HUT MUI Ke-45

Wamenag Ingin Pimpinan MUI Contohkan Islam Wasathiyah

  • Whatsapp
2019 10 25
Wakil Menteri Agama, KH Zainut Tauhid Sa'adi. [source image : Katadata]

Inisiatifnews.com Majelis Ulama Indonesia (MUI) kini tengah berada di era revolusi industri 4.0 dan era disrupsi. Perkembangan teknologi informasi yang pesat dan dinamis mengubah rupa kehidupan secara radikal. 

Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum MUI K.H Zainut Tauhid Sa’adi saat memperingati Milad MUI ke-45, Jum’at (7/8).

Bacaan Lainnya

Milad yang dihadiri oleh Wakil Presiden RI yang juga Ketua Umum MUI KH. Ma’ruf Amin dan seluruh jajaran pimpinan MUI Pusat dan daerah berlangsung secara daring.

KH Zainut Tauhid menjelaskan, derasnya informasi dan pertukaran ruang yang cepat di dunia maya, membuat manusia yang berinteraksi melalui media sosial lebih sering mengandalkan aspek yang bersifat emosional. 

Imbasnya, lanjut Zainut, terjadi fenomena post truth, yakni ketika situasi obyektif lebih sedikit pengaruhnya dibanding hal-hal yang mempengaruhi emosi dan kepercayaan personal dalam pembentukan opini publik.

Post truth ini yang menyuburkan hoaks dan maraknya konten kebencian, termasuk kebencian atas nama agama. Apalagi masyarakat kita cenderung menyukai judul berita atau informasi yang bersifat provokatif dan adu domba, dan malas melakukan verifikasi atau tabayyun,” ujar Zainut yang juga menjabat sebagai Wakil Menteri Agama (Wamenag) ini.

Zainut mengungkapkan, pada skala global, bangsa ini menghadapi isu terkait dengan perang dagang, dan semakin menguatnya populisme atau identitas kelompok, termasuk identitas kelompok keagamaan.

Karena itu, Zainut mengingatkan, penguatan identitas kelompok ini tidak hanya terjadi di kalangan Islam, namun juga terjadi pada agama lain di dunia.

“Penguatan identitas dapat berpotensi menuju eksklusivisme. Jika hal ini dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, dan jika ekslusivisme tercampur dengan ideologi kebencian, maka dapat melahirkan penghalalan tindak kekerasan atas nama agama,” katanya. 

Dijelaskan lebih lanjut, hoaks dan ujaran kebencian berpotensi menimbulkan konflik horizontal internal umat beragama maupun antarumat beragama. 

Bagaimanapun, MUI perlu bersyukur karena telah menyadari fenomena ini, dan Komisi Fatwa telah mengeluarkan Fatwa MUI Nomor 24 Tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah melalui Media Sosial. 

Pada bagian lain, Zainut mengajak agar seluruh pihak mengamalkan nilai-nilai Islam wasathiyah. Menurut dia, Islam wasathiyah yang perlu terus dipraktikkan, dipelihara, dan dikembangkan. Karena sebagai opsi terbaik yang dipilih untuk menjawab tantangan zaman baik dalam skala lokal, nasional, maupun global.

“Dan pimpinan MUI penting sekali untuk memberikan teladan,” ujar dia.

Zainut pun meyakini, bahwa Islam wasathiyah akan mengafirmasi sikap dan praktik keagamaan yang memiliki komitmen kebangsaan, penghormatan terhadap kearifan lokal, toleran, dan mengutamakan praktik beragama tanpa kekerasan. 

“Saya meyakini, mempraktikkan Islam wasathiyah dapat mendukung kehidupan beragama yang sehat, harmonis dan rukun, sebagai modal sosial yang dibutuhkan dalam proses pembangunan bangsa,” pungkas Politisi PPP ini. (INI)

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia

Pos terkait