Umumkan Hasil Investigasi Kasus Intan Jaya, Mahfud MD: Oknum Aparat Terlibat Ditindak Tegas Sesuai Hukum

  • Whatsapp
IMG 20201021 WA0048
Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Prof Mohammad Mahfud MD.

Inisiatifnews.com – Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Intan Jaya yang dibentuk oleh Menko Polhukam, Mahfud MD sudah selesai melakukan investigasi kasus serangkaian penembakan di Intan Jaya pada tanggal 17 dan 19 September lalu. 

Mahfud menyampaikan hasil investigasi setelah TGPF rampung melakukan investigasi lapangan ke Papua selama 17 hari. Mahfud menyatakan, bahwa berdasarkan hasil investigasi TGPF Intan Jaya tersebut, insiden penembakan diduga melibatkan oknum aparat. 

Bacaan Lainnya

“Mengenai terbunuhnya Pendeta Yeremia Zanambani pada tanggal 19 September 2020, informasi dan fakta-fakta yang didapatkan tim di lapangan menunjukkan dugaan keterlibatan oknum aparat. Meskipun ada juga kemungkinan dilakukan oleh pihak ketiga,” ujar Mahfud dalam konferensi pers di Kemenko Polhukam, Jakarta, pada Rabu (21/10/2020). 

Turut mendampingi Mahfud yakni Ketua TGPF Benny Josua Mamoto yang menyerahkan langsung hasil investigasi kepada Menko Polhukam.

IMG 20201021 WA0050
Ketua TGPF Intan Jaya Benny Josua Mamoto menyerahkan dokumen hasil investigasi kepada Menko Polhukam Mahfud MD.

Sekadar informasi, bahwa insiden pada 17 September tersebut, seorang warga sipil bernama Badawi dan seorang anggota TNI bernama Serka Sahlan tewas. Sementara insiden pada 19 September menewaskan seorang pendeta bernama Yeremia Zanambani serta anggota TNI bernama Pratu Dwi Akbar Utomo.

Sementara itu, penembakan terhadap dua anggota TNI, kata Mahfud, diduga dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), begitu pula penembakan terhadap Badawi.

“Informasi dan fakta-fakta yang dihimpun tim di lapangan menunjukkan dugaan keterlibatan Kelompok Kriminal Bersenjata atau KKB dalam peristiwa pembunuhan terhadap dua aparat, yakni Serka Sahlan pada tanggal 17 September 2020 dan Pratu Dwi Akbar Utomo pada tanggal 19 September 2020. Demikian pula terbunuhnya seorang warga sipil atas nama Badawi pada tanggal 17 September 2020,” papar eks Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini.

Berdasarkan hasil investigasi tersebut, Mahfud meminta Polri dan Kejaksaan Agung mengusut tuntS peristiwa penembakan secara hukum pidana.

“Sejauh menyangkut tindak pidana berupa kekerasan dan atau pembunuhan, pemerintah meminta Polri dan Kejaksaan untuk menyelesaikannya sesuai dengan hukum yang berlaku tanpa pandang bulu. Dan untuk itu, pemerintah meminta Komisi Kepolisian Nasional atau Kompolnas untuk mengawal prosesnya lebih lanjut,” imbau Menhan era Presiden Gus Dur ini.

Sedangkan yang menyangkut hukum administrasi negara, Mahfud menyerahkannya kepada institusi terkait untuk diselesaikan dan mengambil tindakan sesuai hukum yang berlaku.

Sejalan dengan temuan-temuan ini, Mahfud merekomendasikan kepada Presiden Jokowi, TNI dan Polri agar daerah yang masih kosong dari aparat pertahanan dan keamanan supaya segera dilengkapi dengan aparat pertahanan keamanan organik.

“Di sana masih banyak daerah yang tidak ada aparatnya, yang rangkap dua daerah, ada yang masih kosong. Ini untuk menjamin keamanan,” kata dia.

Menko Mahfud menyakinkan, hasil investigasi ini objektif. Sebab tim telah bertugas mencari dan menemukan fakta, didukung data dan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Diingatkannya, tugas TGPF berbeda dengan tugas aparat penegak hukum yang diatur dalam Undang-Undang. Hasil pengumpulan data dan informasi ini untuk membuat terang peristiwa, bukan untuk kepentingan pembuktian hukum atau pro justitia. Pembuktian hukum menjadi ranah aparat penegak hukum. 

“Dengan demikian TGPF yang dibentuk oleh SK Kemenko Polhukam Nomor 83 Tahun 2020 dinyatakan selesai,” pungkasnya.

IMG 20201021 WA0056
Menko Polhukam saat berfoto bersama dengan TGPF Intan Jaya.

Diketahui, TGPF Intan Jaya terdiri dari berbagai elemen yang solid. Seperti perwakilan tokoh masyarakat, perwakilan akademisi, perwakilan gereja, serta perwakilan unsur Kepolisian, TNI, Badan Intelijen Negara (BIN) dan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Tokoh-tokoh yang terlibat antara lain Pendeta Henok Bagau dari Intan Jaya, Jhony Nelson Simanjuntak dari PGI, Taha Alhamid, Makarim Wibisono, Constan Karna, Michael Menufandu, I Dewa Gede Palguna, Samuel Tabuni, Edwin Partogi, perwakilan dari Polri, TNI dan BIN. Serta Deputi 3 Kemenko Polhukam Sugeng Purnomo yang juga Wakil Ketua TGPF Intan Jaya.

Dari akademisi kampus, ada rektor Universitas Cendrawasih Apolo Safanpo dan Sosiolog UGM Bambang Purwoko. Sedang unsur pemerintah seperti Deputi Bidang Polhukam Kantor Staf Presiden, Jaleswari Pramodhawardani dan sejumlah tokoh kredibel lainnya.

TGPF ini dibentuk untuk menyelidiki terkait rentetan penembakan yang terjadi di Intan Jaya.

TGPF berada di Timika sejak Rabu (7/10). Mereka bergerak ke Sugapa mencari fakta. TGPF sempat diadang dan ditembaki KKB setelah melakukan olah TKP. Dua orang terkena tembakan, yakni Satgas Apter Hitadipa Sertu Faisal Akbar. Ia mengalami luka tembak di pinggang.

Selain itu, dosen UGM yang masuk ke dalam TGPF, Bambang Purwoko, yang mengalami luka tembak di pergelangan kaki kiri dan pergelangan tangan kiri. (INI)

PHP Dev Cloud Hosting

Pos terkait