Mahfud MD Ingatkan Jangan Ada yang Coba Tekan-tekan Akademisi

Mahfud MD di Acara Tabrak Prof!
Cawapres nomor urut 03, Mahfud MD saat berdialog dengan masyarakat di acara Tabrak Prof! yang diselenggarakan di Yogyakarta pada hari Senin, 5 Februari 2024.

YOGYAKARA, Inisiatifnews.com – Cawapres nomot urut 3, Mahfud MD menyayangkan upaya intimidasi dan pembungkaman suara kampus dan akademisi yang mengawal Pemilu dan demokrasi, serta pemerintahan beretika.

Ia mengingatkan bahwa cara-cara pembungkaman yang terjadi seperti saat ini bisa membahayakan demokrasi. Apalagi jika rakyat dan para akademisi sudah marah, maka potensi chaos bisa mudah terjadi.

Bacaan Lainnya

“Semakin ditekan perguruan tinggi dan para akademisi ini, semakin menggelombang gerakan moral ini,” kata Mahfud, saat forum Tabrak Prof di Koat Kopi Senturan, Sleman Yogyakarta, Senin (5/2).

Mahfud mendapat laporan informasi pemaksaan dan intimidasi kampus-kampus dan akademisi yang belakangan mulai muncul melakukan seruan moral. Laporan tersebut datang dari beberapa rektor. Mereka disuruh membuat pernyataan yang menyatakan bahwa Presiden Jokowi negarawan, baik, berhasil mengatasi krisis, dan Pemilu berjalan baik dan sebagainya.

“Itu ada beberapa rektor yang disuruh. Sehingga ada yang membuat pernyataan senada, sesuai template pesanan, ada yang samar-samar. Lalu ada yang tidak mau seperti Rektor Universitas Unika Soegijapranata Semarang, memberi tahu kami,” tuturnya.

Mahfud menilai, pengkondisian seperti ini tidak sehat dalam demokrasi. Sebab, membuat tandingan-tandingan seperti ini dapat memecah belah masyarakat, dan memecah belah kampus serta akademisi.

“Kebebasan dan mimbar akademik, harus dihormati. Bahkan di zaman Soeharto yang otoriter pun kebebasan mimbar akademik masih relatif cukup didengarkan dan berwibawa,” ujar Guru Besar Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini.

Mahfud pun bangga dengan sejumlah kampus dan guru besar yang berani menyatakan sikap. Khususnya yang bermula dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan UII.

Mahfud yakin gerakan ini akan semakin menggelinding dan diikuti kampus, guru besar, akademisi, dan intelektual berintegritas lainnya.

“Saya bangga, aksi kampus di Yogyakarta dalam penyelamatan demokrasi. Saya tidak khawatir karena sudah 59 perguruan tinggi yang menyatakan sikap. Mari kita berterima kasih kepada mereka,” tandasnya.

Pos terkait