Haedar Nashir Harap Para Capres-Cawapres Mampu Atasi Masalah Buruk Indonesia Kekinian

Haedar Nashir
Ketua Umum PP Muhammadiyah, prof Haedar Nashir.

JAKARTA, Inisiatifnews.com – Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan bahwa Indonesia adalah sebuah negara yang sangat besar dan dilahirkan dengan landasan yang sangat kokoh.

“Kami menyadari dan kami memahami bahwa Indonesia adalah negara besar yang fondasi keindonesiaannya sangat kokoh. Kita sudah memilih menjadi negara berkesatuan dan berkedaulatan rakyat dengan prinsip-prinsip demokrasi dalam sila ke 4,” kata Haedar Nashir dalam pembukaan Dialog Terbuka di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Cireundeu, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten, Kamis (23/11).

Bacaan Lainnya

Di Universitas Muhammadiyah Jakarta kali ini, PP Muhammadiyah menghadirkan pasangan Capres-Cawapres nomor urut 3, yakni Ganjar Pranowo dan Mahfud MD.

Lebih lanjut, Haedar Nashir menyampaikan bahwa di dalam sila keempat, disebutkan bahwa Indonesia dibangun atas dasar kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Konteks ini yang juga dipegang oleh Muhammadiyah dalam memaknai konsep demokrasi.

“Ada hikmah ada musyawarah di balik demokrasi atau yang menyertai demokrasi,” ujarnya.

Oleh sebab itu, penerapan hukum di Indonesia menjadi sesuatu yang sangat penting, bahkan ini menjadi sorotan tersendiri di kalangan Muhammadiyah.

“Prinsip-prinsip hukum itu berlaku secara fundamental dalam kehidupan bernegara dan berbangsa,” terangnya.

Sehingga dengan demikian, ia berharap bahwa semua entitas bangsa Indonesia bisa melanjutkan perjuangan para founding father dengan cara mengisi kemerdekaan sebaik-baiknya sesuai dengan apa yang sudah dicita-citakan.

“Indonesia juga sudah diperjuangkan oleh para pendiri, mujahid dengan segenap darah dan keringat. Menjadi kewajiban kita untuk merawat dan memajukan bangsa dan negara ini seusai dengan kehendak konstitusi dan pendiri bangsa yakni menjadi negara yang berdaulat adil dan makmur,” tutur Haedar.

Di samping itu, ia juga tak menampik bahwa sejak Indonesia merdeka di tahun 1945, banyak sekali pencapaian yang diraih oleh Indonesia. Pun demikian, di balik pencapaian tersebut masih ada hal-hal yang menjadi kekurangan.

“Dalam perjalanannya ada kemajuan yang diraih tetapi selalu ada problem. Dalam pandangan Muhammadiyah, Indonesia sudah mengalami esosi, distrupsi, distorsi bahkan deviasi dalam kehidupan bangsa diukur dari dasar cita-cita kebangsaan,” tandasnya.

Sesuatu yang tidak kalah penting adalah munculnya oligarki dan liberalisasi di tengah-tengah masyarakat, baik dari aspek, politik, hukum, ekonomi, hingga sosial budaya. Bagi Haedar, ini menjadi sesuatu yang harus dibereskan.

“Munculnya politik ekonomi bahkan budaya yang serba liberal pasca reformasi itu tidak sejalan dengan dasar dan cita-cita negara Indonesia didirikan. Oligarki dalam berbagai bentuknya, ekonomi politik juga tidak sejalan,” paparnya.

“Bahkan dalam praktik kehidupan kebangsaan akhir-akhir ini dimana hukum mengalami proses politiking, bahkan dalam konteks demokrasi orang tidak berani berkata dan berbuat berbeda karena ada proses politisasi hukum, dan berbagai persoalan-persoalan politik budaya,” sambung Haedar.

Dengan melihat itu semua, tokoh Muhammadiyah kelahiran Bandung 25 Februari 1958 tersebut menilai bahwa sosok pemimpin nasional nanti harus mampu melakukan penataan ulang agar apa yang berjalan ke depan sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa.

“Maka kita perlu rekonstruksi ke depan,” tegasnya.

Lebih lanjut, kegiatan dialog terbuka yang diselenggarakan oleh PP Muhammadiyah ini adalah bagian dari upaya untuk mengajak para calon Presiden dan calon Wakil Presiden 2024 untuk bersama-sama memotret kondisi Indonesia yang sebenarnya, sehingga bisa merumuskan sebuah terobosan untuk mengatasi semua persoalan yang dimiliki bangsa dan negara saat ini.

“Kita ingin para calon presiden dan calon wakil presiden memotret Indonesia hari ini secara fundamental. Dan bagaimana para tokoh ini ke depan membawa Indonesia sesuai dengan fondasi yang dibangun, cita-cita dan visi misi kebangsaan di tengah konstelasi kehidupan nasional dan global yang begitu kompleks. Sehingga Indonesia ada bingkainya, ada arahnya yang jelas,” pungkasnya.

Temukan kami di Google News.

Pos terkait