Untuk Ulama Pendukung 01 & 02, Gus Sholah: Rekatlah Kembali, Usai Pilpres Harus 00

  • Whatsapp
IMG 20190408 005756

Inisiatifnews – Pengasuh Ponpes Tebuireng KH Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) mengajak ulama, habaib, kiai dan cendekiawan yang terbelah ke dalam pendukung capres 01 dan 02 untuk merekatkan kembali ikatan yang sempat renggang karena Pilpres 2019 ini.

“Tujuan acara ini untuk mengingatkan semua jamaah menjadi kelompok netral atau 00,” imbau Gus Sholah dalam Halaqah Kebangsaan di Gedung Yusuf Hasyim, Ponpes Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Minggu (07/04/2019).

Bacaan Lainnya

Diakui Gus Sholah, kegiatan halaqah ini adalah gagasan Kiai Mahfudz Sobari dari Mojokerto. Kiai Mahfudz mengajaknya mengundang para ulama dan kiai baik dari pendukung capres 01 maupun 02.

Para kiai-kiai pendukung dua kubu ini, kata Gus Sholah, bisa saja terlalu semangat dalam mendukung capresnya. Selain itu, banyak juga pendukung yang melakukan hal kurang cocok untuk memenangkan jagoannya.

Sejalan dengan proses Pilpres ini, mantan Wakil Ketua Komnas HAM yang juga adik kandung Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengingatkan maraknya berbagai berita hoaks yang berpotensi memecah belah umat. Karenanya, dia meminta pendukung dan simpatisan tidak ikut menyebarkannya dan diharapkan bisa menggunakan bahasa yang santun dan tidak memancing.

“Hoaks kini seakan menjadi makanan sehari-hari. Masyarakat dengan mudah tanpa berpikir menerima pesan yang diterima melalui twitter, facebook dan tidak pernah untuk diperiksa lebih jauh benar atau tidaknya,” sebutnya

Apalagi kedua kelompok juga merasa benar dengan argumen masing-masing. Kedua kelompok juga mengaku bertindak untuk kepentingan Islam dan bangsa, serta untuk kepentingan organisasi Islam. Semestinya, di sisa masa jelang 17 April dan setelahnya, semua pihak menahan diri.

Gus Sholah menegaskan, persatuan Indonesia bisa terwujud apabila umat Islam bersatu. Dalam sejarah bangsa, umat Islam dan tokohnya berhasil menjaga persatuan. Misalnya, saat para tokoh Islam menyetujui penghapusan kata Syariat Islam di Piagam Jakarta. Saat itu, umat Kristen dari Timur Indonesia mengaku tidak akan bergabung jika poin tersebut tidak dicoret, sehingga tanpa ragu tokoh Islam mencoret poin ini.

Selain itu, saat ada resolusi jihad pada Oktober 1945, ulama-ulama mampu mendorong pemuda di Jatim untuk berjuang membantu tentara Indonesia menghadapi sekutu. Juga tokoh Islam yang meyakinkan Presiden Soeharto tentang Undang-undang Perkawinan hingga Munas Alim Ulama NU di Situbondo pada 1983 yang menerima Pancasila sebagai satu-satunya asas, serta sejumlah peristiwa sejarah lainnya.

Karena itu, Ponpes Tebuireng mencoba merekatkan kembali hubungan yang mulai merenggang antar tokoh dan kelompok umat Islam. “Renggang tapi tidak sampai pecah ya. Kami ingin merekatkan kembali, terutama setelah selesai Pilpres. Allah telah menentukan pemimpin terpilih untuk Pilpres 2019. Karena itu saya berharap, seluruh umat dapat menerima segala ketentuan Allah. Sebab, persatuan Indonesia sangat bergantung pada keberadaan Islam,” kata Gus Sholah.

Ia meminta masyarakat datang menggunakan hak pilihnya 17 April nanti. Gus Sholah juga mengimbau semua pihak menerima siapapun yang terpilih unyuk kemudian didukung bersama. “Pihak yang terpilih tidak bangga berlebihan serta yang tidak terpilih harus legowo dan ikhlas,” tandasnya.

Wasit Jangan Ikut Main

Selain pengasuh Gus Sholah, hadir dalam halaqoh tersebut pendiri dan pengasuh pondok pesantren Nurul Ihsan Bululawang Malang, KH Lutfi Abdul Hadi, Kiai Mahfudz Sobari dari Mojokerto, KH Hasyim Karim Jombang, KH Luthfi Abdul Hadi dari Malang, dan KH Fahmi Hadzik dari Jombang serta sejumlah Kiai lainnya.

Dari jajaran pemerintah, tampak Danrem 082 Citra Panca Yudha Jaya Kolonel Arm Ruly Chandrayadi, Dandim 084 Jombang Letkol Beni Sutrisno, Kabid Hukum Polda Jatim AKBP Arnapi dan Kapolres Jombang AKBP Fadli Widiyanto.

Seruan agar wasit pemilu tidak berpihak dan menjaga netralitas juga menggema dalam halaqoh ini. Salah satunya dilontaran KH Luthfi Abdul Hadi dari pondok pesantren Nurul Ihsan Bululawang Malang. “Kalau ‘wasit’ sudah ikut bermain, itu situasi yang sangat berbahaya,” imbau Kiai Luthfi Abdul Hadi.

Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jatim, Ismail Nachwu menyerukan hal yang sama. Karenanya dia mengapresiasi Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang mengeluarkan Telegram Rahasia berisi edaran agar polri netral dalam Pileg dan Pilpres 2019. “Saya senang ada edaran Pak Kapolri soal netralitas polri. Terus terang saya melihat awalnya polri tidak netral. Tapi dengan edaran kapolri, itu melegakan. Mudah-mudahan ini benar, agar tidak ada dusta di antara kita,” tegasnya.

Kepala Bidang Hukum Polda Jawa Timur Kombes Pol Arnapi menyakinkan aparat netral dalam pemilu. Ia juga meminta semua pihak, terutama para Kiai untuk ikut menangkal hoaks. “Berita kebohongan terus menerus, ini kami khawatirkan terkait keamanan. Untuk itu, keamanan tidak terlepas dari ulama, umaro, dan juga masyarakat, tiga komponen ini saling terkait. Kalau ini solid, bergabung, bersatu padu, memahami nilai kebangsaan, pemilu ini bisa berlangsung aman, damai,” ungkapnya. (FMV)

PHP Dev Cloud Hosting

Pos terkait