The Jokowi Center Minta MPU Sejukkan Hubungan Ulama di Aceh

  • Whatsapp
IMG 20201021 WA0015
Pertemuan ulama MPTT dengan Presiden Jokowi pada Tahun 2015 di Mesjid Babussalam - Meulaboh yang digelar oleh The Jokowi Center.

Jakarta, Inisiatifnews.com – Direktur Eksekutif The Jokowi Center, Teuku Neta Firdaus mengajak kepada seluruh jajaran MPU (Majelis Permusyawaratan Ulama) Aceh untuk berdialog dengan pengurus Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf (MPTT).

Menurut Teuku Neta, MPTT adalah kelompok pengajian zikir yang dipimpin oleh Abuya Amran Waly yang dalam pengajian tidak menyampaikan kepada jamaah, bahwasanya Nabi Muhammad itu Tuhan.

Bacaan Lainnya

“Tidak selayaknya MPU Aceh mengeluarkan fatwa sesat kepada MPTT. Lebih baik dan akan lebih sejuk jika mengajak bermuzakarah mencari titik temu,” kata Teuku Neta, Selasa (20/10/2020)

Teuku Neta menyatakan, dari tahun ke tahun, MPU menyatakan MPTT membawa ajaran sesat. Karena itu, dia mendorong MPU membuat muzakarah atau diskusi mencari bersama dimana kesesatan MPTT yang dimaksud. Demikian juga ada anggapan keberadaan MPTT merugikan pihak-pihak tertentu dan memelintir pernyataan teungku-teungku MPTT.

“Kami menolak kekekasan dan tindakan anarki seperti yang dialami jamaah MPPT di Kabupaten Aceh Barat Daya bulan lalu. Padahal semua itu bisa diselesaikan melalui musyawarah,” ujarnya.

Teuku Neta juga menyerukan kepada semua pihak untuk tidak menanam kebencian dan permusuhan antar sesama.

“Hindarilah permusuhan, karena itu salahsatu cara mendapatkan kebaikan, kita semua sudah lelah dengan berbagai macam konflik yang pernah terjadi di Aceh, mari sekarang kita beribadah dengan tenang,” imbuhnya.

Teuku Neta menyinggung tentang fatwa MUI Aceh Nomor 40 Tahun 2017 tentang kitab-kitab tauhid yang muktabarah di Aceh, dimana beberapa kitab tasawuf seperti kitab Fushus Alhikam dan
Futuhul makkiyah karangan Ibnu Arabi dan kitab Insan Kamil Syekh Karim Aljilli yang disebut kitab tidak muktabar yang dilarang dibaca dan diajarkan.

Untuk itu, pengurus MPTT-I mengirim surat kepada MUI Pusat dan Kemenag dengan jawaban dari MUI bahwa itu muktabar dam boleh dibaca dan diajarkan terutama bagi majelis Tareqat.

Sedangkan, jawaban Kemenag RI yakni kitab itu muktabar dan lazim dipelajari oleh ahlittariqah dan merekomendasikan untuk dibaca dan diajarkan.

“Jika tidak ada respons dari MPU Aceh untuk berdialog dengan MPTT, saya akan sampaikan hal ini kepada pemerintah pusat, dalam hal ini Sekjen kemenag RI,” pungkas Teuku Neta. []

PHP Dev Cloud Hosting

Pos terkait