IPW Apresiasi Polri Tindak Tegas Para Penoda Agama

  • Whatsapp
sugeng teguh santoso
Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Sugeng Teguh Santoso. [Foto : Exclusive]

Jakarta, Inisiatifnews.com – Ketua Indonesia Police Watch (IPW) Sugeng Teguh Santoso menilai langkah Polri dalam menindak tegas para pelaku penoda agama sudah sangat tepat. Beberapa di antara nama yang senter menjadi perbincangan publik adalah kasus Yahya Waloni dan Muhammad Kece.

“Saya melihat bahwa Polri ingin melihat keseimbangan, bahwa Polri itu menegakkan hukum dengan prinsip equality before the law atau tidak diskriminatif. Akhirnya kita perlu mengapresiasi,” kata Sugeng kepada wartawan di Tangerang Selatan, Senin (6/9).

Bacaan Lainnya

Namun, kasus sejenis ini juga banyak terjadi. Menurut Sugeng, ini menjadi tantangan tersendiri bagi Polri untuk menghadirkan equality before the law dalam kasus dugaan penodaan agama.

“Akan tetapi sebetulnya, banyak kasus-kasus terkait penistaan agama yang dilakukan tokoh-tokoh lain yang disebut Ruhut, ada UAS (ustad abdul somad -red), ini juga ada yang melaporkan, ini pendalamannya bagaimana juga” ujarnya.

Antara Penodaan Agama dan Tafsir Agama

Bagi Sugeng, kasus dugaan penodaan terhadap agama ini harus bisa dilihat dari kacamata yang lebih mendalam. Sehingga tidak semua persoalan yang menyeret tentang konten keagamaan tidak serta merta dikategorikan sebagai penodaan agama.

“Sebetulnya kalau kita lebih filosofis, penistaan agama ini harus dibedakan (antara) tafsir agama dengan penistaan. Ada orang membuat tafsir atas satu ajaran atau keyakinan,” jelasnya.

Tafsir menurut Sugeng tidak bisa dikategorikan sebagai penodaan agama, karena itu masuk ke ranah pemikiran yang hanya bisa dilawan dengan pemikiran juga. Dan di dalam konteks tafsir pun tidak ada unsur untuk merendahkan. Hal ini jelas berbeda menurut Sugeng dengan konteks penodaan agama yang memiliki muatan untuk merendahkan ajaran agama tertentu.

“Kalau tafsir ini sebenarnya wilayah kebebasan berpendapat, berdasarkan argumentasi. Kalau penistaan (dilakukan) dengan niat memang ingin merendahkan, ingin menjelekkan, ingin mendiskreditkan,” paparnya.

Konten Yahya Waloni Jenis Penodaan Agama

Sugeng yang berprofesi sebagai advokat itu menilai, konten-konten ceramah Muhammad Yahya Waloni sering mengujarkan penodaan agama. Beberapa diantaranya adalah tentang konten sebutan Roh Kudus yang ia plesetkan sebagai “Roh Kudis”. Bahkan ia sampai menantang agar plesetan yang disengaja itu dilaporkan saja ke Bareskrim Mabes Polri untuk diproses lebih lanjut.

“Kalau soal Yahya Waloni sih menurut saya tidak problem, IPW mengapresiasi Polri telah menegakkan prinsip-prinsip equality before law,” tandasnya.

Konten Yahya Waloni menurut Sugeng adalah bentuk dari penodaan agama. Tidak bisa statemen semacam itu menurutnya dikatakan sebagai tafsir yang bernilai filosofis.

“Kalau tafsir boleh-boleh saja, kalau kita menyampaikan suatu pedapat berdasarkan argumentasi, ini boleh saja. Tapi kalau dengan maksud menista, dengan maksud mendiskreditkan, itu yang tidak boleh, menghina gitu ya,” ucap Sugeng.

Pos terkait