Adian Husaini Harap Pemuda Muslim Tak Mudah Kafirkan Orang Lain

  • Whatsapp
Adian Husaini
Cendekiawan Muslim, Dr Adian Husaini, Ph.D.

Inisiatifnews.comCendekiawan Muslim, Adian Husaini mengingatkan kepada khususnya pemuda Muslim agar tidak berlebihan dalam beragama tanpa ada pemahaman yang baik. Salah satunya ketika mudahnya seseorang memberikan label kafir kepada pemerintah dan polisi, atau kepada sesama muslim lainnya.

“Hindari ekstrem kanan, banyak anak muda dengan semangat tinggi menyebut anggota DPR dan polisi itu kafir, kita harus cegah mereka karena bahaya bisa saling kafirkan sesama muslim bahkan berani saling membunuh antara sesama,” kata Adian dalam webinar Kongres Pancasila 2020, Selasa (2/6/2020).

Bacaan Lainnya

Ia juga menyayangkan adanya fenomena umat Islam Indonesia yang kurang cerdas dalam memahami agama, di mana mereka sampai memilih keluar negeri karena merasa jika masih berada di Indonesia, ia tak bisa menjadi muslim yang baik.

“Bahkan ada yang sampai ke luar negeri karena merasa tidak bisa jadi muslim yang baik jika masih tinggal di NKRI. Kalau ketemu saya, saya selalu katakan, eh kamu itu berlebihan kalau begitu,” ujarnya.

Salah satu pengurus Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) tersebut menuturkan, bahwa sebagai seorang manusia, harusnya bisa menempatkan diri dengan baik. Di mana ketika berstatus sebagai warga negara maka sebaiknya seseorang bisa menjadi warga dan bangsa yang baik. Kemudian dalam konteks statusnya sebagai hamba Tuhan, maka ia harus menjadi umat beragama yang baik.

“Kita harus tetap jadi bangsa Indonesia yang baik, dan juga jadi umat islam yang baik,” tuturnya.

Sementara dalam memperjuangkan segala hal di Indonesia, ia pun berharap agar tetap mengindahkan koridor hukum dan konstitusi yang berlaku, tidak boleh sembarangan.

“Kita berjuang, tapi sikap kita harus tetap konstitutional. Dulu jilbab dilarang, kita berjuang akhirnya sekarang sampai polisi boleh berjilbab. Alhamdulillah,” pungkasnya.

Bangsa Indonesia adalah manusia yang beradab

Selain itu, pendiri sekaligus peneliti di Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) menyinggung tentang hilangnya 7 (tujuh) kata di dalam Pancasila yang semula ada di dalam Piagam Jakarta, yakni sila pertama ; Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya.

“Setelah 7 kata hilang maka rumusan itu hilang makna,” kata Adian.

Pun demikian, Pancasila sesuai hasil kesepakatan para pendiri bangsa itu tetap memiliki makna islami yang kental sekalipun sila pertama tidak sesuai dengan Piagam Jakarta. Makna islami yang disebut Adian ada di dalam sila kedua yakni Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Dan ini dinilai Adian sebagai karakter yang harus dimiliki oleh bangsa Indonesia khususnya umat Islam.

“Tapi ada bahasa di Pancasila yang luar biasa, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Bahkan bahasa Indonesia saja belum bisa menjelaskan kata adil itu secara sempurna,” tuturnya.

Bagi Adian, adil dan beradab itu memiliki makna yang khas bagi bangsa Indonesia khususnya umat Islam itu sendiri. Bahkan adil dan beradan di sila kedua ini tidak seperti halnya humanity dalam perspektif negara sekuler.

“Dan adil yang beradab itu bukan seperti humanity ala barat yang liberal dan sekuler. Ini konsep yang harus kita elaborasi karena ini luar biasa sekali. Dan adab itu juga lahir dari sebuah hikmah,” jelasnya. [NOE]

Pos terkait