Bareng Institut Leimena, Infokom MUI Kumpulin Jurnalis Lintas Agama

  • Whatsapp
Mabroer
Mabroer Masmuh.

Inisiatifnews.com – Komisi Informasi dan Komunikasi Majelis Ulama Indonesia (Infokom MUI) Pusat menggandeng Institut Leimena menggelar Sarasehan Jurnalis Lintas Agama. Kegiatan tersebut digelar secara virtual dengan menghadirkan berbagai tokoh lintas agama.

Sarasehan bertem Peran Media Keagamaan dalam Mewujudkan Harmonisasi Keberagaman ini digelar virtual, Rabu (14/7). Pembukaan sarasehan dimulai dengan mengheningkan cipta sejenak sekaligus doa bersama bagi korban Covid-19 yang telah meninggal dunia. Juga bagi para penyitas yang kini tengah berjuang melawan Covid-19 agar diberi kesembuhan.

Bacaan Lainnya

Sejumlah pembicara hadir dalam sarasehan tersebut di antaranya Wakil Ketua Umum MUI Dr KH Marsudi Syuhud MA, Ketua MUI Bidang Infokom KH Masduki Baidlowi MSi, Sekjen PP Muhammadiyah Prof Dr Abdul Mu’ti, Ketua Umum Lembaga Alkitab Indonesia Pdt Dr Henriette T Hutabarat-Lebang, tokoh Konghucu Js Kristan, dan ketua Dewan Pers periode 2016-2019 Yosep Adi Prasetyo.

Ketua Komisi Infokom MUI Pusat Mabroer MS mengatakan, media keagamaanbamat penting karena berperan besar membangun literasi keagamaan dalam masyarakat. Seiring perkembangan teknologi, pengaruh media keagamaan tidak lagi terbatas pada umat masing-masing.

Mabroer menambahkan, melalui literasi keagamaan ini, media dapat membangun kapasitas seseorang untuk mampu bekerjasama dengan orang yang berbeda agama. “Tanpa mengurangi, bahkan dapat memperkuat, iman agamanya sendiri,” kata Mabroer dalam keterangannya, Selasa (13/7).

Dicontohkannya, Islam Wasathiyah yang dikumandangkan oleh MUI, Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah. Bagi umat Muslim sendiri, lanjut Mabroer, pemahaman ini penting diangkat dalam berbagai media keagamaan Islam. Antara lain untuk menghadapi pandangan-pandangan kaum intoleran yang mengatasnamakan Islam.

Bagi umat beragama lain apabila wajah Islam yang ditampilkan dalam media keagamaannya adalah Islam Wasathiyah, yang terbuka terhadap perbedaan, tentu akan ikut meruntuhkan stereotip negatif yang dibangun oleh kelompok-kelompok intoleran.

“Dengan demikian, berbagai media keagamaan ini ikut membangun pola pikir dan persepsi yang positif antar umat beragama untuk dapat mempererat relasi dan kerjasama,” tandas Mabroer.

Direktur Eksekutif Institut Leimena Matius Ho berharap, sarasehan jurnalis ini dapat menjadi titik awal dialog yang menghasilkan kumpulan gagasan dan permasalahan utama untuk dibahas dalam rangkaian dialog selanjutnya.

Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat relasi dan jejaring jurnalis lintas agama dalam upaya meningkatkan literasi keagamaan yang toleran dan damai dalam masyarakat kita yang majemuk. “Agar tercipta keberagaman yang harmonis demi kemajuan peradaban manusia,” harapnya. (INI)

Pos terkait