Inilah Tips Terhindar dari Paham Radikal

  • Whatsapp
IMG 20210316 142238
Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Ahmad Yusuf Al Khakim.

Surabaya, Inisiatifnews.com – Tak sedikit kasus mahasiswa di Indonesia yang terpapar paham radikalisme. Hal itu disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya kurangnya pengawasan orang tua, kedua masih minimnya budaya literasi dan yang ketiga lingkungan atau pergaulan yang salah.

“Oleh karena itu sangat penting bagi mahasiswa memperbanyak wawasan melalui berbagai sumber baik buku ataupun rujukan orang, tokoh, sehingga tidak sempit dalam wawasan berpikir. Para mahasiswa juga mesti meningkatkan budaya literasi dengan mengasah tradisi membaca, menulis dan memecahkan permasalahan disekitarnya,” kata Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Ahmad Yusuf Al Khakim, Selasa (16/2/2021).

Bacaan Lainnya

Yusuf menyatakan bahwa para mahasiswa yang terpapar paham radikal biasanya merasa pengetahuan agama yang dimiliki adalah yang paling benar, sehingga apa yang dianggap berbeda dengannya itu salah.

“Jika budaya literasi minim, maka wawasannya juga sempit sehingga gampang terpengaruh oleh hal hal yang padahal itu keliru,” jelasnya.

Untuk meminimalisir terpaparnya mahasiswa oleh paham radikalisme di tingkatan perguruan tinggi, Yusuf berpendapat dan hal itu bisa dilakukan oleh para stakeholder yakni adanya bahan materi khusus tentang antisipasi paham radikalisme yang diberikan pada saat mahasiswa baru misal di momentum Ospek tiap tahunnya.

“Tentu materi itu harus disampaikan oleh pihak yang benar-benar kompeten dan professional. Sehingga para mahasiswa dapat memahami pola dan bahaya paham radikalisme. Dengan demikian, mahasiswa yang masuk di tahapan awal sudah mempunyai bekal / pondasi untuk mengantisipasi apabila di lingkungannya ada pihak yang mencoba menyebarkan paham radikalisme, hal itu bisa langsung di tangkal,” tegas mahasiswa Ilmu Komunikasi Unesa tersebut.

Selain itu terhadap perkembangan teknologi informasi yang cukup pesat saat ini menurut Yusuf juga harus diwaspadai, karena banyak kasus di mana orang ataupun oknum yang menggunakan internet sebagai media penyebaran paham radikalisme.

“Sehingga kita semestinya harus mampu atau dapat memfilter konten konten yang tersebar yang berisi propaganda dari kelompok radikal tertentu yang tak sesuai ideologi bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.

Sementara ketika ditanya perihal fokus arah kebijakan BEM UNESA yang baru sekitar satu bulan dilantik, Yusuf menjelaskan bahwa organisasi yang di pimpinannya tersebut akan fokus di isu tentang pendidikan. Apalagi di tengah situasi pendemic covid-19, menurutnya topik pendidikan sangatlah penting.

“Saya berharap dapat memberikan kontribusi dan pemikiran yang berguna bagi bangsa ini berkaitan dengan tantangan pendidikan yang terjadi saat ini dan kedepannya,” pungkasnya. [KLD]

Pos terkait