Pelaku Teror di Polsek Daha Selatan Berafiliasi dengan ISIS

  • Whatsapp
Stanislaus riyanta
Pengamat intelijen dan keamanan, Stanislaus Riyanta. [foto : Istimewa]

Inisiatifnews.comPengamat Intelijen dan Keamanan, Stanislaus Riyanta menyebut, bahwa dugaan besar untuk saat ini, pelaku teror di Polsek Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan berafiliasi dengan organisasi ISIS.

Hal ini dikatakan Stanislaus berdasarkan pola serangan yang dilancarkan pelaku teror tersebut.

Bacaan Lainnya

“Dilihat dari model serangan, atribut dan targetnya, kemungkinan besar pelaku tersebut terpengaruh atau berafiliasi dengan ISIS,” kata Stanislaus dalam keterangan persnya yang diterima Inisiatifnews.com, Senin (1/6/2020).

Perlu diketahui, bahwa salah satu pihak yang dijadikan sebagai musuh oleh ISIS di Indonesia adalah Polri.

“Karena tindakan hukum yang dilakukan oleh Polri membuat kelompok radikal yang berafiliasi dengan ISIS menjadi terdesak,” ujarnya.

Beberapa aksi teror terhadap polisi antara lain aksi teror terhadap polisi di Cikokol (20/10/2016), serangan di Mapolres Banyumas (11/4/2017), aksi bom di Kampung Melayu (24/5/2017), penyerangan terhadap anggota Brimob di Masjid Falatehan (30/06/2017).

Pada tahun 2018 aksi teror terhadap polisi seperti Kerusuhan di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok (8/5/2018), serangan bom bunuh diri terjadi di Polrestabes Surabaya (14/5/2018), serangan di Kepolisian Daerah Riau (16/5/2018).

Pada tahun 2019, aksi teror bom bunuh diri di Pospam Kertasura (3/6/2019) dan bom bunuh diri di Markas Polrestabes Medan (13/11/2019).

Selain aksi oleh kelompok yang berafiliasi dengan ISIS di Indonesia seperti JAD dan MIT yang kerap menyerang polisi, Stanislaus juga mengingatkan agar aparat sangat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap aksi model lone wolf yang sulit dideteksi ruang geraknya.

“Aksi model lone wolf sulit dideteksi, karena bergerak seorang diri sehingga tidak ada komunikasi atau transaksi yang bisa dipantau,” tuturnya.

Aksi terorisme di Polsek Daha Selatan

Perlu diketahui, bahwa aksi terorisme tersebut terjadi pada Senin, 1 Juni 2020, sekitar pukul 02:15 WITA. Pelaku yang diketahui mengaku bernama Abdul Rahman itu melakukan aksinya di Mapolsek Daha Selatan secara sendirian.

IMG 20200601 WA0050 e1591027461111
Barang bukti yang diamankan Polsek Daha Selatan. [foto : istimewa]

Sebelum melakukan serangan kepada aparat kepolisian, Abdul Rahman terlebih dahulu membakar mobil patroli yang terparkir di Mapolsek Daha Selatan. Kemudian aksinya dilanjut dengan menyerang Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Brigadir Leonardo Latupapua yang sedang melakukan piket.

Mendapati keributan di area SPKT Polsek Daha Selatan, salah satu petugas piket yakni Bripda Muhammad Azmi melakukan pengecekan, dan di sana ia melihat rekan kerjanya tengah terluka akibat sabetan pedang samurai yang dipakai Abdul Rahman untuk melancarkan terornya. Dan kabar terbaru, Brigadir Leonardo meninggal dunia.

Selanjutnya, Bripda M Azmi pun melapor ke Kanit Intel untuk meminta pertolongan. Karena seruan agar Abdul Rahman menghentikan aksinya tidak digubris, akhirnya polisi melakukan tindakan terukur terhadap pelaku.

Setelah berhasil melumpuhkan dan dilakukan penggeledehan, didapati Abdul Rahman membawa beberapa atribut yang bersimbol logo ISIS, sepucuk surat, 1 bilah pedang samurai, dompet berisi uang dan kunci sepeda motor

Sementara itu, pelaku juga mengenakan kaos hitam bertuliskan “flames of war, fighting has just begun,”.

IMG 20200601 234523

Hingga sampai saat ini, kasus tersebut tengah ditangani oleh unit Densus 88 Antiteror dan Polres Hulu Sungai Selatan. [NOE]

Pos terkait