Pernikahan Beda Agama, Ingat Rambu-rambu Syariat

Pernikahan
Ilustrasi pernikahan.

Jakarta, Inisiatifnews.com – Perdebatan masih bermunculan sampai saat ini terkait dengan pro dan kontranya pernikahan beda agama di Indonesia. Ada yang mencoba membenarkan dengan perspektif pikiran semata, dan ada pula yang kontra dengan perspektif syariat yang ada.

Kali ini, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Muhammad Cholil Nafis menegaskan, bahwa jika merujuk kepada syariat Islam, maka muslim maupun muslimah yang menikah dengan pasangannya yang berbeda agama, maka hukum pernikahannya tidak sah dan haram.

Bacaan Lainnya

Ia pun menekankan hal ini, karena di dalam ilmu Fiqih, jelas menekankan larangan tersebut sebagai koridor yang disepakati bersama berdasarkan sumber hukum yang ada.

“Dalam fikih Islam itu ditentukan sah dan tidaknya, karena Allah telah menggariskan melalui wahyu-Nya,” kata kiai Cholil Nafis, Jumat (11/3).

Sumber hukum yang dijadikan dasar mengapa pernikahan beda agama tidak sah dan dilarang keras bahkan dihukum sebagai perbuatan yang haram karena termaktub di dalam Alquran.

“Jadi para ulama bisa mengkaji nash berdasarkan rambu-rambu-Nya,” ujarnya.

Lebih lanjut, pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah Depok ini mengingatkan kepada umat Islam di seluruh Indonesia, bahwa dalam beragama, keyakinan dan iman saja tidak cukup, akan tetapi ada perilaku yang didasari oleh aturan hukum syariat.

“Iman dan niat tak cukup, tapi juga harus berdasarkan syariah,” pungkasnya.

Dasar Hukum

Di dalam Alquran Surat Al Baqarah ayat 221, Allah SWT sudah menyatakan tegas larangan tentang menikah berbeda agama.

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰۤىِٕكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِ ۖ وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ࣖ 221

Artinya : Dan janganlah kamu nikah perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.

Berdasarkan perintah dan larangan Allah di dalam kitab suci-Nya itu, maka orang-orang yang beriman dan bertaqwa tidak boleh menikah dengan orang yang berbeda keimanannya, serta menyekutukan-Nya.

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا

Artinya : Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.

Oleh karena itu pula, Majelis Ulama Indonesia dalam ketetapan Fatwa MUI tahun 2005 hasil Munas VII tanggal 29 Juli 2005 menyatakan, bahwa nikah beda agama adalah haram dan tidak sah.

Pos terkait