Mahfud MD: Artidjo Monumen Penegakan Hukum dan Demokrasi Indonesia

  • Whatsapp
mahfudmd
Prof Mohammad Mahfud MD.

Inisiatifnews.com – Keluarga Universitas Islam Indonesia (UII) baik Alumni UII dan Civitas Akademika mengikuti doa bersama untuk almarhum Mantan Ketua Kamar Pidana Mahkamah Agung (MA) Artidjo Alkostar, Senin (1/3). Doa bersama virtual ini diselenggarakan oleh Kampus UII dan Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UII.

Acara yang dipandu oleh Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Rizal Mustary ini diawali dengan tahlilan bersama. Selanjutnya, disusul dengan sambutan dari keluarga dan sejumlah pihak. Salah satunya oleh Menko Polhukam Prof. Moh. Mahfud MD.

Bacaan Lainnya

Mahfud mengawali sambutannya dengan mengenang almarhum semasa hidup. Menurutnya, integritas dan kapasitas Artidjo sudah tenar sejak dulu.

“Misalnya saat Ketua MPR Pak Taufik Kiemas masih hidup, kita sering berkunjung. Pak Taufik selalu menyebut nama Artidjo. Pak Taufik bilang, orangnya tegas, jujur, disiplin, dan ulet. Sehingga bertanya, di UII ini diajari apa? Kok lulusannya penuh integritas, pinter-pinter. Seperti Pak Artidjo. Selalu disebut,” cerita Mahfud.

Karenanya, alumni UII patut berbangga memiliki Artidjo. “Kita bangga, dulu kita, Pak Mahfud, Pak Ari sekolahnya di mana? Saya satu almamater dengan Pak Artidjo,” sambungnya.

Mahfud pun mengenang terakhir kali bertemu almarhum. Tepatnya pada 17 Agustus 2020, Artidjo jatuh sakit namun tidak mau dirawat di Rumah Sakit. Saat itu pandemi Covid-19 lagi puncaknya. Mahfud pun meminta Menkes Terawan untuk merawatnya. Menkes mengirim satu tim ke apartemen Artidjo. Juga dokter ahli jantung, adik dari Mendagri Tito Karnavian.

“Dari situlah, Mas Artidjo memang sangat sederhana. Beliau menahan fisik sakitnya. Tetapi, secara psikis amat tenang,” ujar Mahfud.

Mahfud pun mengatur secara teknis dan meminta keluarga Artidjo untuk dimakamkan di UII. Baik keluarga dan universitas, bersedia Artidjo dimakamkan di pemakaman Kampus UII.

“Ini putra terbaik UII yang dilahirkan untuk bangsa Indonesia. Ini monumen penegakan hukum dan demokrasi yang amat disegani oleh bangsa Indonesia,” ungkapnya.

Artidjo “Mati” Berkali-kali

Mahfud melanjutkan, Artidjo memang sudah meninggal secara fisik. Namun, sebenarnya, Mahfud menyatakan, Artidjo telah “meninggal” berkali-kali semasa hidup.

“Mati menurut hadis nabi, ada mati sebelum mati. Barang siapa ingin melihat orang mati yang berjalan, lihatlah Abu Bakar. Orang mati, tapi fisiknya hidup. Maksudnya orang mampu menjaga dirinya dari keperluan fisik duniawi. Orang mati fisik, tapi nuraninya hidup. Dia tidak berpikir apa-apa soal duniawi. Sukmanya, hati nuraninya selalu hidup. Membunuh hawa nafsu, membunuh ketamakan, membunuh rasa takut. Itu yang dilakukan Mas Artidjo. Kita harus belajar dari Mas Artidjo yang selalu mendahulukan keimanannya,” jelasnya.

“Mas Artidjo enggak punya harta. Yang menemaninya, yang menolongnya, adalah hati damainya. Banyak orang matinya tidak tenang banyak meninggalkan masalah. Mari ambil spirit semangat perjuangan. Dia yakin benar, diejek, dihina ditekan orang, dia tidak masalah,” tambah eks Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini.

Integritasnya Tak Diragukan

Mahfud pun memiliki pengalaman bukti integritas Artidjo. Yakni saat Artidjo memberi hukuman kepada mantan aktivis HMI yang sebelumnya dihukum 7 tahun, dinaikkan menjadi 14 tahun.

“Waktu itu saya Ketua Korps KAHMI, saya sampaikan kritik ke Mas Artidjo. Kan sama-sama HMI, banyak yang lain yang lebih jahat. Mas Artidjo menjawab, loh justru karena dia memalukan HMI saya hukum berat” ceritanya.

Mahfud juga menyampaikan, ada kesan Artidjo tak pernah menghukum tidak berat orang yang diadilinya dan tak pernah mau mengampuni. Apa jawaban Artidjo?

Dia menunjukkan beberapa vonis yang membebaskan orang yang dijatuhi hukuman korupsi di PN dan PT tetapi ternyata tidak bersalah. Dia hanya dikorupsikan sehingga dibebaskan oleh Artidjo pada kasasi di tingkat MA.

“Bahkan, ada cap bahwa Mas Artidjo hapalannya cuman kali dua. Tidak pernah baca perkara. Maksudnya, hukuman dikalikan dua. Ini cap para pendukung koruptor. Mas Artidjo membantahnya. Dia bilang baca huruf per huruf,” tegasnya.

“Kita memang tidak bisa full menjadi Artidjo. Tapi cukup berniat saja, sudah cukup lumayan. Syukur kita bisa meniru sikap dan perilakunya sebisa-bisanya. Mas Artidjo sudah tercatat dalam dunia penegakkan hukum Indonesia sebagai pejuang hukum dan keadilan,” pungkasnya.

Susah Betul Meniru Artidjo

Rektor UII Yogyakarta Prof. Fathul Wahid menyampaikan, Artidjo adalah orang yang baik dan husnul khotimah. Yang berat bagi yang ditinggalkan adalah, meneladani contoh dan cita-cita Artidjo. Meniru Artidjo amat tidak mudah.

Untuk menjadi Artidjo, butuh ketekunan dan istiqomah. Menjadi baik sekali saja, jujur, sekali saja, itu mudah. Tetapi setiap saat, jujur, baik, mempertahankan keadilan, itu tidak gampang. Artidjo, kata Fathul Wahid, menjalani ini dengan konsisten dan istiqomah.

“Meneladani ideologi Artidjo, tidak mudah. Hukum yang berkeadilan, ini tidak mudah. Kata Pak Ar, kita harus menjaga sukma, ketika sukma sudah mati, orang akan membuka ruang toleransi kepada ketidakadilan dan ketidakbenaran. Pak Ar orang besar dan milik bangsa ini, bukan hanya milik UII,” ungkap Fathul menirukan pesan Artidjo.

Tokoh Langka Yang Sulit Dicari Penggantinya

Ketua Umum IKA UII Prof. Syarifuddin yang juga Ketua Mahkamah Agung (MA) menyatakan, kepergian almarhum Artidjo adalah kehilangan putra terbaik bangsa, tokoh langka yang sulit dicari penggantinya. Sosok fenomenal pemberantasan korupsi.

Sebagai hakim, Artidjo menjadi contoh yang baik tentang mempertahankan integritas. “Beliau tokoh yang gigih, memutus banyak perkara dengan integritas. Ini amal baik beliau di sisi Allah,” ungkap Syarifuddin.

Sementara itu, sambutan keluarga disampaikan oleh Ari Yusuf Amir, pengacara yang amat dekat dengan Artidjo ini berterima kasih kepada seluruh pihak yang membantu Artidjo dari sakit hingga dimakamkan.

“Kepada Pak Mahfud, keluarga menyampaikan terima kasih sedalam-dalamnya yang telah mencurahkan perhatiannya dengan sangat kepada almarhum. Juga kepada Pak Syarifuddin, Ketua IKA UII dan Kampus UII yang telah mempersiapkan dan mengatur semuanya,” kata Ari dalam sambutannya.

Menurut Ari, almarhum sosok yang mengayomi hukum dan keadilan. Almarhum menjadi perisai bagi siapa saja yang ingin merendahkan hukum dan keadilan.

Untuk diketahui, mantan Ketua MA Artidjo Alkostar, yang juga anggota Dewan Pengawas KPK, wafat pada usia 72 tahun Minggu (28/2) karena sakit jantung dan paru-paru. Artidjo dimakamkan di Kompleks Pemakaman UII, Kampus Terpadu UII, Jalan Kaliurang Km. 14,5 Sleman, Yogyakarta Senin (1/3). (INI)

Pos terkait