Puji Penangkapan Eks Sekretaris MA, Mahfud MD: Tak Ada Orang Kuat Lindungi Nurhadi

  • Whatsapp
Mahfud MD
Menko Polhukam, Prof Mahfud MD.

Inisiatifnews.com – Setelah empat bulan lebih buron, akhirnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berhasil menangkap eks sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi.

Penangkapan Nurhadi yang terjerat kasus dugaan suap gratifikasi Rp 46 miliar ini diapresiasi oleh Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD.

Bacaan Lainnya

Melalui penangkapan ini, Mahfud menyebut, anggapan KPK tidak serius mengejar dan menangkap buronan ini terbantahkan.

“Saya turut gembira dan salut kepada KPK. Itu membuktikan bahwa KPK bekerja serius mengurus Nurhadi,” ujar Mahfud MD dalam keterangannya kepada Inisiatifnews.com, Rabu (3/6).

Mahfud pun menyatakan, penangkapan Nurhadi mematahkan sejumlah anggapan publik yang keliru terhadap perjalanan kasus ini.

“Ini membuktikan beberapa hal. Pertama, keliru anggapan bahwa Nurhadi dilindungi oleh orang kuat,” kata Mahfud.

Eks Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini juga menilai, penangkapan ini sebagai pembuktian bahwa KPK dalam bekerja akan efektif dan senyap tanpa perlu berkoar-koar.

“Kedua, itu menjadi bagian dari pembuktian pernyataan KPK bahwa mereka akan bekerja tanpa harus berteriak-teriak,” ujar Menteri Pertahanan era Presiden Gus Dur ini.

Ia pun teringat perkataan Ketua KPK Firli Bahurli yang menjawab keraguan dan kritikan saat pertama kali terpilih dan menjabat di lembaga anti rasuah.

“Pak Firli pernah bilang kepada saya, biarlah orang bilang kami tidak baik tapi kami akan tetap berusaha bekerja baik,” pungkas Mahfud.

Seperti diketahui, Senin (1/6), buronan KPK ini akhirnya berhasil ditangkap di sebuah rumah di Simprug, Jakarta Selatan. Nurhadi dtangkap bareng menantunya yang juga terjerat perkara serupa, Rezky Herbiyono.

Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron menyatakan, penangkapan Nurhadi berawal dari informasi masyarakat. Tim KPK, langsung menindaklanjuti informasi tersebut.

Selain dua buronan itu, di dalam rumah ada juga istri dan anak Nurhadi, Tin Zuraida dan Rizqi Aulia Rahmi, serta pembantu. Tin, ikut dibawa penyidik ke markas antirasuah.

Sebab, staf ahli bidang politik dan hukum di Kemenpan RB ini dua kali mangkir dari panggilan sebagai saksi yang menjerat suaminya.

Dalam perkara ini, Nurhadi dan menantunya Rezky diduga menerima suap dan gratifikasi dengan total Rp 46 miliar terkait pengurusan perkara di MA tahun 2011-2016.

Rinciannya, suap dari PT MIT sebesar Rp 33,1 miliar serta gratifikasi dengan nilai total sekitar Rp 12,9 miliar selama Oktober 2014-Agustus 2016. Penerimaan itu terkait dengan penanganan perkara sengketa tanah di tingkat kasasi dan PK di MA dan permohonan perwalian.

Selain Nurhadi dan Rezky, dalam kasus ini KPK juga menetapkan Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT) Hiendra Soenjoto sebagai tersangka. Tersangka ini masih buron, belum tertangkap.

Ghufron memastikan, KPK bersama Polri akan terus mencari Hiendra, dan dua buronan lain KPK, yakni caleg PDIP Harun Masiku dan bos PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Samin Tan.

“Koordinasi KPK bersama Polri untuk melakukan pencarian dan penangkapan para DPO akan terus dilakukan,” janji Ghufron. (INI)

Pos terkait