Mahfud MD Minta Kasus Pungli Rp40 Juta Rachel Vennya Diusut Tuntas

Mahfud MD
Menko Polhukam Mahfud MD.

Jakarta, Inisiatifnews.com – Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menegaskan bahwa kasus pemberian uang senilai Rp40 juta dari Rachel Vennya dalam perkara karantina protokol kesehatan Covid-19 adalah murni praktik pungutan liar (Pungli).

“Itu termasuk pungli,” kata Mahfud MD di bilangan Jakarta Pusat usai mengisi Rapat Koordinasi Nasional Satgas Saber Pungli, Rabu (15/12).

Bacaan Lainnya

Untuk itu, ia mempersilakan hukum menjalankan fungsinya dengan baik, memproses hukum perkara yang memang benar-benar salah.

“Biar nanti diproses secara hukum. Nanti saya mau sampaikan agar itu diusut. Biar tidak biasa melakukan itu,” ujarnya.

Perilaku pungli semacam ini menurut Mahfud seharusnya tidak perlu terjadi jika setiap individu masyarakat Indonesia memiliki kearifan di dalam bersikap dana berpikir untuk tidak melanggar hukum.

Bagi Mahfud, moralitas di setiap masing-masing masyarakat penting dijaga dan diterapkan agar perilaku melanggar hukum tidak perlu dilakukan.

“Kalau kita ini kan penegak hukum, jadi pakai pasal. Tapi anda semua, kita semua, di luar hukum punya kesadaran moral,” tuturnya.

Pungli Rp40 Juta

Perlu diketahui, bahwa kasus kabur dari karantina oleh Rachel Vennya berbuntut panjang. Pasalnya, tidak hanya sekedar kabur dari karantina sebagaimana aturan dari penerapan protokol kesehatan Covid-19 saja, akan tetapi ada praktik pelanggaran hukum lain yang tak kalah menarik.

Pasalnya, Rachel diketahui menggelontorkan duit sebesar Rp40 juta kepada Satgas Covid-19 Bandara Internasional Soekarno Hatta (Soetta) Tangerang, Banten. Uang tersebut pun terungkap di dalam ruang persidangan usai pemeriksaan salah satu anggota Satgas Covid-19 Bandara Soetta bernama Ovelina Pratiwi.

Dari pengakuan Ovelina tersebut, diinformasikan bahwa Rachel Vennya melakukan transfer uang ke Satgas Covid-19 melalui rekening atasnama Kania sebesar Rp30 juta. Sayangnya, Ovelina mengaku tidak mengenal siapa itu Kania. Uang tersebut adalah untuk biaya tidak resmi kepada Satgas Covid-19 untuk tiga orang, yakni Rachel Vennya, Salim Nauderer dan Maulida Khairunnisa, masing-masing orang sebesar Rp10 juta.

Lantas kenapa sampai ada transaksi Rp40 juta, Ovelina menyebut bahwa nominal tersebut adalah kesanggupan Rachel sendiri, sementara untuk Rp10 juta sisanya digunakan Ovelina dengan teman-temannya, yakni atasnama Eko dan Jarkasih.

Komunikasi Ovelina dengan Rachel

Di dalam persidangan di ruang Pengadilan Negeri Tangerang, Ovelina mengaku melakukan komunikasi dengan Rachel Vennya H-1 sebelum kedatangan rombongan Rachel di Bandara Soetta usai melakukan perjalanan dari Amerika Serikat. Dalam komunikasi tersebut, Rachel meminta bantuan Ovelina agar bisa dipermudah masuk ke Indonesia tanpa melakukan karantina kesehatan.

Dari hasil komunikasi tersebut, Ovelina mengaku bahwa itu bisa diatur karena Satgas Covid-19 Bandara Soetta meminta masing-masing orang menyetor sebesar Rp10 juta. Namun Oveline sempat menyarankan agar Rachel tidak mengambil opsi tersebut karena terlalu mahal. Akan tetapi Rachel menurut Ovelina menyanggupi nominal tersebut.

“‘Mbak, ini orang Satgasnya minta Rp 10 juta’ saya bilang, ‘ini mahal banget lho, Mbak, lebih baik nggak usah’. Saya bilang gitu, tapi (Rachel bilang), ‘Nggak apa-apa’ katanya, kalau Rp 10 jutanya (per orang) nggak apa-apa buat karantina,” ucap Ovelina di PN Tangerang, Jumat (10/12).

Ovelina menegaskan bahwa nominal Rp10 juta per orang adalah permintaan Satgas Covid-19 Bandara Soetta. Bahkan ia mengatakan bahwa dirinya tidak akan mengiyakan permintaan Rachel jika Satgas tidak mengizinkan.

“Dari Satgas, Pak, semua berwenang dari Satgas. Kalau Satgas tidak bisa bisa, memutuskan tidak, pasti kita tidak akan jalan,” terangnya.

Dari total uang yang ditransfer oleh Rachel, Ovelina mengaku hanya mendapatkan Rp4 juta, sementara Eko mendapatkan Rp4 juta dan Jarkasih mendapatkan Rp2 juta. Uang tersebut adalah kelebihan transfer Rachel sebesar Rp40 juta tersebut. Sementara Rp30 juta adalah biaya untuk Satgas.

“Sisanya kita pakai buat di lapangan, saya Rp 4 juta, Eko Rp 4 juta, Jarkasih Rp 2 juta, Rp 30 juta buat Satgas,” tegas Ovelina.

Dari persidangan tersebut, majelis hakim PN Tangerang memvonis Ovelina Pratiwi dengan 4 bulan penjara dan masa percobaan 8 bulan, kemudian denda Rp 30 juta subsider 1 bulan kurungan.

Pos terkait