LBM PBNU: Kondisi Darurat, Jenazah Pasien Covid-19 Tak Perlu Dimandikan

  • Whatsapp
virus corona
Source image : Chinatimes.

Inisiatifnews.com – Jenazah pasien Covid-19 tidak perlu dipaksakan untuk dimandikan dalam kondisi darurat. Hal tersebut adalah pandangan Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU).

Pemulasaran jenazah adalah kewajiban umat Islam yang meliputi pemandian, pengafanan, penshalatan, dan penguburan jenazah. Pemulasaran jenazah merupakan kewajiban bagi umat Islam Islam terhadap umat Islam yang telah meninggal dunia. 

Bacaan Lainnya

LBM PBNU menyatakan, keputusan tidak memandikan jenazah pasien Covid-19 adalah jalan terakhir ditempuh dalam situasi darurat. Pilihan ini diambil ketika tenaga medis atau petugas kesehatan tidak menemukan alternatif cara pemandian atau tayamum sebagai dispensasinya jenazah pasien Covid-19. 

Jika disiram dan tayamum jiga tidak dapat dilakukan, jenazah pasien Covid-19 boleh tidak dimandikan dan tidak ditayamumkan. Jenazah pasien Covid-19 boleh langsung dikafankan dan dishalatkan tanpa dimandikan atau ditayamumkan sebelum dimakamkan. 

“Pandangan ulama beragam pada masalah ini. Kita dapat juga mengutip pandangan sebagian Mazhab Hanbali yang membolehkan jenazah pasien Covid-19 langsung dikafankan dan dishalatkan tanpa dimandikan atau ditayamumkan,” kata Wakil Sekretaris LBM PBNU KH Mahbub Maafi dalam siaran persnya Jakarta, Senin (23/3/2020).

LBM PBNU melandaskan sikap keagamaannya pada kondisi darurat atau sulit yang membolehkan tenaga kesehatan mengambil langkah kemudahan (al-masyaqqah tajlibut taysir). 

Penghilangan kesulitan merupakan salah satu prinsip ajaran Islam sesuai firman Allah Surat Al-Haj ayat 78 yakni “Dia tidak pernah sekalipun menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.”

LBM PBNU juga mengutip hadits riwayat Bukhari dan Muslim “Dari Abi Hurairah, ‘Saya mendengar sabda Nabi Muhammad SAW, ‘Segala sesuatu yang aku larang buat kalian semua, maka jauhilah. Segala sesuatu yang aku perintahkan kepada kalian semua, maka lakukan semampu kalian. Generasi sebelum kalian hancur disebabkan terlalu banyak bertanya (protes) dan menyalahi para nabi mereka.’’

LBM PBNU melengkapi Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW dengan kutipan Kitab Qawaidul Ahkam fi Mashalihil Anam karya Izzuddin bin Abdissalam dan Kitab Mughnil Muhtaj karya Al-Khatib As-Syarbini. 

(Jenis masyaqqah atau kesulitan) Kedua, yakni suatu kesulitan yang secara umum dapat melepaskan tuntutan suatu ibadah. Jenis ini mempunyai beberapa macam. Pertama: kesulitan yang teramat sangat seperti kekhawatiran akan keselamatan jiwa, organ, dan fungsi organ. Kesulitan semacam ini menetapkan keringanan. Karena menjaga keselamatan jiwa dan organ tubuh guna menegakkan kepentingan-kepentingan dunia dan akhirat itu lebih diprioritaskan daripada mengeksploitasi tubuh demi menjalankan satu ibadah atau beberapa ibadah, namun ibadah lainnya menjadi terbengkalai akibat kerusakan tubuh.” (Izzuddin, Qawaidul Ahkam: I/192-193). 

“Andaikan ada orang yang meninggal tertimpa reruntuhan sebagaimana tenggelam di sumur atau di laut yang dalam dan sulit untuk mengeluarkan dan memandikannya dan mentayamumkannya, maka tidak perlu dishalati karena tidak memenuhi syarat. Sebagaimana dilansir oleh Syaikhani dari imam Mutawalli. Imam Nawawi dalam Kitab Al-Majmu’ menyampaikan, ‘Tidak ada perbedaan pendapat dalam perihal ini.’” (As-Syarbini, Mughnil Muhtaj: I/360). 

Kiai Mahbub menandaskan, pertimbangan darurat ini sekali lagi harus mengikuti saran tenaga medis. Fiqih hanya memberikan alternatif pandangan yang dapat ditempuh dalam situasi darurat.

“Yang menentukan pihak medis. Apakah ini bahaya atau tidak bagi yang memandikan ataupun bagi tenaga medis yang menayamumkannya,” tandas Kiai Mahbub. (INI) 

PHP Dev Cloud Hosting

Pos terkait