Muannas Alaidid Minta Pemerintah Tak Biarkan NII Eksis

  • Whatsapp
Muannas Alaidid
Direktur Eksekutif Komite Pemberantasan Mafia Hukum (KPMH) Habib Muannas Alaidid, SH, CTL.

Inisiatifnews.com – Direktur eksekutif Komite Pemberantasan Mafia Hukum (KPMH) Habib Muannas Alaidid menilai bahwa kabar adanya puluhan orang pemuda yang berbaiat dengan Negara Islam Indonesia (NII) di Kabupaten Garut sangat meresahkan.

“Bahaya melihat fenomena anak-anak di Garut terpapar NII itu bila dibiarkan, ini mesti jadi peringatan kita semua,” kata Muannas, Sabtu (9/10).

Bacaan Lainnya

Apalagi kata praktisi hukum ini, regulasi di Indonesia hanya bisa menyentuh kelompok yang sudah melakukan terorisme saja, sehingga untuk menanggulangi potensi gerakan radikal dan teroris dari kelompok NII cenderung sulit dilakukan.

“Sebab UU Nomor 5 tahun 2018 tentang pemberantasan terorisme sayangnya hanya dapat menindak pelaku teror, sedangkan belum ada payung hukum bagi mereka yang sebarkan paham radikal NII dan Khilafahisme,” ujarnya.

Kemudian, Muannas juga menyebut bahwa kelompok NII jauh lebih berbahaya dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan FPI. Dan ketika FPI maupun HTI pada akhirnya diberengus oleh negara, maka sebaiknya hal tersebut juga dilakukan terhadap NII.

“Kalau HTI dan FPI saja ditindak tegas dengan pembubaran, NII jangan pernah dibiarkan, mareka jauh lebih bahaya dan jahat. Korbannya akan dimiskinkan hartanya atas nama infak, dirusak akhlak dan masa depannya,” tandasnya.

Muannas mengatakan, bahwa upaya ini dilakukan untuk menghindarkan pengalaman buruk Timur Tengah terjadi di Indonesia.

“Sebuah tragedi kemanusiaan atas nama agama, jangan sampai kita seperti suriah,” pungkasnya.

Doktrin NII, NKRI Thoghut

Perlu diketahui, bahwa publik dihebohkan dengan adanya aksi baiat NII yang dilakukan oleh puluhan warga Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Munculnya kabar tersebut bermula dari pengakuan sejumlah anak di Kelurahan Sukamentri, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut. Mereka mengaku telah dibaiat NII kepada orang tuanya. Kemudian, orang tua kemudian melaporkan hal tersebut ke petugas kelurahan yang akhirnya memfasilitasi pertemuan orang tua dan anak beberapa hari lalu.

Lurah Sukamentri, Suherman mengatakan dari pengakuan sang anak itu mereka mengaku mempercayai NII dan menganggap NKRI adalah thogut.

“Ajarannya ya, salah satunya menganggap RI ini thogut,” ujar Suherman.

Mendapati hal itu, Suherman dan jajarannya kemudian melakukan penelusuran. Hasilnya, ada 59 orang lainnya yang terpapar paham NII.

“Anak-anak ada, orang tua ada. Kebanyakan remaja,” ucapnya.

Pemkab Garut, melalui Kesbangpol angkat bicara. Pemkab membenarkan hal tersebut dan saat ini tengah berupaya mendalami informasinya.

Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kakesbangpol) Kabupaten Garut, Wahyudijaya mengatakan, bahwa pihaknya masih melakukan pemetaan terhadap temuan adanya 59 orang yang terkait dengan jaringan NII tersebut.

“Memang kami mendapatkan laporan kaitan dengan isu yang sekarang marak di Garut ini. Ada 59 anak remaja dan juga dewasa yang direkrut kelompok tertentu. Kita masih mapping,” kata Wahyudijaya.

Sementara itu, Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Kabupaten Garut, AKBP Wirdhanto Hadicaksono menjelaskan, bahwa pihaknya saat ini masih ditangani dan dialami lebih lanjut.

“Pada prinsipnya kami masih melakukan pendalaman adanya laporan dari orang tua yang anaknya mengalami perubahan sikap,” ujar Wirdhanto.

Polisi sudah memanggil sejumlah anak yang diduga terpapar paham radikal NII. Selain itu, penyidik juga sudah memeriksa sejumlah saksi.

“Ada saksi yang diperiksa. Masih berjalan,” katanya.

Untuk mengusut kasus tersebut, pihak kepolisian bahkan mengerahkan pasukan dari Densus 88 Anti Teror. Hal tersebut dikonfirmasi oleh Kabag Banops Densus 88 Kombes Aswin Siregar.

“Iya (dilakukan penyelidikan), tentu saja. Kami sedang mengumpulkan informasi yang lengkap tentang hal ini,” kata Aswin.

Pos terkait