Sempat Diancam Boikot, Elektabilitas PDIP Jawa Barat Tetap Teratas

Dedi Kurnia Syah
Dedi Kurnia Syah.

BANDUNG, Inisiatifnews.com – Indonesia Political Opinion (IPO) kembali mempublikasikan hasil survei di Provinsi Jawa Barat. Paparan hasil survei IPO menunjukkan elektabilitas PDIP tetap kokoh dan memuncaki posisi teratas meskipun sempat diterpa isu ujaran kebencian Arteria Dahlan.

Kasus dugaan ujaran kebencian soal penggunaan bahasa sunda yang sempat diutarakan kader PDIP Arteria Dahlan rupanya tidak berdampak ke PDIP Jawa Barat. Hal itu terlihat dari rilis survei yang dilakukan IPO, pada Kamis (10/3/2022) pagi.

Bacaan Lainnya

Dalam simulasi terbuka, responden penelitian IPO ditanya jika hari ini dilaksanakan pemilihan DPR RI, partai atau calon darai partai mana yang akan di pilih di antara partai berikut? Tercatat PDIP mendapat respon keterpilihan sebesar 15.7 persen, terpaut lebih tinggi dari Gerindra yang hanya 10.2 persen, lalu PKS 9.3 persen.

“Tingkat keterpilihan PDIP teratas, dan ini membuktikan betapa kokohnya partai ini, tidak banyak partai yang mampu menahan laju isu sensitif seperti ujaran kebencian, apalagi berkaitan dengan identitas kultural masyarakat. Tetapi PDIP berhasil menjadi partai mapan yang kuat, sekalipun dihadapkan pada persoalan besar,” terang Direktur eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah dalam rilisnya secara virtual, Kamis (10/3).

survei IPO
Hasil survei IPO untuk memotret elektabilitas partai politik di Jawa Barat. Data berdasarkan hasil survei 1-7 Maret 2022.

Jika membandingkan hasil Pemilu 2019, Dedi menemukan hanya PDIP yang memiliki tren peningkatan. Sementara partai lainnya alami penurunan, termasuk yang unggul saat Pemilu 2019 lalu yaitu Gerindra dan PKS.

“Terlihat jelas jika PDIP menjadi satu-satunya bergerak naik di saat semua Parpol di Jawa Barat menurun, ini bisa saja karena faktor tata kelola dan kepemimpinan ketua Parpolnya. Tidak dapat dihindari ada faktor tokoh, dan itu tentu saja Ono Surono sebagai ketua,” jelasnya.

Kemudian, Dedi juga menjelaskan bahwa selain faktor kepemimpinan ketua PDI Jawa Barat, ada kemungkinan lain semisal faktor kinerja pemerintah pusat yang juga didominasi oleh PDIP. Di antaranya adalah bertambahnya pengetahuan publik atas kinerja Presiden Joko Widodo.

“Telaah kami, peningkatan ini terjadi karena bertambahnya pengetahuan publik atas kinerja Presiden yang mengemuka, terutama terkait pembangunan insfrastruktur dan terus bergulirnya vaksinasi. Bukan tidak mungkin itu berdampak ke perolehan suara Parpol di Jawa Barat,” papar Dedi.

Senada dengan peningkatan elektabilitas PDIP. Ono Surono sebagai ketua PDIP Jawa Barat juga mengalami peningkatan popularitas dan elektabilitas. Terlebih sikap Ono yang cepat merespon ujaran kebencian yang dilakukan rekan separtainya Artedia Dahlan.

“Faktor responsifitas Ono Surono juga dapat memicu kepercayaan publik pada PDIP, dan terbukti meskipun gencar sekali propaganda politik menyudutkan PDIP, faktanya publik semakin percaya pada PDIP, ini tentu menarik,” pungkas Dedi.

Diketahui, survei IPO digelar pada 1-7 Maret 2022 menggunakan metode multistage random sampling. Dengan total wawancara dilakukan kepada 880 responden. Margin of error sebesar 2.90 persen, akurasi data mencapai 95 persen asumsi simple random sampling.

Pos terkait