Habib Ja’far : Pakaian Muslim yang Penting Tutup Aurat

  • Whatsapp
habib jafar
Habib Husein Ja'far Al Hadar.

Inisiatifnews.com – Dai milenial, Habib Husein Ja’far Al Hadar menyatakan bahwa baju gamis alias koko sejatinya bukan merupakan fashion item umat Islam. Karena menurutnya, jenis baju tersebut kental sekali irisannya dengan budaya China.

“Gua nggak ngerti sih apa yang dimaksud pakaian muslim. Katanya baju koko, baju koko itu pakaian Tionghoa, ada irisannya dengan budaya Tionghoa,” kata Habib Ja’far saat berdialog di dalam podcast Deddy Corbuzier.

Bacaan Lainnya

Ia pun menyampaikan bahwa Islam tidak mendekte fashion item bagi pemeluknya. Hanya standar berpakaian saja yang didekte oleh Islam, yakni yang menutup aurat. Bahkan Habib Ja’far menyebut Islam tak memperdulikan budaya apakah celana jeans, kaos oblong, sarung bahkan jubah sekalipun.

“Islam tidak mengatur fashion kita sebenarnya, Islam itu bukan kuantitas, bukan lu berpakaian sarung, berpakaian jubah dan lain-lain, tapi bagi gua fashion dalam Islam itu adalah kualitas, yakni gua menutup aurat, selesai, apapun itu (pakaiannya),” jelasnya.

Jenis fashion item bagi Habib Ja’far hanya sebatas budaya semata. Bahkan ia menjawab pertanyaan Deddy mengapa dirinya yang notabane memiliki gelar Habib malah mengenakan celana jeans dan kaos oblong.

“Kenapa gua memilih pakaian seperti ini (kaos oblong dan celana jeans). Karena begini, karena gue memilih segmentasi dakwah anak muda, generasi milenial melalui youtube, di kafe-kafe, jarang gua (dakwah) di masjid,” ujarnya.

Karena segmentasi dakwahnya di kalangan milenial itu, Habib Ja’far merasa perlu menyesuaikan penampilannya yang lebih akrab dengan target dakwahnya itu.

“Segmen itu yang belum banyak terjamah menurut saya,” paparnya.

Aurat

Aurat adalah suatu bagian tubuh manusia yang wajib ditutupi dan tidak boleh diperlihatkan kepada orang yang bukan mahramnya. Mahram adalah orang-orang yang diharamkan untuk dinikahi karena adanya hubungan nasab, kekerabatan dan persusuan.

Sebagaimana dengan Surat An-Nur ayat 31.

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung‘”.

Sementara itu, tubuh wanita yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan berdasarkan tafsiran dari Ibnu ‘Abbas dan ‘Aisyah.” (Mughnil Muhtaj, 1: 286).

Sementara itu, aurat bagi laki-laki adalah antara pusar hingga lutut.

Anas bin Malik berkata,

وَإِنَّ رُكْبَتِى لَتَمَسُّ فَخِذَ نَبِىِّ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ، ثُمَّ حَسَرَ الإِزَارَ عَنْ فَخِذِهِ حَتَّى إِنِّى أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِ فَخِذِ نَبِىِّ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم

Dan saat itu (ketika di Khaibar) sungguh lututku menyentuh paha Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu beliau menyingkap sarung dari pahanya hingga aku dapat melihat paha Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang putih“.

Pos terkait