Melalui Gerakan Suluh Kebangsaan, Prof Mahfud Tak Ingin Indonesia Porak Poranda

  • Whatsapp
mahfud md dan gerakan suluh kebangsaan di madura
Prof Mahfud MD bersama para cendekia dan kiyai usai kegiatan Gerakan Suluh Kebangsaan di Pondok Pesantren Annuqayah. [foto : istimewa]

Inisiatifnews – Gerakan Suluh Kebangsaan yang diusung mantan Ketua Mahkamah (MK) Mahfud MD dkk terus meluas. Kini giliran Sumenep, Pulau Madura yang disambangi.

Kehadiran Mahfud di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk, Sumenep, Madura, Jawa Timur disambut Lagu Syubbanul Wathon, mars Nahdlatul Ulama (NU). Selain Mahfud MD, tokoh nasional lain yang hadir dalam sarasehan ini adalah Penyair Celurit Emas Zawawi Imron, KH. A. Malik Madani dan Prof KH Abd. A’la, mantan rektor UIN Sunan Ampel Surabaya sekaligus salah satu pengasuh Ponpez Annuqayah. Wakil Bupati Sumenep, Achmad Fauzi dan Wakapolres Sumenep, Kompol Sutarno juga nampak hadir dalam acara ini.

Bacaan Lainnya

Sejumlah tokoh masyarakat Madura meliputi perwakilan dari tokoh pemerintahan, akademisi, para kiai, perwakilan organisasi kemasyarakatan, dan perwakilan dari tokoh lintas agama antusias mendengarkan pemaparan Mahfud.

Mahfud yang juga Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan menjelaskan, gerakan ini bukanlah gerakan politik praktis atau politik rendahan. Suluh kebangsaan adalah gerakan politik tingkat tinggi (high politic).

Sebagai gerakan politik tingkat tinggi, menurut Mahfud, salah satu tujuan utamanya adalah ingin merawat kemajemukan di Indonesia. “Saya, kita semua tak ingin Indonesia porak poranda karena semakin tergerusnya nilai-nilai toleransi yang dipicu oleh persoalan politik praktis,” ungkap Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) saat acara Sarasehan Gerakan Suluh Kebangsaan “Mengembangkan Budaya Toleran ala Masyarakat Madura” di Sumenep, Madura, Senin (04/02/2019).

Mahfud menjelaskan, kegiatan Sarehan Kebangsaan ini sudah yang ketujuh kali dengan tema berbeda-beda. Madura menjadi salah satu tempat karena Indonesia perlu belajar dari Pulau ini yang masih dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi.

“Diharapkan peserta acara setelah selesai menjadi seperti petromax, yang bisa memberikan pencerahan kepada sekitar,” ujar anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) ini.

Untuk diketahui, Gerakan Suluh Kebangsaan dikemas dalam diskusi kreatif dan interaktif ini secara perdana berlangsung di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tujuan gerakan suluh kebangsaan adalah untuk mengajak masyarakat membangun kesadaran berbangsa, dan bernegara yang berbhinneka tunggal ika dan meningkatkan toleransi dan memperluas esensi keadilan sosial di Indonesia.

Awalnya, gerakan ini digagas Mahfud MD bersama putri Presiden Gus Dur Alissa Wahid, Roni Beny Susetyo, dan Ajar Budi Kuncoro yang prihatin dengan maraknya potensi perpecahan dari berbagai kelompok bangsa. Seperti maraknya politik identitas, saling serang antar kelompok dan saling mengklaim kebenaran. Selain itu, gerakan ini merespon kondisi yang tengah berlangsung saat ini yang kecenderungannya adalah kontestasi untuk mencari menang dan bukan mencari yang baik. Sementara diam-diam radikalisme menumpang dan mengadu domba melalui produksi berita-berita hoax.

Gagasan gerakan suluh kebangsaan mendapatkan dukungan sangat besar dari para tokoh seperti Buya Syafii Maarif, KH Mustofa Bisri (Gus Mus), Ibu Nyai Shinta Nuriyah, Sri Sultan HB X, Romo Magnis Suseno, Prof Komarudin Hidayat, Prof John Titaley, Budayawan Garin Nugroho, Wartawan Senior Rikard Bagun, aktivis gerakan perempuan Siti Ruhaini Dzuhayatin dan tokoh-tokoh lainnya. (FQ)

Pos terkait