Memahami Makna Hasil Survei Elektabilitas Paslon2 Pilpres 2024

hikam
Muhammad AS Hikam. [foto : dokumen pribadi]

Kenapa survei-survei elektabilitas paslon nomor 2 unggul dibanding paslon nomor 1 dan nomor 3? Salah satu penjelasannya adalah kampanye model bagi-bagi BLT dan sembako dari pihak paslon nomor 2 memang efektif.

Demikian pula janji makan dan minum susu gratis masih cukup memikat bagi sebagian rakyat. Setidaknya, bagi sekitar 26 juta penduduk RI (9%) yang tergolong miskin.

Bacaan Lainnya

Penduduk miskin perdesaan dan perkotaan, hemat saya, tak begitu tertarik dengan kampanye bermuatan gagasan-gagasan rumit dan janji-janji muluk perbaikan ekonomi serta perubahan-perubahan kualitas kehidupan mereka.

Mereka lebih memprioritaskan penyelesaian keperluan-keperluan mendesak dan subsistens di sini dan sekarang (here and now). Jika ini ditambah dengan seruan-seruan bernuansa loyalitas primordial, susah untuk ditandingi oleh semua model kampanye muluk-muluk dan ideologis.

Sosiologi politik di Indonesia masih belum beranjak dari fakta pentingnya pemenuhan kebutuhan pokok, kendati ia sudah merdeka 78 tahun dan sebagai negara yang layak jadi anggota G20 bahkan OECD.

Korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan sebagian elite, makin membuat janji-janji di masa kampanye politik sebagai ilusi kosong. Bagi rakyat miskin, kesempatan untuk mendapat bagian kue yang nyata ya hanya saat-saat seperti ini.

Negara, aparat negara, dan elit yg berkuasa bersama para oligark dan pendukungnya memanfaatkan momen ini dengan efektif dan tanpa malu-malu.

Dengan topangan sistem legal formal serta kooptasi politik yang masif maka normalisasi praktik-praktik lancung berlangsung tanpa tantangan berarti. Tujuan akhirnya, apalagi kalau bukan mendapat dukungan suara mayoritarian untuk memperpanjang dan melanggengkan kekuasaan.

Akibatnya, perjalanan bangsa Indonesia hanya akan berputar-putar dalam sebuah wahana negara yang terjebak dalam kemandegan dan involusi yang lama. Jika kondisi demikian terus bertahan, bukan tak mungkin negeri ini akan masuk dalam daftar barisan negara-negara yang gagal (failed states) walaupun punya modal SDA yang sangat kuat.

Adakah jalan keluar dari lingkaran setan dan jebakan negara gagal tersebut? Belajar dari sejarah bangsa-bangsa yang pernah mengalami proses involusi seperti ini barangkali adalah salah satunya. Bagaimana negara-negara di Eropa Timur, Amerika Latin, dan Afrika dan lain-lain, berusaha menemukan jalan tersebut, baik yang berhasil maupun yang masih belum.

Jalan demokrasi konstitusional yang substansial dan dibarengi dengan orientasi negara kesejahteraan (welfare state) adalah salah satunya. IMHO

Temukan kami di Google News.

Pos terkait