Sugi Nur Ngaku Belajar Agamanya Secara Otodidak

  • Whatsapp
Ngeri Mubahalah Gus Nur yang membuat Capres Dildo bereaksi Ist13428546e5483411
Sugi Nur Raharja sedang mubahalah.

Inisiatifnews.com – Sugi Nur Rahardja ternyata bahwa dirinya belajar menjadi penceramah secara otodidak. Tersangka kasus ujaran kebencian terhadap ormas Nahdlatul Ulama (NU) ini mengatakan dirinya memang tidak pernah menimba ilmu di pondok pesantren untuk memahami dasar-dasar agama hingga membuatnya nekat mengaku sebagai ustadz atau ulama.

“Nggak (mondok di pesantren, red). Kan di dalam ilmu di dunia ini, kan ada namanya otodidak,” kata Gus Nur dikutip dari Detikcom, Jakarta Selatan, Rabu (28/10/2020).

Bacaan Lainnya

Sugi Nur menyebut bahwa ada banyak orang yang mengenyam pendidikan agama di pondok pesantren dan hafal ratusan kitab, namun tidak bisa memahami ilmu kehidupan. Sementara dia mengklaim dirinya meski tak pernah menjadi santri namun mampu membangun pesantren.

“Hidup ini relatif. Banyak orang dari kecil mondok, hafal ratusan kitab, tapi dia tidak menguasai ilmu kehidupan. Contoh begitu dapat tanah, dapat pesantren, nggak berkembang itu kan,” ujar Gus Nur.

“Saya nggak mondok, tapi saya dikasih Allah skill pintar cari uang. Makanya saya bisa bangun pesantren 3 lantai, 300 santri gratis semua, saya tanggung semua biayanya, ustadz-ustadznya juga itu,” tambahnya.

“Ini belum tentu kiai yang mondok puluhan tahun tuh belum bisa, hidup itu kan begitu melihatnya,” sambung dia tanpa menjelaskan lebih rinci di mana pesantren yang dimaksud.

Sugi Nur lantas menceritakan awal dirinya memperdalam ilmu agama. Dulu dia mengawali karier sebagai pemain debus mengikuti jejak ayahnya. Karena itu, dia mengaku tidak punya waktu mengenyam pendidikan formal dan hanya menyelesaikan sekolah hingga bangku SD. Ia juga menjelaskan bahwa dirinya meninggalkan karier sebagai pemain debus setelah ayahnya wafat. Dari situ, dia mengaku baru mulai menekuni agama.

Meski demikian, ilmu debus tidak sepenuhnya dia tinggalkan. Dia kemudian memanfaatkan ilmu debusnya untuk media dakwah, termasuk berceramah dari dalam kubur, di mana ia menyampaikan dakwah-dakwahnya dengan cara dikubur hidup-hidup.

“Nah, setelah Abah wafat, saya buang semua ilmu debus, saya mulai menekuni agama. Cuma satu yang saya tidak bisa buang, (ilmu, red) dikubur hidup-hidup. Diseret mobil, kebal mercon, disetrika apalah itu bisa saya buang. Tinggal satu yang nggak bisa, (ilmu) dikubur,” jelas Gus Nur.

Dikubur yang dimaksud Gus Nur adalah dirinya dikafani, dikubur di dalam tanah selama satu jam. Kemampuan ini menjadi modal Sugi Nur untuk menekuni karier penceramah.

“Maksudnya bisa saya pakai, dikubur hidup-hidup, dikafanin, dikasih papan, dikubur tanpa lubang satu jarumpun. Dikubur satu jam. Lihat di video saya, tahun 2005-an. Akhirnya saya berimprovisasi, saya kenal agama, saya dakwah dari panggung ke panggung seperti biasanya, tapi bahasa kerennya ‘kok nggak viral-viral,” terang Gus Nur.

Sugi Nur mengungkapkan caranya berdakwah dari dalam kubur akhirnya viral. Ia menyebut dirinya sebagai tokoh revolusi dakwah dalam kubur. []

PHP Dev Cloud Hosting

Pos terkait