CIMSA Dorong Kasus Timbal Masuk ke Kurikulum Pendidikan Kedokteran

Cimsa
Istimewa.

JAKARTA, Inisiatifnews.com – Presiden Center for Indonesian Medical Students’ Activities (CIMSA), Tasya Nabiila Edlin menilai, bahwa persoalan timbal masih sering dialami banyak kalangan. Efeknya, banyak sekali penyakit manusia yang didasari oleh efek kimia itu.

Soal DALYs (disability-adjusted life years), Indonesia ternyata masuk dalam negara sebagai wilayah global burden disease, spesifiknya pada region Asia, dengan jumlah kematian dan rasio DALY tertinggi ke-3.

Bacaan Lainnya

“Lebih dari 8 juta anak di Indonesia memiliki kadar timbal melebihi batas kadar bahaya yang dapat menyebabkan gangguan pada sistem saraf dan dampak jangka panjang. Pada skala global, keracunan timbal menyebabkan 21,7 juta tahun kehilangan paruh hidup akibat sakit, kecacatan, dan kematian,” kata Tasya dalam konferensi persnya di Jakarta, Senin (30/1).

Terlebih, beberapa daerah di Indonesia diketahui memiliki potensi kadar bahaya timbal sangat besar. Risetnya, ada di Tegal Jawa Tengah dan Bogor Jawa Barat. Sebab, kedua daerah tersebut merupakan daerah dengan tingkat kontaminasi timbal yang tinggi dari kegiatan peleburan aki bekas pada masa lalu.

Pihaknya pun menggandeng organisasi penggalangan dana untuk anak-anak dunia, UNICEF (United Nations Children’s Fund) melakukan riset terhadap persoalan timbal ini. Ia berharap para Mahasiswa kedokteran yang ikut terlibat di dalam misi riset ini bisa tergugah untuk terlibat aktif dalam berbagai literasi dan edukasi tentang kasus keracunan timbal itu.

“Mahasiswa kedokteran, sebagai calon tenaga kesehatan masa depan, juga memiliki andil dalam upaya preventif dan promotif mengenai keracunan timbal,” ujarnya.

Sebab kata Tasya, di dalam hasil riset yang dilakukan CIMSA dan UNICEF itu, mayoritas Mahasiswa Kedokteran tidak memahami tentang bahaya timbal dan kasusnya di masyarakat. Menurutnya, ini adalah ironi dan anomali yang harus disikapi dengan baik dan bijak.

CIMSA telah melakukan survei kepada 168 mahasiswa kedokteran di seluruh Indonesia angkatan 2019 – 2022, yang hasilnya tercantum pada Policy Brief kami, dan didapatkan bahwa 61.9% responden mendapat hasil di bawah rata-rata (4,32 dari 11 poin), dan termasuk kategori ‘buruk’ pada pemahaman mahasiswa terkait pemahaman, deteksi, pencegahan, serta penanganan keracunan timbal,” paparnya.

Dalam kesempatan yang sama, Spesialis Aksi Lingkungan dan Iklim UNICEF Indonesia, Aryanie Amellina juga memaparkan, bahwa tidak hanya Mahasiswa Kedokteran saja, bahkan para tenaga kesehatan juga banyak yang kurang literasi tentang persoalan ini.

“Tenaga kesehatan banyak yang tidak mengetahui adanya pencemaran timbal dan risiko yang ditimbulkannya, terlebih lagi terhadap anak-anak,” kata Aryanie.

Oleh sebab itu, ia berharap besar dari hasil riset yang ia lakukan itu, setidaknya kasus-kasus keracunan timbal bisa dijadikan kajian terbuka di dalam kelas perkuliahan atau seminar-seminar tentang kesehatan dan kedokteran.

“Edukasi terkait pencemaran lingkungan, termasuk timbal, beserta pencegahan dan tata kelolanya perlu dimasukkan ke dalam edukasi formal,” ujarnya.

Masih dalam kesempatan yang sama pula, Ketua Konsil Kedokteran Indonesia, dr. Putu Moda Arsana juga memberikan respons yang positif terhadap hasil riset yang dilakukan oleh CIMSA dan UNICEF itu. Ia berharap hasil kajian ilmiah ini bisa menjadi penunjang perbaikan kurikulum pendidikan kedokteran di Indonesia.

“Kajian ini dapat ditindaklanjuti sebagai bahan untuk perbaikan kurikulum terkait dengan isu lingkungan,” kata Putu Moda.

Oleh sebab itu, ia berharap agar segera ada tindaklanjut yang konkret agar bisa direalisasikan segera. Caranya adalah dengan memberikan surat kepada semua stakeholders terkait.

“Dengan mengirim surat kepada Kolegium Dokter Indonesia, dengan tembusan ke Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset Teknologi, dan Pendidikan Tinggi), KKI (Konsil Kedokteran Indonesia), dan seluruh Institusi Pendidikan di Indonesia sebagai kurikulum inti atau kurikulum tambahan,” tuturnya.

Terakhir, Putu Moda pun menyatakan bahwa Konsil Kedokteran Indonesia siap memfasilitasi upaya perbaikan kurikulum tersebut.

“Kami siap mendukung CIMSA dalam memperbaiki kurikulum Pendidikan Dokter terkait masalah kesehatan lingkungan,” pungkasnya.

Temukan kami di Google News.

Pos terkait