FPI Sebut Pelaporan Haikal Hassan Bukan Soal Mimpi, Tapi Sembarangan Catut Rasulullah

  • Whatsapp
20191127 haikal hasan
Haikal Hassan Baras.

Jakarta, Inisiatifnews.com – Sekretaris Jenderal Forum Pejuang Islam (FPI) Habib Husin Shahab menjelaskan alasan mengapa pihaknya mempolisikan Sekjen HRS Center Haikal Hassan Baras.

Menurutnya, pelaporan terhadap Haikal Hassan bukan karena konten mimpinya.

Bacaan Lainnya

“Soal pelaporan saya terhadap Haikal Hasan bukan karena sebab ‘mimpi rasul’,” kata Husin Shahab kepada wartawan, Kamis (17/12/2020).

Penjelasan ini juga untuk meluruskan bahwa ia sama sekali tidak melaporkan Haikal Hassan bermimpi, melainkan konteks cerita mimpi tersebut yang rentan sekali disalahgunakan untuk kepentingan sosial politik tertentu.

“Jangan dipelintir, siapapun boleh mimpi rasul, itu hak setiap orang, namun bila ada dugaan tindak pidana dalam video ceramah itu akan berbahaya kalau dibiarkan,” jelasnya.

Husin Shahab pun mengatakan, pelaporan terhadap Haikal Hassan ini adalah sebagai upaya preventif agar tidak ada pihak lain yang menggunakan dalil bermimpi ketemu Rasulullah untuk mendustakan sesuatu.

“Ketika sudah mencatut nama rasul artinya tidak boleh sembarangan menempatkannya, harus benar, jangan main-main bawa nama Rasulullah SAW,” terangnya.

Di sisi lain, ia juga menyinggung tentang ceramah Haikal Hassan yang mengklaim bahwa 6 laskar Front Pembela Islam yang tewas di KM50 Jalan Tol Jakarta-Cikampek adalah syahid. Bahkan Haikal menyebut mereka saat ini sudah bersama Rasulullah SAW.

Klaim-klaim semacam ini yang disebut Husin Shahab sebagai konten yang mudah sekali dipolitisir untuk mempengaruhi orang lain demi kepentingan politik tertentu.

“Sebagai contoh di video ceramah Haikal Hasan menyebut bahwa mereka yang diduga melakukan baku tembak dengan aparat kepolisian mati dalam keadaan syahid. Ini kan sudah gak benar, tahu dari mana Haikal bahwa mereka mati syahid? Kok sudah mendahului Allah SWT?,” tandas Husin Shahab.

“Yang begini ini masuk dalam kualifikasi menyebarkan berita bohong, kalimat Haikal yang menyebut mereka yang meninggal diduga melawan aparat penegak hukum dengan ganjaran syahid dan akan mati bersama Rasulullah sangat berbahaya dampaknya. Jelas bukan mimpinya, tapi mencatut nama Rasulullah untuk melakukan tindakan melawan hukum,” tambahnya.

Atas dasar hal itu, Habib Husin Shahab menilai sangat perlu ada upaya tegas untuk mencegah munculnya klaim-klaim sepihak seperti yang diutarakan oleh Haikal Hassan.

Jika hal itu dibiarkan, ia khawatir akan disalahgunakan orang lain dan memunculkan disintegrasi bangsa karena pemahaman konteks keagamaan yang salah kaprah.

“Maka perlu efek jera agar tidak terulang, dengan proses hukum terhadap Haikal Hasan, Saya khawatir ketika tidak dilaporkan hal itu akan menjadi pembenaran dan akan ditiru oleh yang lain dengan mencatut nama Rasulullah untuk dijadikan alat mempengaruhi orang awam demi kepentingan dirinya dan kelompoknya,” papar Husin Shahab.

Lebih lanjut, is kemudian berpandangan bahwa Haikal Hasan patut diduga telah menistakan agama yang telah mencatut nama Rasulullah dengan cara yang tidak benar dan dapat dijerat dengan Pasal 156 Huruf a KUHP, dan berita bohong Pasal 14-15 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana serta Pasal 28 Ayat 2 UU ITE atas dugaan menyebarkan ujaran kebencian di media sosial yang dapat dijerat dengan hukuman penjara selama 10 tahun.

“Kita berharap pihak Kepolisian segera memanggil Haikal Hasan untuk dimintai keterangan dan menjelaskan perkara video tersebut,” tutupnya. [REL]

Pos terkait