Kedai Kopi Djuned di Semarang Usung Tema Ala Main ke Rumah Nenek

  • Whatsapp
Kopi Djuned
Suasana di kedai Kopi Djuned di bilangan Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. [foto : Ruang Berkembang / Semarang]

Ungaran, Inisiatifnews.com Salah satu upaya kreatif untuk membantu pertumbuhan ekonomi kerakyatan, anak muda bernama Muhammad Rifky membuka kedai kopi dengan mengangkat konsep unik di kawasan desa Klepu, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Dalam laporan kontributor Inisiatifnews.com Semarang, Rifky mengatakan bahwa konsep yang diangkat di kedai miliknya adalah bak berkunjung ke rumah nenek. Dengan kedai bernama Kopi Djuned itu, Rifky ingin para penikmat kopinya seakan bernostalgia dengan nusana jaman dulu nan klasik. Selain bangunan ala rumah tua dari bahan kayu model joglo, cara penyajian kopinya pun terkesan jadul seperti menggunakan teko ala tahun 80-an.

“Diharapkan dapat mengantarkan pelanggan dan penikmat kopi bernostalgia bersama keluarga dan berasa di rumah mereka sendiri,” kata Rifky, Selasa (8/9/2020).

Selain itu, kedai kopi yang dibuka sejak bulan Februari 2018 tersebut menggunakan nama kakeknya, yakni Djuned sebagai brand yang diharapkan menjadi berkah tersendiri baginya.

“Saya ingin megembalikan rumah ini pada masa hidup kakek saya, yaitu sebagai tempat perniagaan. Karena kakek saya dulu sebagai pedagang rempah-rempah dan hasil bumi lainnya,” jelasnya.

Sekedar informasi, bahwa kedai kopi yang berlokasi di tengah kawasan industri padat karya di Kabupaten Semarang ini memiliki usia yang sangat tua. Bangunan rumah joglo tersebut perkirakan dibangun antara tahun 1961 sampai 1965.

“Terkait bangunan rumah atau tempat ini sendiri cukup tua, dibangun sekitar tahun tahun 1961-1965 merujuk pada usia pernikahan kakek saya dan mulai menempati bangunan rumah ini dengan kondisi rumah baru, kemudian sebelum saya memutuskan menjadikan rumah ini sebagai kedai kopi,” jelasnya.

Bahkan Rifky mengisahkan bahwa sebelum pihaknya memutuskan untuk menjadikannya sebagai kedai kopi, rumah tersebut pernah dikosongkan selama 45 tahun.

“Pernah dikosongkan atau tidak dihuni oleh keluarga saya sekitar 45 tahun mulai dari tahun 1973 sampai 2018, di mana dalam tahun itu bangunan peninggalan kakek ini hanya digunakan sebagai tempat lumbung padi dan menyimpan hasil bumi lainya,” imbuhnya.

WhatsApp Image 2020 09 08 at 13.03.21 1
Sajian kopi di Kedai Kopi Djuned [Foto : Ruang Berkembang / Semarang].

Selain kopi, Rifky juga menyediakan menu lainnya kepada para pelanggan di Kedai Kopi Djuned tersebut. Antara lain ; wedang jahe, wedang uwuh. Kemudian ada juga makanan dan cemilan khas hasil bumi ala-ala pedesaan. Ada juga roti bakar dan kulit krispi.

Selain mendorong sajian untuk memperkuat konsep kedai, ia berharap rempah-rempah yang jadi salah satu menu di kedainya itu bisa menjadi bagian identitas dari kedai Kopi Djuned miliknya.

Terakhir, Rifky menyampaikan bahwa kedai miliknya itu tidak sekedar dijadikan untuk tempat ngopi dan nongkrong bebas semata. Namun tak jarang beberapa kegiatan diskusi dan memperkaya literasi bagi anak-anak muda juga sering digelar di sana.

“Tujuan awal Kopi Djuned berada. Bukan hanya tempat ngopi saja tapi menjadi rumah yang dapat menampung siapapun mereka. Dan alhamdulilah beberapa hal sudah terjadi diantaranya menjadi tempat literasi dan diskusi juga menjadi wadah temen-temen yang mempunyai potensi di bidang seni, diantarnya musisi lokal Kabupaten Semarang kita kasih ruang untuk menyalurkan bakat dan potensi, juga acara-acara literasi yang sama-sama membangun untuk berkembang,” tutupnya. [NKH/NOE]