Datangi Dishub Kabupaten Bogor, BEM UNIDA Bahas Kemacetan di Ciawi

  • Whatsapp
BEM UNIDA Bogor
BEM dan KM Universitas Djuanda Bogor bertemu dengan pejabat di Dinas Perhubungan Kabupaten Bogor pada hari Rabu 9 September 2020. [foto : Andi Khiyarullah]

Bogor, Inisiatifnews.com – Sejumlah aktivis Mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa dan Keluarga Mahasiswa (BEM KM) Universitas Djuanda (UNIDA) Bogor menyambangi kantor Dinas Perhubungan Kabupaten Bogor pada hari Rabu (9/9).

Dalam kunjungannya itu, mereka menyampaikan beberapa kajian terkait dengan mengapa kawasan Ciawi ke Puncak Bogor selalu macet, dan bagaimana solusi penanggulangannya.

Salah satu alasan mengapa kawasan Jalan Ciawi menuju Puncak Bogor selalu macet, Presiden Mahasiswa Universitas Djuanda, Andi Khiyarullah mengatakan, bahwa persoalannya adalah bahu jalan, yang ia sebut sebagai hambatan samping jalan.

“Hambatan samping merupakan aktivitas samping jalan yang sering menimbulkan pengaruh yang cukup signifikan. Tingginya aktivitas samping jalan berpengaruh besar terhadap kapasitas dan kinerja jalan pada suatu wilayah,” kata Andi dalam kajiannya yang diterima Inisiatifnews.com, Kamis (10/9/2020).

Hambatan samping ini dikatakan Andi, terdapat banyak aktifitas perniagaan masyarakat yang tidak tertib aturan. Ada sebagian dari mereka memanfaatkan baju jalan sehingga menurunkan tingkat kelancaran aktivitas lalu lintas dan mengakibatkan kemacetan.

“Pasar Ciawi sebagai pusat perkumpulan yang padat, merupakan area titik perkumpulan banyak orang-orang. Dengan banyaknya aktifitas di suatu titik akan banyak tranportasi bergerak untuk menuju dan pergi di titik tersebut,” jelasnya.

Selanjutnya masih di persoalan pasar Ciawi. Andi menyebut bahwa posisi pasar juga sangat berpengaruh terhadap tingginya potensi kemacetan di sana.

“Pasar yang terletak di persimpangan jalan antara arah Puncak, arah Sukabumi, arah
Tol dan arah Bogor kota sehingga banyaknya mobilitas di sekitaran pasar Ciawi. Hal ini menyebabkan banyaknya kendaraan yang akan berlalu lalang untuk perpindahan, mengingat Ciawi merupakan jalan alternatif menuju Puncak, Bogor dan Sukabumi,” paparnya.

Di sisi lain, jumlah angkutan umum yang “ngetem” sembarangan juga menjadi penyumbang macetnya kawasan tersebut.

“Angkutan Umum yang masih sembarangan dalam mengambil atau menunggu penumpang, dalam hal ini kami melihat banyak Angkutan Umum yang bermuatan
barang ataupun bermuatan penumpang sudah mengabaikan aturan lalu lintas, seperti dilarang singgah dan lain sebaginya,” imbuhnya.

IMG 20200910 WA0073
Banyak angkutan umum yang memenuhi jalan dan menjadi sumber kemacetan di kawasan Ciawi, Bogor, Jawa Barat. [foto : Andi Khiyarullah / BEM UNIDA Bogor]

Tidak hanya itu saja. Masih di dalam kajiannya itu, Andi juga menyebut bahwa volume jalan juga ikut berpengaruh terhadap tingginya angka kemacetan di sana.

“Jalan Raya Puncak merupakan jalan nasional yang menghubungkan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur yang melewati dua Kecamatan, yakni
Kecamatan Megamendung dan Kecamatan Cisarua. jalur ini terkenal dengan banyaknya tempat wisata yang menjadi destinasi andalan bagi kota di sekitarnya, selain itu terdapat beberapa titik daerah perdagangan dan pasar tradisional,” paparnya.

Oleh karena itu, Andi bersama dengan elemennya itu memberikan kritikan yang bersifat konstruktif kepada Pemkab Bogor melalui Dinas Perhubungan.

“Kami selaku Akademisi Universitas Djuanda merekomendasikan solusi-solusi yang bisa diimplementasikan Dishub Kabupaten Bogor untuk menyelesaikan masalah kemacetan di Bogor terutama di daerah Ciawi,” tandasnya.

Rekomendasi tersebut terdiri antara lain ; mengoptimalisasi pelaksanaan tugas penyelenggaraan fungsi Dinas Perhubungan.

Dan mereka juga meminta agar Dinas Perhubungan berkoordinasi dengan dinas terkait lainnya untuk menertibkan para pedagang yang melanggar aturan, yakni menggunakan bahu jalan untuk berdagang.

“Berkordinasi dengan pihak yang berwenang untuk mendisiplinkan kembali PKL yang membuka lapak di sekitaran bahu jalan,” ucapnya.

Walaupun ia meminta agar para Pedagang Kaki Lima (PKL) ditertibkan, ia meminta agar Pemkot Bogor juga memberikan fasilitas pengganti kepada mereka untuk tetap bisa melanjutkan usaha mencari nafkah.

“Pembuatan titik perkumpulan baru terutama untuk menaungi PKL,” sambungnya.

Terakhir, Andi pun meminta kepada Dishub Kabupaten Bogor berkoordinasi dengan pihak penyedia jalan tol Bogor, Ciawi, Sukabumi (Bocimi) untuk mengoptimalkan penggunaan jalan tol tersebut. Serta melakukan penyediaan sarana dan prasarana sistem transportasi yang baik, khususnya di kawasan Ciawi.

“Berkordinasi dengan pihak yang berwenang untuk Optimalisasi penggunaan jalan tol Bocimi. Dan pembuatan sarana dan prasarana untuk penyedian sistem transportasi Kabupaten Bogor khususnya di daerah Ciawi,” pungkasnya.

Hanya saja, dalam pertemuan tersebut ia masih belum puas lantaran Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Bogor Ade Yana.

“Sedikit disesali karena belum ketemu dengan kadisnya, karena katanya ada urusan lain,” tutup Andi. [NOE]

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia