Saksi Sebut Cuitan Syahganda Pemicu Kerusuhan

  • Whatsapp
husin shahab
Saksi kasus menyebarkan berita bohong diduga dilakukan oleh Syahganda Nainggolan, Husin Shahab mengikuti persidangan di PN Depok pada hari Kamis 4 Februari 2021. [foto : Istimewa]

Inisiatifnews.com – Sidang terhadap terdakwa Syahganda Nainggolan kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Depok, Jawa Barat. Agenda sidang tersebut adalah mendengarkan keterangan saksi.

Saksi bernama Husin Alwi Shihab yang juga pelapor Syahganda menyebut, bahwa cuitan Syahganda Nainggolan terkait omnibus law merupakan berita bohong. Menurutnya, cuitan tersebut menjadi pemicu demo menolak omnibus law yang berujung ricuh di Jakarta.

Bacaan Lainnya

“Saya pantau saat omnibus law karena betul ramai kami fokus kita ke situ. Secara umum pernyataan terdakwa ini kami anggap berita bohong kalau nggak salah mengenai lembaran omnibus law, terkait perkataan Pak Gatot (Gatot Nurmantyo),” kata Husin dalam keterangannya di PN Depok, Kamis (4/2/2021).

Dalam sidang itu, Syahganda Nainggolan duduk sebagai terdakwa dan hadir agenda persidangan secara virtual dari rutan Bareskrim Polri.

Husin menjelaskan, bahwa awal mula melaporkan Syahganda ke polisi karena melihat cuitan Syahganda terkait dengan omnibus law yang ia sinyalir sebagai berita bohong.

Ingin memastikan konteks kebohongan yang dinilaikan oleh Husin, hakim Nur Ervianti Meliala pun mempertanyakannya kepada saksi. “Perkataan di mana?” tanya hakim Nur Ervianti. “Bahwa kalau nggak salah ikut mengutuk,” jawab Husin.

Padahal menurutnya, Gatot Nurmatyo tidak mengutuk omnibus law, melainkan memuji. Ia mengaku sudah melakukan cross-check terhadap pernyataan Gatot Nurmantyo tersebut ke berita-berita terkait.

“Tahu dari mana bohong?” tanya hakim Nur. “Kita cross-check, justru itu berbeda dengan pernyataan dengan Pak Gatot, justru Pak Gatot memuji omnibus law,” jawab Husin. “Jadi kami anggap itu karangan (Syahganda) saja,” imbuhnya.

Lantas, hakim Nur menanyakan apakah ada dampak yang terjadi dari cuitan Syahganda tersebut. Menurut Husin, cuitan Syahganda itu memicu demo tolak omnibus law yang kemudian berakhir rusuh.

“Gara-gara cuitan itu di Twitter ramai, akhirnya ada demo, saya melihat, seperti pembakaran halte, ada demo,” kata Husin.

“Jarak waktunya jauh nggak?” tanya hakim Nur.

“Nggak jauh, ada pembakaran, di beberapa berita ada penjarahan juga. Kita anggap itu timbul dari berita bohong itu,” jawab Husin.

Dakwaan untuk Syahganda

Syahganda didakwa menyebarkan berita bohong terkait kasus penghasutan demo menolak omnibus law yang berujung ricuh di Jakarta. Syahganda didakwa melanggar Pasal 14 ayat 1 Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

“Dakwaan pertama, Pasal 14 ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana; atau kedua, Pasal 14 ayat (2) UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana; atau ketiga, Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana,” kata pejabat humas PN Depok, Nanang Herjunanto, saat dimintai konfirmasi, Senin (21/12).

Dalam pasal ini, Syahganda terancam pidana penjara 10 tahun penjara. Dalam kasus ini, Polri telah menetapkan 9 tersangka penghasutan. Dari 9 tersangka itu, beberapa di antaranya merupakan Ketua KAMI Medan Khairi Amri (KA) serta petinggi KAMI, Syahganda Nainggolan (SN), Jumhur Hidayat (JH), dan Anton Permana (AP).

Pos terkait