Hikam Sebut Kampanye Khilafah Permalukan Jogja

  • Whatsapp
Khilafah
Foto : Istimewa

Inisiatifnews.com – Menteri Riset dan Teknologi pemerintahan Presiden Gus Dur, Muhammad AS Hikam menyayangkan ada parade masyarakat yang membawa-bawa narasi penegakan Khilafah di Yogyakarta.

Ia menilai bahwa kegiatan para remaja pro Khilafah yang menjadi bagian dari komunitas Hizbut Tahrir (HT) itu sengaja melakukan propaganda.

Bacaan Lainnya

“Bisa dimaknai bahwa pawai ini bisa saja adalah bagian dari propaganda kelompok pendukung Khilafahisme transnasional,” kata Hikam dalam siaran persnya yang diterima Inisiatifnews.com, Rabu (4/3/2020).

Di sisi lain, akademisi dari President University ini pun menyebutkan bahwa propaganda yang dijalankan oleh para remaja tanggung tersebut juga bisa dianggap sebagai tamparan keras kepada pemerintah Jogja.

Apalagi, Jogja adalah salah satu pusat kebudayaan nusantara yang memiliki orientasi kebangsaan dan juga sebagai salah satu pusat sejarah kemerdekaan Republik Indonesia.

Maka sangat memalukan ketika justru di Jogja ada sekelompok orang yang justru tak mau mengakui nasionalisme dan ingin mendirikan tahta sendiri yang bertentangan dengan keindonesiaan.

“Jogja dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa, tempat kaum terpelajar, lokasi universitas tertua yang dibanggakan karena berorientasi kepada rakyat dan kebangsaan, dan tempat Keraton di mana Ngarso Dalem Hamengkubuwono X berada,” ujarnya.

“Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat, dalam sejarah nasional, dikenal sebagai salah satu pendukung utama perjuangan merebut kemerdekaan RI,” imbuh Hikam.

Jadi ia menegaskan bahwa sangatlah ironis dan anomali jika di Jogja digelar pawai para pendukung Khilafahisme yang jelas-jelas anti nasionalisme, yang ipso facto adalah landasan dari keberadaan NKRI.

“Fenomena politik apa ini?,” tandasnya.

Hikam pun pada akhirnya mempertanyakan kualitas para cendekiawan di Jogja lantaran masih ada masif dan terbukanya kegiatan propaganda para pendukung ideologi politik dari Palestina itu.

“Apakah ini berarti bahwa salah satu pusat budaya dan kaum cendekiawan Indonesia itu sudah terpapar oleh ideologi radikal Khilafahisme?,” tukasnya.

Dan Hikam juga mempertanyakan mengapa pemerintah Yogyakarta tak bersikap dan terkesan membiarkan propaganda Khilafah ala Hizbut Tahrir masih ada sangat terbuka itu.

“Apa respon dari Pemerintah Daerah dan Pusat terhadap fenomena ini? Dan yang lebih penting lagi bagaimana sikap organisasi masyarakt sipil Jogjakarta atasnya?,” tanya Hikam.

Lebih lanjut, ia menilai jika pembiaran propaganda semacam itu tetap ada apalagi di Jogja, maka tidak menutup kemungkinan propaganda di daerah-daerah lain bisa lebih masif lagi.

“Pertanyaan-pertanyaan di atas menunggu jawaban dan tindakan nyata. Jika Jogja sudah begini, apalagi kota-kota lain,” tutupnya.

Perlu diketahui, bahwa Aliansi Masyarakat Jogja melakukan aksi demo yang dilakukan pada hari Selasa (2/3) lalu. Kegiatan itu merupakan peringatan 96 tahun keruntuhan daulah khilafah dam sekaligus kampanye penegakan kembali Khilafah sebagai konsep politik mereka di Indonesia.

Pos terkait