Gerakan Suluh Kebangsaan Susun Strategi Lawan Radikalisme & Intoleransi

  • Whatsapp
suluh
Gerakan Suluh Kebangsaan di JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan. [foto : Inisiatifnews]

Inisiatifnews – Pemilihan umum Presiden-Wakil Presiden serta Pemilihan Legislatif, telah usai. Namun, saat ini masih menyisakan masalah, yakni terjadinya pembelahan yang sangat serius di masyarakat.

Hoax dan penggunaan politik identitas selama pemilu justru berpotensi semakin kuat dan besar. Intoleransi dan gerakan radikalisme semakin kentara dan menjadi ancaman bagi persatuan dan kesatuan bangsa.

Bacaan Lainnya

Untuk itulah, Gerakan Suluh Kebangsaan membuat perencanaan skenario untuk menghadapi radikalisme di Indonesia melalui diskusi kelompok dengan berbagai tokoh bangsa dan lintas stakeolder. Dengan adanya skenario itu, diharapkan dapat mengimbangi paham radikalisme yang semakin menyebar di tengah masyarakat.

“FGD diikuti tidak lebih dari 15 orang, pakar di bidangnya masing-masing untuk membuat skenario planning dalam rangka menghadapi radikalisme,” ujar Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan, Prof. Mahfud MD di Hotel JS Luwansa, Jakarta Selatan, Jum’at (16/08/2019).

Mahfud menyampaikan hal ini dalam acara focus group discussion (FGD) bertema ‘Scenario Planning: Indonesia‘. Forum yang diselenggarakan oleh Gerakan Suluh Kebangsaan ini membahas perlawanan dan gerakan melawan radikalisme yang akhir-akhir ini semakin kentara.

Selain Mahfud, acara turut dihadiri beberapa tokoh nasional, seperti Sekjen GSK Putri Presiden keempat KH. Abdurrahman Wahid Alissa Wahid, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng yang juga adik kandung Gus Dur KH. Salahuddin Wahid, mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Komarudin Hidayat, Guru Besar sekaligus Mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof. Amin Abdullah, Mantan Menteri Luar Negeri Alwi Shihab dan Deputi V Kantor Staf Presiden, Jaleswari Pramodhawardani.

Mahfud menerangkan, radikalisme merupakan suatu gerakan yang ingin mengganti sistem dan ideologi yang telah ada dan mapan serta telah disepakati bersama. Biasanya dilakukan dengan cara-cara yang tidak demokratis. Gerakan Suluh Kebangsaan menolak perubahan dengan cara seperti itu.

“Lantas apa kita antiperubahan? Tidak. Kita sadar perubahan harus dilakukan. Tapi perubahan kita adalah perubahan gradual. Sistem sudah mantap diperbaiki, berdasar sistem itu, yaitu sistem negara kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila,” tegas Dewan Pembina MMD Initiative ini

Perencanaan skenario dan strategi melalui diskusi forum ini juga dilakukan melihat kondisi bangsa belakangan ini. Masyarakat terbelah akibat persaingan politik beberapa waktu lalu. Kondisi itu, kata dia, membuat seakan-akan sesama anak bangsa bermusuhan hanya karena perbedaan cara pandang dan pilihan.

“Tentang agama, pilihan politik, lalu dianggap yang satu musuh yang harus disingkirkan. Nah itu sangat berbahaya dan inilah pupuk untuk menyuburkan pandangan radikal seperti itu sekarang banyak terjadi dan muncul tiba-tiba,” terangnya.

Mulai Masuk Berbagai Sendi

Mahfud mengaku melihat ada pesantren yang baru muncul dan tiba-tiba banyak pengikutnya, di antaranya di Wilayah Yogyakarta dan Magelang. Pesantren ini disebutnya sangat ekslusif. Bahkan saking tertutupnya, kelompok lain tidak boleh masuk. Hal yang diajarkan pun berbeda dengan yang sudah lazim diajarkan di  lembaga pendidikan keagamaan sekalipun.

“Tidak boleh orang hormat bendera, menyanyikan Indonesia Raya, menganggap burung garuda yang dibuat dari kayu itu patung yang dulu harus diperintahkan untuk dimusnahkan,” jelasnya.

Mahfud pun memaparkan maraknya penangkapan terhadap penganut Islam radikal di luar negeri. Penganut paham radikal itu, ingin menyasar Indonesia dengan menyuntikkan dana ke pondok pesantren yang ada di Indonesia.

“Sekarang ini di luar negeri itu sudah banyak penganut Islam radikal yang ditangkap tapi mereka mau lari ke sini, bawa uang mau mendukung pesantren, mau mendirikan lembaga pendidikan yang sangat jauh berbeda, sehingga di beberapa tempat itu ada lembaga pendidikan yang dulunya tidak dikenal tiba-tiba muncul dengan pengikut murid yang banyak dan terutup,” terang Mahfud.

Suburnya paham radikal di tengah masyarakat, terang Guru Besar Fakultas Hukum UII Yogyakarta ini disebabkan oleh orang-orang yang baru belajar agama atau orang belajar agama setengah-setengah. Sayangnya, banyak pula dari mereka yang baru belajar itu, marah kepada orang atau kelompok yang sudah toleran dan inklusif.

“Padahal ini yang dihadapi orang-orang yang sudah lebih 50 tahun belajar agama yang disalah-salahkan, dikafir-kafirkan,” herannya.

Ada juga segelintir orang yang baru belajar agama Islam, kemudian menganggap dirinya dapat membaca Al Quran dan berusaha untuk menafsirkannya, padahal ia tidak paham dengan ilmu apalagi dengan arti yang ditafsirkannya.

“Belajar cara cepat belajar Al Quran, baca tiga hari sudah bisa baca bahasa Arab, tapi tidak tahu maksudnya, tidak tahu nahwu shorofnya, tiba-tiba membuat tafsir di berbagai medsos,” ingat dia.

Susun Rencana & Strategi

Mahfud menyebut scenario planning ini dibikin khusus untuk menghadapi gerakan radikalisme yang mulai kentara di berbagai lini. Maka itu, lanjutnya, scenario planning ini dibuat dengan melibatkan banyak pihak, termasuk Badan Intelijen Negara (BIN) dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Nantinya hasil dari pemetaan akan disampaikan ke pemerintah untuk dilakukan tindakan lebih lanjut.

“Namanya skenario, kita akan menganalisis, sesudah scenario ada strategi, ini scenario dulu bagaimana petanya, makanya ini ada BIN memaparkan skenario yang ada. Lalu kita buat strateginya baru kita melangkah, negara seharusnya begini. Saya melakukan peran apa, bagian keamanan melakukan apa, bagian politik melakukan apa, hukum melakukan apa, itu nanti akan diketahui melalui skenario-skenario ini,” urai Mahfud. (FMB)

Pos terkait