Laskar FPI Pertama Kali Serang Polisi di Kasus Dugaan Unlawful Killing

  • Whatsapp
Sidang kasus tewasnya 6 laskar FPI di PN Jakarta Selatan.

Jakarta, Inisiatifnews.com – Sidang pembacaan dakwaan kasus dugaan unlawful killing yang dilakukan oleh anggota Reserse Mobil (Resmob) Polda Metro Jaya di KM50 Tol Jakarta – Cikampek pada akhir tahun lalu digelar perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel).

Dalam pembacaan materi tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), disebutkan bahwa penyebab adanya pembuntutan yang dilakukan oleh anggota Polda Metro Jaya (PMJ) tersebut karena ada dugaan massa pendukung Habib Rizieq Shihab akan mengepung Mapolda Metro Jaya dalam agenda pemeriksaan imam besar FPI itu.

Bacaan Lainnya

“Polda Metro Jaya mendapat info dari masyarakat dan media sosial bahwa pendukung Habib Rizieq hari Senin 7 Desember 2020 akan mengepung Polda Metro Jaya dan melakukan aksi anarkis,” kata JPU di dalam sidang yang mereka hadiri secara virtual di ruang sidang utama PN Jakarta Selatan, Senin (18/10).

Atas dasar itu, Polda Metro Jaya melalui jajaran Resmob memerintahkan anggota mereka melakukan silent operation.

“Atas info tersebut mereka mengambil langkah tertutup,” ujarnya.

JPU juga menjelaskan kronologis secara rinci bagaimana operasi pembuatutan dari Sentul dilakukan. Hingga kemudian terjadi aksi kejar-kejaran antara rombongan mobil pengawal Habib Rizieq dan keluarganya itu menuju Karawang.

Awal mula saling serang

Dijelaskan bahwa dalam pembuntutan yang dilakukan oleh jajaran anggota Resmob Polda Metro Jaya, ada mobil Chevrolet Spin berkelir abu-abu dengan nomor polisi B 2152 TBN menghadang mobil yang ditumpangi para terdakwa, yakni Toyota Avanza dengan nomor polisi K 9143 ER.

Setelah mencoba menghalangi laju kendaraan polisi, keluar 4 (empat) orang penumpang mobil Chevrolet Spin dengan menggunakan senjata tajam, berupa pedang samurai maupun tongkat lancip.

“Pemegang pedang melakukan penyerangan dengan cara mengayunkan pedang dan membacok kap mesin. Kemudian menghujamkan ke kaca depan mobil secara membabi buta,” jelasnya.

Mendapati serangan itu, supir mobil Avanza Bripka Faisal Khasbi Alaeya menurunkan kaca mobil dan memberikan tembakan peringatan ke udara dan memperingatkan bahwa mereka adalah anggota Kepolisian.

Kemudian mengetahui ada tembakan peringatan itu, 4 orang laskar FPI itu kembali ke dalam mobil, dan keluar lagi dua orang anggota laksar dengan membawa senjata api, menodongkan dan menembakkan sebanyak 3 (tiga) kali dan merusak kaca depan mobil polisi.

“Setelah menembakkan senjata api, anggota FPI kembali ke mobil untuk kabur,” sambung JPU.

Mendapat ancaman semacam itu, anggota Resmob lalu melakukan upaya pelumpuhan kepada dua orang anggota laskar FPI yang diketahui bernama Faiz Ahmad Syukur dan Andi Oktiawan.

Upaya pelumpuhan yang belum sukses membuat anggota Resmob PMJ tersebut langsung memacu kendaraanya untuk mengejar mobil Chevrolet Spin tersebut.

Selanjutnya terjadilah kejar-kejaran yang melewati bundaran Badami Jalan Internasional atau Jalan Interchange Kabupaten Karawang. Di sana terjadi aksi serempetan antar kendaraan FPI dan Polisi. Tak mau menghentikan kendaraannya, justru anggota laskar FPI kembali menodongkan senjata api ke arah polisi.

“Anggota FPI yang duduk di depan sebelah sebelah kiri Chevrolet Spin membuka kaca mobilnya dan menodongkan senjata api,” imbuhnya.

Melihat ada ancaman semacam itu, Polisi langsung menembak ke arah laskar FPI dan ban mobil hingga kempes. Sayangnya, para laskar FPI tak mau berhenti dan terus memacu kendaraannya untuk kabur.

Situasi itulah yang akhirnya berujung pada meninggalnya 2 (dua) orang pengawal Habib Rizieq di mobil Chevrolet Spin. Kemudian 4 (empat) orang lainnya tewas setelah mencoba melakukan perlawanan dengan menyerang aparat dan merebut senjata api saat akan dibawa ke Polda Metro Jaya.

Walaupun begitu, mereka juga menyebut bahwa terdakwa dalam kasus dugaan unlawful killing ini tetap melanggar pidana. Di mana ada tindakan di luar Standar Operasional Prosedur (SOP).

“Terdakwa tidak menjalankan SOP terhadap orang yang diduga telah melakukan tindakan kejahatan,” tandasnya.

Dakwaan

Saat ini, terdakwa atasnama Briptu Fikri Ramdhani (FR) dijerat dengan pelanggaran Pasal 351ayat (3) KUHP juncto Pasal 55 ayat 1 KUHP.

Pasal 351 KUHP
(1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

(2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.

(3) Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

(4) Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan.

(5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.

Pasal 55 ayat 1 KUHP
Dipidana sebagai pelaku tindak pidana:
– mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan yang turut serta melakukan perbuatan;

– mereka yang dengan memberi atau menjanjikan sesuatu dengan menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasan, ancaman atau penyesatan, atau dengan memberi kesempatan, sarana atau keterangan, sengaja menganjurkan orang lain supaya melakukan perbuatan.

Pos terkait