nadirsyah hosen
Nadirsyah Hosen alias Gus Nadir. Twitter / @na_dis

Inisiatifnews – Hari ini Pimpinan KPK yang baru untuk periode 2019-2023 telah resmi terpilih berdasarkan rapat pleno pemilihan pimpinan KPK oleh DPR RI.

Dalam rapat pleno itu, lima orang capim yang lolos seleksi di DPR akan segera melenggang ke Kuningan untuk menduduki jabatan yang baru.

space iklan
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Mendapati kabar bahwa para pimpinan KPK baru telah terpilih, tokoh intelektual Nahdlatul Ulama (NU), Gus Nadirsyah Hosen pun menyampaikan selamatnya.

“Selamat untuk Pimpinan baru KPK. Pandai-pandailah berselancar di antara karang manuver dan ombak kepentingan politik,” kata Gus Nadir, Jumat (13/9/2019).

Ia pun mengingatkan kepada para pimpinan KPK yang baru itu, bahwa seluruh rakyat Indonesia menaruh harapan besar di pundak mereka untuk melakukan pemberantasan korupsi yang efektif di Indonesia.

“Harapan bangsa begitu besar terhadap KPK. Salah menerka arah angin, efeknya ke perahu anak-cucu kita,” tuturnya.

Sementara itu, ia pun memahami banyak kalangan yang kecewa terhadap pemilihan pimpinan KPK tersebut. Namun Gus Nadir berharap agar mereka tidak patah arang dengan kekecewaan itu.

Baca juga :  Tolak Revisi UU KPK, Mahasiswa Diminta Komentar Pakai Kajian Jelas

“Untuk kawan-kawan aktivis antikorupsi yang kecewa dengan proses dan hasil pimpinan KPK serta dihantui oleh revisi RUU KPK, saya mau bilang: ma la yudraku kulluh, la yutraku kulluh. Kaidah ini artinya: sesuatu yang tak bisa diraih semuanya, jangan dibuang semuanya. Selalu ada harapan bersama KPK,” ujarnya.

Selain itu, polemik seputar KPK juga masih menunggu kepastian yakni soal Revisi Undang-undang Nomor 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dimana itu sudah menjadi usulan DPR RI dan Presiden Joko Widodo pun sudah mengirimkan surat presiden (surpres) ke Ketua DPR RI, agar Revisi UU KPK tersebut bisa segera dibahas bersama perwakilannya di eksekutif.

Gus Nadir berpendapat agar polemik itu tidak malah menutup konsentrasi pada konten revisi itu, akan tetapi rakyat harus mengawal prosesnya.

Baca juga :  Saat PMII Tak Terima Imam Nahrawi "Disikat" KPK

Namun akademisi ini memberikan garis bawah, jika dalam menyikapi sebuah perkara yang paling penting adalah bagaimana mengambil sisi yang lebih sedikit mudharatnya saja.

“Mari kita kawal terus proses pembahasan revisi RUU KPK di DPR. Diantara berbagai kepentingan yang bertarung dan saling tabrakan, kaidah irtikab akhaff ad-dhararain mengajarkan kita untuk memilih yang mudharatnya paling ringan untuk bangsa ini,” pungkas Gus Nadir.

Terakhir, Gus Nadir juga memberikan wanti-wanti kepada anggota Dewan yang tengah akan berproses untuk membahas dan menggodok Revisi UU KPK, agar lebih menghindari mudharat dibanding hanya untuk mengejar sisi keuntungan semata.

“Kaidah fiqh yang diajarkan para Kiai di pesantren semoga bisa menginspirasi untuk terus bekerja dengan optimis untuk perbaikan bangsa ini,” tandanya.

“Ingatkan para anggota DPR, bahwa menghindari kemudaratan kita utamakan ketimbang mengambil keuntungan. Dar-ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih,” tutup Gus Nadir. []

space iklan