Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri dan mantan Menteri Desa Eko Putro Sanjojo. Keduanya cuman mengantar sampai di lobi KPK. Cak Imin masuk ke ruangan pemeriksaan sendirian.

“Muhaimin Iskandar (Anggota DPR-RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa) saksi untuk HA (Hong Arta) TPK menerima hadiah terkait proyek di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat TA 2016,” kata Plt Jubir KPK Ali Fikri kepada wartawan, Rabu (29/1/2020).

Cak Imin memang dipanggil sebagai saksi dugaan kasus suap proyek Kementerian PUPR. Cak Imin pernah dipanggil KPK pada Selasa (09/11/2019) lalu. Sayangnya, saat itu, Cak Imin tidak memenuhi panggilan penyidik.

Saat itu, dia bersurat ke KPK belum bisa memenuhi panggilan karena masih dalam kegiatan dinas ke luar negeri hingga Desember 2019.

Dugaan suap proyek Kementerian PUPR ini bermula dari operasi tangkap tangan (OTT), Januari 2016. KPK menangkap Damayanti Wisnu Putranti, anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuanga .

Damayanti diduga menerima suap pengerjaan proyek jalan Kementerian PUPR. KPK terus mengembangkannya. Total, ada 12 orang terlibat, termasuk  pengusaha Hong Arta John Alfred.

Hong Arta merupakan Direktur dan Komisaris PT Sharleen Raya JECO Group. Dia diduga memberi suap kepada eks Kepala Balai Pelaksana Jalan dan Jembatan Nasional (BPJJN) Wilayah IX Amran Mustary dan Damayanti.

Hong Arta diduga memberi suap Rp 8 miliar dan Rp 2,6 miliar kepada Amran. Dia juga diduga memberi suap serta Rp 1 miliar kepada Damayanti. Suap kepada Amran dan Damayanti itu diduga diberikan secara bertahap pada 2015. (FMM)

Pos terkait