Chandra Liow Ceritakan Kisah Pilu 2 Bulan Lawan Covid-19 dan Badai Sitokin

  • Whatsapp
chandra liow
Chandra Liow saat kritis di IGD Eka Hospital BSD akibat badai sitokin.

Jakarta, Inisiatifnews.com – Siapa yang tak kenal dengan Tomothy Liow Chandra alias Chandra Liow. Konten kreator dan Youtuber kawakan ini banyak sekali menelurkan karya-karya spektakuler dengan kemampuannya dalam bidang cinematografi.

Namun sudah dua bulan pemilik brand Time2One tersebut absent dari kancar industri hiburan tanah air. Ternyata, ia muncul dengan kabar yang kurang sedap. Pasalnya, ia hampir meninggal dunia karena serangan virus Covid-19.

Bacaan Lainnya

Melalui akun Instagram pribadinya, Chandra Liow menyampaikan bahwa dirinya mulai terpapar virus Covid-19 pada akhir bulan Juni lalu. Kemudian, tanggal 9 Juli ia harus masuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) karena virus sudah menyebar ke seluruh komponen penting di dalam tubuhnya.

“29 Juni positif covid, 9 Juli harus masuk IGD, badai sitokin, hati infected, jantung infected, ada pengentalan darah (D-Dimer 1500), paru-paru infected sudah buram, nyawa sudah kritis dan dokter pun juga sudah keluar kata-kata, harus ikhlas ya,” kata Chandra, Jumat (12/9).

Dengan kondisinya yang semakin memburuk akibat badai sitokin tersebut, partnet kerja Christoforus Tommy alias Tommy Limmm tersebut mengaku sudah pasrah jika nyawanya harus dicabut oleh Tuhan.

Dalam kondisi kritisnya itu, ia hanya ingin agar Tuhan segera menyembuhkan orangtuanya yang ternyata juga ikut terjangkit Covid-19 dengan gejala ringan.

“Di saat itu nyokap juga ikut kejangkit dengan gejala ringan jadi gue minta Tuhan ; Tuhan, kalau lo mau ambil nyawa gue, ambil tapi gue mau minta nyokap gue sembuh 100%,” sambungnya.

Chandra semakin hopeless ketika setiap hari ia melihat rekan-rekannya sesama pengidap Covid-19 harus meregang nyawa di IGD. Di dalam benak Chandra, ia sebentar lagi juga akan meninggal dunia karena infeksi virus tersebut.

“6 hari di IGD, tiap hari ada yang meninggal. Di kepala gue cuma menunggu giliran,” ujar Chandra.

Namun, ia merasa bersyukur karena ada kesempatan dirinya untuk sembuh. Kondisinya tubuhnya masih bisa membaik dan mendapatkan perawatan lebih intensif dari tim medis di Eka Hospital BSD.

“Tapi apa yang gue minta ternyata bukan rencana-Nya, akhirnya gue dapat pengobatan dan lanjut rawat inap dengan estimasi 2 bulan di rumah sakit. 2 bulan? tangan Tuhan belum selesai bekerja dan ternyata 3 minggu sudah boleh pulang rawat jalan,” kisahnya.

Dengan kondisinya itu, ia merasa sangat senang dan optimis bahwa dirinya akan sembuh melawan badai sitokin ini.

“Di hari terakhir untuk pertama kalinya melihat refleksi sendiri di kaca kamar mandi rumah sakit dan bisikan dari mulut gue ; I survive?. Nangis. Lanjut focus recovery di rumah,” lanjut Chandra.

Selama perawatan mandiri di rumah, ia masih menutup akses komunikasi dengan siapapun termasuk dengan sosial medianya. Ia murni fokus untuk pemulihan diri dengan berbagai aktivitas recovery. Mulai dari fisioterapi, mengkonsumsi vitamin dan suplemen serta berjemur tiap hari.

Kemudian, pada tanggal 2 September ia melihat hasil scan CT Thorax, paru-parunya sudah mulai tampak bersih, tidak seperti kondisinya saat tanggal 9 Juli yang tampak buram akibat tertutup oleh virus.

“Dan hasil dokter di 2 September, bercak sudah tidak ada. I escaped death. I am a survivor. I am blessed.

Karena pengalamannya itu, Chandra Liow mewanti-wanti seluruh masyarakat agar memastikan kesehatan mereka masing-masing, jangan sampai terpapar virus Covid-19 yang membuatnya nyaris meregang nyawa itu.

“Jaga kesehatan lo,” pungkasnya.

Pos terkait