Refly Harun Buat Konten soal KM50, Muannas Alaidid : Sampah

  • Whatsapp
Muannas Alaidid
Habib Muannas Alaidid bersama Ipda MYO dan Bripka FR di PN Jakarta Selatan.

Jakarta, Inisiatifnews.com – Kuasa Hukum Fikri dan Yusmin, Habib Muannas Alaidid menyayangkan isi konten yang diproduksi oleh pakar hukum tata negara Refly Harun tentang kasus kematian 6 pengawal Habib Rizieq Shihab di KM 50 Jakarta – Cikampek.

Menurutnya, konten Refly adalah cenderung bisa mengaburkan fakta-fakta hukum yang sedang berjalan saat ini di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, karena hanya berdasarkan perspektif satu sudut pandang saja dan cenderung asumtif tanpa didasari data lengkap tentang masing-masing peristiwa.

Bacaan Lainnya

“Refly Harun menganalisa kasus KM 50 tidak berdasarkan kronologi lengkap, dia hanya menafsirkan penggalan-penggalan kalimat yang tidak utuh, sehingga hasil analisanya dapat menyesatkan publik,” kata Muannas kepada wartawan, Jumat (12/11).

Muannas cukup menyayangkan konten Refly di dalam Kanal Youtubenya yang berjudul Live! Kasus KM50 : Dirkrimum VS Kapolda, Koq beda?. Bagi Muannas Alaidid, konten tersebut cukup berbahaya.

“Analisa hukum RH (Refly Harun -red) itu sebagai sampah, nggak ada logika hukumnya, isinya sampah semua. Karena dimanipulasi dari potongan media bukan sesuai bukti dan fakta hukum,” tegasnya.

Founder dari Cyber Indonesia tersebut menyatakan bahwa apa yang terjadi di dalam fakta-fakta persidangan yang saat ini masih berlangsung sama sekali tidak ada yang berbeda dengan keterangan yang disampaikan oleh Polda Metro Jaya.

“Kalau dipahami sesuai kronologis tidak ada yang berbeda antara keterangan Kapolda saat presscon dengan keterangan Direskrimum di dalam persidangan,” tandasnya.

Muannas menjabatkan tentang kronologis kasus KM 50, di mana di dalam kasus tersebut, peristiwanya terdiri dari 4 rangkaian yang berbeda, lengkapnya adalah sebagai berikut :

TKP 1

TKP pertama terjadi di depan hotel Novotel saat mobil polisi dipepet oleh anggota laskar FPI dan diserang dengan senjata tajam, lalu polisi memberi tembakan peringatan, yang kemudian anggota FPI malah menembak mobil polisi menggunakan senjata rakitan, karena keadaan mencekam polisi mengambil tindakan tegas dan terukur dengan melakukan tembakan pula. di TKP inilah awal terjadinya penyerangan dengan menggunakan senjata tajam parang, clurit dan senjata api rakitan.

TKP 2

Kemudian polisi mengeluarkan tembakan, anggota FPI tadi bergegas masuk kembali ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya. Kemudian tidak jauh dari TKP I, tepatnya di sebuah jembatan, mobil polisi kembali dipepet dalam posisi mobil yang hampir sejajar dengan mobil anggota laskar FPI. Kemudian anggota FPI dari jendela mengarahkan senjata api rakitannya ke arah mobil polisi, kemudian polisi kembali melakukan tindakan tegas dan terukur dengan melakukan penembakan terlebih dahulu ke arah posisi todongan pistol dan ke arah ban mobil. Hal ini dilakukan karena todongan senjata anggota laskar FPI sudah sangat brutal dan sangat berpotensi menghilangkan nyawa anggota Polisi.

Kronologis dijembatan ini adalah bagian dari TKP kedua.

TKP 3

Setelah kejadian di TKP II, anggota FPI melajukan mobilnya hingga polisi kehilangan jejak. Namun saat polisi melajukan mobilnya ke arah tol, tepat di tol kilometer 50 polisi mendengar suara velk mobil yang menyeret aspal, setelah dilihat ternyata itu adalah mobil anggota laskar FPI yang berada di dalam rest area kecil (saat itu mobil anggota laskar FPI kebetulan menabrak mobil yang sedang parkir), sehingga polisi kembali bergegas mengamankan anggota laskar FPI. Dan di tempat inilah dilakukan penggeledahan dan ditemukan senjata samurai, clurit dan senjata api rakitan. Seluruh senjata tersebut diperoleh dari dalam mobil anggota laskar FPI.

Kejadian di rest area kecil ini adalah bagian dari TKP ketiga.

TKP 4

Di TKP ketiga ini diduga sudah ada 2 anggota FPI yang meninggal dan kemudian dibawa ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati. Kemudian anggota laskar FPI tersisa yang masih hidup dimasukan ke dalam mobil untuk dibawa ke Polda Metro Jaya untuk diamankan. Namun di dalam perjalanan dari tol KM 50 menuju Polda Metro Jaya, anggota polisi bernama Fikri dikeroyok di dalam mobil dan senjatanya direbut, sehingga dalam keadaan yang sangat terdesak anggota polisi yang berada di posisi paling depan sebelah sopir yakni polisi Elwira melakukan tindakan tegas dengan menembakan pistolnya ke arah 2 anggota laskar polisi yang terlibat pengeroyokan dan perampasan senjata. Sementara itu, pergumulan perebutan senjata masih terjadi dan akhirnya polisi Fikri berhasil merebut kembali pistolnya dari tangan anggota laskar FPI, dan saat itulah polisi Fikri menembakan pistolnya ke arah 2 anggota laskar FPI sebagai tindakan pembelaan atas nyawa dirinya yang terancam.

Kejadian tersebut di atasa adalah sebagai TKP keempat.

Atas penjelasan di empat Tempat Kejadian Perkara (TKP) tersebut, Muannas akhirnya menilai bahwa tidak ada perbedaan antara penjelasan dari Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Muhammad Fadil Imran dengan Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Metro Jaya Kombes Pol Tubagus Ade Hidayat.

“Jadi penyampaian Refly Harun dalam kanal youtubenya, yang menceritakan seolah ada perbedaan antara keterangan kapolda dengan direskrimum itu adalah penyesatan publik,” tegas Muannas.

Muannas mengatakan bahwa Direksrimum Polda Metro Jaya dalam persidangan menjelaskan secara utuh apa yang disampaikan oleh anggotanya pada saat kejadian, sedangkan Kapolda dalam keterangan pressconnya menceritakan secara global saja. Oleh karena itu, ia pun menyarankan agar Refly menghapus konten videonya itu agar tidak ada masyarakat yang tergiring opini sesat.

“Bahwa kejadian KM 50 tidak terjadi dalam satu waktu atau satu tempat, Refly Harun harus menarik pernyataan dalam akun youtubenya serta menghapus videonya tersebut agar masyarakat tidak tersesatkan, karena jika pernyataanya dibiarkan beredar di akun youtubenya maka akan berpotensi terjadinya penyebaran berita bohong,” tuturnya.

Namun jika tidak dilakukan, Muannas akan mempertimbangkan untuk menyeret Refly ke jalur hukum. “Kami sedang berpikir untuk mengambil langkah hukum karena ada upaya memecah belah dengan mengadu domba pimpinan Polri dan memancing emosi umat,” tegasnya.

Terakhir, Muannas pun menyarankan agar Refly Harun belajar dari kasus yang sempat menyeret Sugi Nur Raharja yang menyinggung persoalan organisasi Islam terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama (NU).

“Meskinya RH sebagai orang yang paham hukum belajar dari kasus Sugik Nur terdahulu, terpidana penghinaan terhadap Nahdatul Ulama yang sempat diunggah dikanal yutubnya, RH saat itu sangat pantas dimintai pertanggungjawaban pidana karena ikut membuat dan menyebarkan, sayang laporannya berjalan ditempat di siber Bareskrim Polri, padahal kita sudah ajukan permohonan agar akun youtubenya disita sebagai barang bukti,” pungkasnya.

Pos terkait