MUI Minta Umat Tak Ubah Redaksional Adzan

  • Whatsapp
IMG 20201130 225755
Ketua MUI Pusat periode 2020-2025, KH Cholil Nafis.

Inisiatifnews.com – Ketua Majelis Ulama Indonesia Pusat periode 2020-2025, KH Cholil Nafis merespon munculnya lafadz adzan yang menggunakan lafadz “Hayya ‘Alal Jihad” yang digaungkan oleh beberapa masyarakat simpatisan Habib Bahar bin Smith dan Habib Rizieq Shihab.

Ia menyebut, bahwa adzan adalan panggilan mulia untuk mendirikan shalat yang sifatnya sunnah muakkadah.

Bacaan Lainnya

“Adzan itu sebenarnya panggilan utk memberi tahu waktu shalat dan melakukan shalat jemaah di Masjid,” kata Cholil Nafis dikutip Inisiatifnews.com dari laman Facebook pribadinya, Senin (30/11/2020).

Walaupun selain untuk keperluan sholat, adzan juga disunnahkan oleh syariat dikumandangkan di beberapa hal lainnya.

“Meskipun syariah masih menganjurkan kepada selain shalat, seperti sunnah mengadzani anak yang baru lahir atau saat jenazah diturunkan ke liang kubur,” ujarnya.

Walaupun begitu, pernahkan Rasulullah SAW merubah redaksional adzan. Cholil Nafis memberikan rujukan sumber hukum yang dikutip dari hadist.

“Maka di zaman Rasulullah SAW, pernah dilakukan penambahan atau perubahan redaksi adzan manakala ada udzur yang menghalangi masyarakat datang ke Masjid, seperti hujan deras dan angin kencang. Adzan diubah dengan pemberitahuan, dalam redaksi adzannya bahwa masyarakat diminta untuk shalat di rumahnya,” paparnya.

Diriwayatkan Imam Buchori dalam hadist :
‎روى البخاري (666) ، ومسلم (697) عَنْ نَافِع ، قَالَ : ” أَذَّنَ ابْنُ عُمَرَ فِي لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ بِضَجْنَانَ ، ثُمَّ قَالَ : صَلُّوا فِي رِحَالِكُمْ ، فَأَخْبَرَنَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُ مُؤَذِّنًا يُؤَذِّنُ ، ثُمَّ يَقُولُ عَلَى إِثْرِهِ : ” أَلاَ صَلُّوا فِي الرِّحَالِ ” فِي اللَّيْلَةِ البَارِدَةِ ، أَوِ المَطِيرَةِ ، فِي السَّفَرِ .

Dari Nafi’ bahwa Ibnu Umar pernah mengumandangkan adzan shalat di malam yang sangat dingin dan berangin kencang, maka dalam adzannya ia mengucapkan; ‘Alaa sholluu fir rihaal (Ingatlah shalat-lah kalian di persinggahan?) kemudian katanya; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah memerintahkan mu’adzinnya setelah adzan jika malam sangat dingin dan terjadi hujan lebat untuk mengucapkan; ‘Alaa shalluu fir rihaal (Ingatlah shalat-lah kalian di persinggahan?) ”

Cholil Nafis menegaskan bahwa perubahan redaksional adzan tersebut hanya terjadi dalam peristiwa itu. Selebihnya, Rasulullah tidak pernah merubah redaksional adzan dalam kondisi apapun, walaupun dalam kondisi peperangan sekalipun.

“Selain karena urusan shalat itu, Nabi SAW tak pernah mengubah redaksi adzan. Bahkan saat perangpun tak ada redaksi adzan yang diubah,” jelas kiai Nafis.

Atas dasar itu, ia pun menyatakan bahwa resaksional adzan tidak boleh diubah-ubah baik dikurangi maupun ditambah-tambah.

“Redaksi adzan itu tak boleh diubah menjadi ajakan jihad. Karena itu ibadah yang sifatnya tauqifi (langsung dari Syariah),” tegas Cholil Nafis.

Lalu, ia juga mengutipkan sebuah hadist yang menguatkan argumentasinya itu.

فقد اتفق الفقهاء على الصيغة الأصلية للأذان المعروف الوارد بكيفية متواترة من غير زيادة ولا نقصان,وهو مَثْنى مَثْنى،كَمَا اتفقوا على التَّثويب,أي الزيادة في أذان الفجر بعد الفلاح وهي:” الصلاة خير من النوم” مرتين،عملاً بما ثبت في السنة عن بلال1،
.
1 – رواه الطبراني وغيره.نقلاً من حاشية الفقه الإسلامي وأدلته (1/543).
.
“Ulama telah sepakat tentang redaksi adzan adalah sebagaimana diketahui secara umum tanpa ditambah atau dikurangi. Yaitu dua2 dan ditambahkan redaksi “shalat lebih baik daripada tidur” utk shalat subuh dua kali. Inilah utk mengamalkan sunnah Nabi saw”. Dinukil dari Kitab Alfiqh al-Islami wa adillatuhu, karya Syaikh Wahbah Al Zuhaili.

Oleh karena itu semua, Cholil Nafis memperingatkan dengan tegas agar masyarakat tidak melalukan perubahan adzan dengan alasan apapun.

“Saya berharap masyarakat tak mengubah adzan yang sudah baku dalam Islam. Panggilan jihad tak perlu melalui adzan. Dan jihad bukan hanya berkonotasi perang secara fisik saja tapi juga dalam memantapkan iman dan penguatan umat Islam,” ulasnya.

Terakhir, ia pun menyerukan kepada publik luas agar tidak terprovokasi dengan seruan-seruan jihad semacam itu

“Dan saya berharap masyarakat tenang dan tak perlu resah dan jangan sampai terprovokasi untuk melakukan kekerasan dan kerusuhan,” tutupnya. []

Pos terkait