Mahfud MD
Mahfud MD saat dialog di Universitas Alma Ata, Yogyakarta. [foto : Istimewa]

Inisiatifnews – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof. Mahfud MD berharap setelah ada keputusan gugatan sengketa hasil Pilpres pada 28 Juni 2019, semua kubu harus menerima apapun putusan MK.

“Masing-masing pasangan calon untuk menerima keputusan tersebut agar roda pemerintahan bisa tetap berjalan,” imbau Mahfud MD saat Dialog Kebangsaan dan Buka Bersama dengan tema Momentum Membangun Resolusi Indonesia Baru bersama Universitas Alma Ata, Yogyakarta, Rabu (29/05/2019).

space iklan
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Selain Mahfud MD, tampil sebagai pembicara dalam diskusi ini, Rektor Universitas Alma Ata Prof. Hamam Hadi dan Pengamat Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) Abdul Gaffar Karim. Selain itu, hadir juga sejumlah rektor dan civitas akademika Universitas Alma Ata, UII, UGM, Universitas Nahdlatul Ulama, universitas-universitas lain di Yogyakarta, ulama dan Kiai Yogyakarta, serta ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi tersebut.

Kembali ke Mahfud, harapan rekonsiliasi dan semua kubu saling menerima bukan tanpa dasar. Mengingat kondisi yang sama juga terjadi pada Pilpres 2009 di mana masing-masing paslon yakni Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto dan Wiranto-Jusuf Kalla langsung menerima keputusan MK yang berarti menerima kekalahan.

Mahfud yang juga Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan (GSK) ini menceritakan pengalamannya sebagai Ketua MK pada tahun 2009, capres petahana yakni Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga dituding berlaku curang dalam Pilpres kala itu. Sehingga paslon lainnya mengajukan gugatan ke MK.

Baca juga :  Mahfud MD Pernah Batalin UU BHP Yang Berpotensi Ancam Kelangsungan Ponpes

“Tahun 2009 itu, Mahkamah Konstitusi dituding sebagai Mahkamah Kalkulator, dituding sudah diatur oleh Presiden SBY waktu itu. Seminggu sebelum putusan MK, itu demo setiap hari, tapi kita jalan saja, kemudian kita ingat tanggal 12 Agustus tahun 2009, jam 4 sore saya mengetok palu, bahwa sesudah memeriksa dengan seksama kami memutuskan bahwa Pak SBY tetap menang, itu jam 4 sore,” cerita Mahfud.

Mahfud lalu bercerita, sikap dua pasangan lain saat itu yakni Megawati dan Jusuf Kalla langsung memberi selamat.

“Jam setengah lima Bu Megawati yang berpasangan dengan Prabowo dengan sikap kenegarawannya bilang dari kediamannya menerima putusan MK, karena itu sudah keputusan hukum. Pak Jusuf Kalla waktu itu yang berpasangan dengan Wiranto juga menyatakan menerima, akhirnya saat itu juga ketegangan mereda, dan besoknya situasi negara ini berjalan normal,” ungkap Mahfud.

Baca juga :  Mahfud MD Pernah Batalin UU BHP Yang Berpotensi Ancam Kelangsungan Ponpes

“Saya juga menduga begini nanti, tanggal 28 Juni Insyaallah akan terjadi hal yang sama ketika salah satu dinyatakan kalah. Rakyat akan tenang kalau seperti ini,” harap Mahfud.

Setelah acara diskusi tersebut, Mahfud bersama para rektor dan Kiai di lingkungan Yogyakarta melakukan seruan perdamaian setelah Pemilu 2019. Adapun seruan tersebut berisi tujuh poin imbauan kepada semua kubu dan pihak yang terlibat dalam kontestasi politik kemarin untuk pertama, tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Kedua, menahan diri dari melontarkan pernyataan-pernyataan yang dapat memperkeruh suasana dan kontroversi di masyarakat.

Ketiga, menggunakan cara-cara damai dan konstitusional dalam merespon ketidakpuasan atas hasil pemilu. Keempat, menerima dan mematuhi keputusan apapun dari MK sebagai lembaga negara yang berwenang membuat keputusan dan harus dijunjung tinggi kehormatannya.

Kelima, mengembangkan dan menerapkan sistem demokrasi yang modern, beretika dan berke-Indonesiaan. Keenam, menghentikan nafsu untuk memproduksi, menyebarkan ataupun mengikuti berita-berita hoax karena dapat meruntuhkan peradaban dan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

Terakhir, melakukan rekonsiliasi dan menyatukan langkah untuk membangun Indonesia baru di bawah kepemimpinan Presiden Republik Indonesia terpilih. (FMM)

space iklan