Atasi Covid-19, WHO : Temukan dan Isolasi yang Sakit, Karantina yang Terkontak

  • Whatsapp
WHO
Kantor WHO. [foto : Time.com]

Inisiatifnews.com – Wabah Coronavirus disease (COVID‑19) sudah menghinggap di seluruh dunia dan menjadi pandemi yang cukup menakutkan. Bahkan termasuk diantaranya adalah Indonesia.

Berbagai upaya dilakukan oleh negara-negara lain agar masyarakatnya tidak terpapar Covid-19 dan wabah tidak menjalar ke manusia yang lebih luas lagi, salah satunya adalah seruan untuk menutup akses aktivitas masyarakatnya alias lockdown.

Bacaan Lainnya

Namun berdasarkan keterangan dari World Health Organization (WHO), sebuah organisasi di bawah naungan Perserserikatan Bangsa-bangsa (PBB), ternyata Negara-negara tidak bisa begitu saja mudah menangkal Covid-19 dengan mengunci warganya di rumah masing-masing. Akan tetapi harus ada langkah nyata agar bisa benar-benar memutus rantai penyebarannya.

“Yang benar-benar perlu kita fokuskan adalah menemukan mereka yang sakit, mereka yang terinfeksi virus, dan mengisolasi mereka, menemukan kontak mereka dan mengisolasi mereka,” kata Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO, Mike Ryan kepada wartawan.

Ia juga mengatakan bahwa sekalipun dilakukan lockdown namun protokol kesehatan tersebut tidak dijalankan dengan baik dan merata, maka virus akan kembali menyerang karena tidak mati saat inangnya tengah diisolasi sendiri tanpa pengawasan medis.

“Bahaya saat ini dengan karantina wilayah (lockdown). Jika kita tidak menerapkan langkah-langkah kesehatan masyarakat yang kuat sekarang, ketika batasan pergerakan dan karantina itu dicabut, bahayanya penyakit ini akan muncul kembali,” ujarnya.

Sebagian besar Eropa dan Amerika Serikat menyusul langkah yang diambil China dan negara-negara Asia lainnya, serta memberlakukan pembatasan drastis untuk memerangi virus corona baru, dengan sebagian besar pekerja diperintahkan bekerja dari rumah dan sekolah, bar, pub, dan restoran ditutup.

Perlu diketahui, bahwa saat ini Italia menjadi negara yang paling parah terdampak virus di dunia, dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson telah memperingatkan bahwa otoritas kesehatan di Inggris bisa kewalahan mengatasinya. Kerjasama seluruh warga negara menjadi penting yakni dengan menghindari interaksi sosial secara masif.

Menteri perumahan Inggris Robert Jenrick mengatakan bahwa produksi alat tes akan berlipat ganda minggu depan dan meningkat setelahnya.

Ryan juga mengatakan bahwa beberapa vaksin sedang dikembangkan, tetapi hanya satu yang telah memulai uji coba di Amerika Serikat. Ketika ditanya berapa lama sebelum tersedia vaksin di Inggris, dia mengatakan bahwa orang-orang perlu realistis karena melakukan penelitian terhadap sebuah vaksin virus memerlukan waktu yang tidak sebentar antara 6 bulan hingga satu tahun atau lebih.

“Kami harus memastikan bahwa vaksin itu benar-benar aman. Kami memperkirakan setidaknya satu tahun,” kata dia.

Sembari menunggu riset ilmiah tentang vaksin Covid-19, Ryan pun meminta agar langkah-langkah pencegahan dan penindakan harus benar-benar dijalankan agar wabah Covid-19 tidak semakin meluas lagi.

Berdasarkan catatan terakhir dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia per hari Minggu (22/3) pukul 16.00 WIB, sudah ada 514 kasus positif Covid-19, 48 diantaranya meninggal dunia dan 29 sembuh.

Pos terkait