Uki Sayangkan SMA Bengkulu Keluarkan Siswinya yang Hina Palestina

  • Whatsapp
Dedek Prayudi
Dedek Prayudi.

Inisiatifnews.com – Direktur eksekutif Centre For Youth And Population Research (CYPR), Dedek Prayudi menyayangkan kebijakan pihak sekolah SMA di Bengkulu yang memgeluarkan seorang siswinya karena membuat konten video penghinaan terhadap Palestina.

“Amanat konstitusi pasal 31 UUD 1945: pendidikan adalah hak setiap WN (warga negara -red), pendidikan dasar adalah kewajiban setiap WN,” kata pria yang karib disapa Uki itu, Selasa (18/5/2021) malam.

Bacaan Lainnya

Kebijakan mengeluarkan siswi tersebut merupakan pelanggaran hal pendidikan yang dilakukan oleh pihak sekolah.

“Sudah jelas bahwa anak ini telah dirampas haknya oleh pihak sekolah dengan sewenang-wenang,” ujarnya.

Bagi mantan juru bicara Partai Solidaritas Indonesia, apa yang dilakukan oleh sekolah justru menunjukkan sikap sebagai seorang pendidik yang kurang baik.

“Ini adalah sebuah kebodohan mutlak yang dilakukan oleh pendidik,” imbuhnya.

Respon Uki tersebut mendapatkan reaksi dari beberapa netizen. Salah satunya adalah pemilik akun @gonapnap. Ia menilai bahwa kebijakan sekolah sama sekali bukan solusi untuk memberikan pendidikan dan pembelajaran yang baik bagi siswinya yang mereka anggap nakal.

“Benar-benar mengecam apa yang dia lakukan, tapi dikeluarkan dari sekolah bukan solusi yang solutif. Dia butuh didikan lebih bukan malah dikeluarkan dari bangku pendidikan,” tulis Gowi.

Selain itu, pemilik akun @arsicha_sari juga menyampaikan hal senada. Ia tak sependapat dengan kebijakan pihak sekolah yang harus mengeluarkan siswinya itu.

“Sekolah menilai si anak telah mempermalukan instansinya dgn video viral. Kalau konsekuensinya sampai dikeluarkan, sy setuju itu keterlaluan & bisa menghilangkan kesempatannya meraih pendidikan lanjut. Kemungkinan dibully & dialienasi jg lbh besar. Turut berduka dgn keputusan ini,” tulis Nisa.

Dikutip dari Suara.com, bahwa Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VIII Kabupaten Bengkulu Tengah, Adang Parlindungan membenarkan kabar tersebut. Menurutnya, kebijakan pengeluaran siswi di Bengkulu tersebut karena pihak sekolah yang telah melakukan rekapitulasi pelanggaran yang dilakukan peserta didiknya itu.

“Keputusan ini kami ambil karena pihak sekolah sudah mendata tata tertib poin pelanggaran MS. Jadi, dia sudah melampaui poin pelanggaran tata tertib dari ketentuan yang ada,” kata Adang yang juga dirilis oleh Antara.

Kemudian, poin pelanggaran MS itu juga sudah dibahas dalam rapat Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VIII Kabupaten Bengkulu Tengah dengan pihak sekolah. Hasil rapat memutuskan MS dikembalikan ke orangtua.

Selain Dinas Cabang Pendidikan Wilayah VIII Bengkulu Tengah dan pihak sekolah, rapat tersebut juga dilaksanakan di Polres Bengkulu Tengah yang dihadiri oleh Kapolres Bengkulu Tengah, Waka Polres Bengkulu Tengah, Kasat Intel Polres Bengkulu Tengah, Kasat Reskrim Polres Bengkulu Tengah, Ketua Komite, FKUB, Badan Kesbangpol Bengkulu Tengah, Kemenag Bengkulu Tengah, Komisi I DPRD Bengkulu Tengah.

MS siswi SMA bengkulu tengah
MS bersama orang tuanya usai mediasi di Polres Bengkulu Tengah.

Motif Iseng

Perlu diketahui, bahwa MS yang merupakan salah satu siswi di SMA di kawasan Bengkulu Tengah viral setelah membuat video yang bernada penghinaan terhadap Palestina. Video tersebut dia unggah di akun media sosial TikTok.

Berdasarkan keterangannya, MS mengaku membuat video berdurasi 8 detik tersebut hanya karena iseng dan ingin mengikuti tren kekinian saja.

“Saya hanya iseng dan bercandaan saja bukan maksud berbuat apa-apa dan saya juga tidak menyangka bisa seramai ini,” kata MS dalam pengakuannya.

Tak dijerat UU ITE

Sementara itu, Kapolres Bengkulu Tengah, AKBP Ary Baroto mengatakan, bahwa perkara MS sudah selesai dan tidak dilanjutkan ke tahapan hukum lebih lanjut.

Pasalnya, saat dilakukan mediasi, MS telah dimaafkan dan semua pihak bersepakat tidak membawa kasus itu ke ranah hukum.

“Penyelesaian kasus ini kita lakukan dengan restorative justice, yang mana setiap penyelesaian permasalahan tidak selalu diselesaikan dengan pidana,” kata AKBP Ary.

[REL]

Pos terkait