Pelantikan Berpotensi Jadi Cluster Covid Baru, Pejabat Pemprov Jatim Kudu Tanggung Jawab

  • Whatsapp
20200603 085628
Pengamat dan praktisi hukum Jawa Timur Mun Arif

Inisiatifnews.com – Pengamat dan praktisi hukum Jawa Timur Mun Arif angkat bicara terkait viralnya potensi cluster baru Covid-19 di Jawa Timur, yakni cluster Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim. Ia menyayangkan, potensi cluster baru Covid-19 justru muncul dari birokrasi Pemprov Jatim.

Karenanya, pejabat yang berwenang dimintanya tanggung jawab atas kejadian ini. Apalagi Jawa Timur lagi parah-parahnya menempati urutan nomor satu nasional penambahan kasus positif Covid-19.

Bacaan Lainnya

“Pejabat terkait harus tanggung jawab. Kasihan gubernurnya bagus kok punya perangkat seperti ini?” ungkap alumnus Ponpes Darul Ulum Jombang, Jawa Timur ini.

Publik Jawa Timur tengah dikagetkan dengan munculnya cluster baru Covid-19, yaitu cluster pelantikan Pengawas Sekolah dan Kepala Sekolah se-Jawa Timur, yang diselenggarakan pada tanggal 20 Mei 2020 lalu di kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Jawa Timur. Beredar undangan pelantikan yang ditandatangani oleh Kepala BKD, bukan atas nama Gubernur.

Viral juga foto peserta pelantikan foto bersama tanpa masker dan dempet-dempetan, tidak menjaga jarak fisik dan jarak sosial. Setelah dikabarkan 1 orang peserta pelantikan asal Mojokerto meninggal dunia, seluruh peserta pelantikan bergelombang yang berjumlah 240 menjalani rapid test.

Menurut Mun Arif, Kepala Badan Kepegawaian Daerah dan Kepala Dinas Pendidikan hendaknya dievaluasi. Kalau perlu dicopot. Publik marah sehingga berpotensi memicu kerawanan sosial, maka lebih baik semua pejabat yang terkait dengan pelantikan dievaluasi.

“Harus tanggung jawab dan dievaluasi. Kalau perlu dicopot. Artinya edaran BKN dilanggar, PSBB dilanggar, semua dilanggar,” pungkas Wakil Ketua Bidang Hukum Barisan Muda Partai Amanat Nasional (PAN) Jawa Timur ini.

Menjawab kabar ini, Kepala Dinas Pendidikan Jatim Wahid Wahyudi menyatakan, pihaknya mendapat info bahwa peserta yang meninggal tersebut belum diketahui penyebabnya. Apakah terjangkit Covid-19 atau sakit lambung sepertiĀ  keluhan awalnya.

“Yang bersangkutan berasal dari Mojokerto. Sebelum pelantikan sudah dilakukan protokol kesehatan yang ketat, yakni cuci tangan dengan sabun, pakai masker, menjaga jarak dan membawa hand sanitizer. Saya akan minta agar dilakukan rapid test kepada seluruh pengawas dan kepala sekolah yang ikut pelantikan tersebut,” ungkap Wahid, Selasa (2/6). (INI)

Pos terkait