Densus 88 Tangkap Anggota JI, Salah Satunya Residivis Kasus Terorisme

  • Whatsapp
densus 88
Densus 88 Antiteror Mabes Polri.

Jakarta, Inisiatifnews.com Detasemen Khusus 88 Anti Teror Mabes Polri telah melakukan penangkapan terhadap beberapa terduga teroris yang terkait dengan jajaran pengurus pusat Jamaah Islamiyah.

Setelah beberapa pekan lalu Densus 88 melakukan penangkapan besar-besaran terhadap mereka yang terlibat dalam pendanaan JI, kali ini Densus 88 menyasar para pengurus teras organisasi teror paling aktif di Indonesia ini.

Bacaan Lainnya

Dalam siarannya, Mabes Polri mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan penangkapan terhadap terduga MEK, S alias MT, SH dan terakhir AR yang dijemput dari rumahnya di kawasan Bekasi Utara.

Terduga AR sendiri pernah ditangkap oleh kepolisian lima belas tahun lalu.

“Beberapa orang dari kelompok ini sepertinya memang tidak mengalami penjeraan, sebagian yang pernah ditangkap ternyata tidak menghentikan kegiatannya,” kata Kepala Bagian Ban Ops Densus 88, Kombes Pol Aswin Siregar, Jumat (10/9/2021).

Terduga MEK ditangkap di kawasan Grogol, Petamburan, Jakarta, diketahui MEK terlibat dalam JI sebagai staff Qodimah Barat pada tahun 2011 yang bertugas untuk mengurus personal dan non struktural organisasi. MEK juga merupakan ketua Pengurus Perisai Nusantara Esa Tahun 2017 dan ketua Pembina Perisai tahun 2020, sayap organisasi Jamaah Islamiyah dalam bidang advokasi.

Sedangkan terduga S alias MT adalah anggota fundraising Perisai pada tahun 2018, Pembina Perisai Nusantara Esa tahun 2020 dan anggota Tholiah Jabodetabek saat kepemimpinan HARI. Terduga S alias MT ditangkap di kawasan Bekasi pada hari yang sama.

Terduga lainnya yang ditangkap adalah SH, salah satu anggota Dewan Syuro Jamaah Islamiyah yang pernah mengikuti pelatihan militer di Moro, Filipina Selatan. Diketahui juga SH pernah memberikan infaq sebesar Rp40 juta pada tahun 2013-2015 kepada Patria melalui Sholeh Habib yang telah tertangkap dalam operasi sebelumnya. Terungkap dalam penyelidikan, SH juga merupakan anggota Pembina Perisai pada tahun 2017.

Terduga lain adalah AR, merupakan tokoh lama Jamaah Islamiyah yang pernah ditangkap terkait kasus menyembunyikan terpidana mati pelaku utama bom Malam Natal 2000 dan Bom Bali 2002, Ali Gufron alias Mukhlas. Pada tahun 2004, AR sendiri divonis 3.5 tahun penjara oleh pengadilan. Terduga AR adalah sosok yang dalam beberapa tahun belakangan sesekali tampil dalam pemberitaan dan media sosial. Saat ini semua terduga masih dalam penyelidikan Densus 88.

Jamaah Islamiyah adalah salah satu organisasi teror terlarang yang masih aktif bergerak di bawah permukaan. Belakangan tercium kelompok ini berusaha melakukan transformasi ke berbagai gerakan normatif, salah satunya pendidikan dan ranah politik.

Densus 88 tidak pernah melonggarkan operasinya di berbagai daerah terkait jaringan teroris yang terus berusaha untuk melakukan berbagai persiapan aksinya. Namun demikian, Aswin menambahkan, bahwa kerja-kerja penanggulangan terorisme ini tidak bisa sendiri dilakukan oleh Kepolisian sendiri. Akan tetapi perlu peran aktif masyarakat secara luas.

“Kami pihak kepolisian tidak bisa bergerak sendirian, harus ada peran aktif dari masyarakat untuk selalu melakukan gerakan penolakan secara masif terhadap kelompok radikal ini, setidaknya dimulai dari keluarga dan lingkungan sekitar,” pungkasnya.

Pos terkait