Duo Youtuber Indonesia, Deddy Corbuzier dan Raditya Dika Bahas Podcast

  • Whatsapp
raditya dika podcast
Raditya Dika saat melakukan podcast bersama Deddy Corbuzier.
PHP Dev Cloud Hosting

Inisiatifnews.com – Salah satu konten yang cukup menarik saat ini di channel Youtube adalah podcast. Rasa-rasanya influencer berpengaruh Indonesia ini yang mempopulerkan seni podcast kepada masyarakat melalui channel Youtube mereka, yakni Deddy Corbuzier dan Raditya Dika.

Baru-baru ini, kedua influencer sekaligus Youtuber dan content creator ini melakukan kolaborasi. Dika, panggilan Raditya Dika hadir dalam podcast milik Deddy. Mereka sempat membahas tentang podcast itu sendiri.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan pengakuan Deddy di hadapan Dika, bahwa ia membuat konten podcast karena terilhami oleh Raditya Dika yang lebih dulu membuat konten serupa.

“Gue pertama kali bikin podcast itu gara-gara gue lihat Radit bikin podcast,” kata Deddy.

Dalam pembicaraan keduanya itu, Deddy melontarkan bahwa ada salah seorang podcaster sekaligus seorang penulis menyebut bahwa dirinya dan Dika adalah dua sosok orang yang merusak terminologi podcast itu sendiri.

Mendapati informasi tersebut, Dika pun kaget. Ia baru menyadari jika ada orang yang menyalahkan konsep podcast yang dibuatnya itu.

Lantas apa itu podcast ?

Secara terminologi, podcast adalah sebuah konten berupa audio yang dibuat seseorang dengan mengangkat isi pembicaraan baik individual maupun bersama-sama dengan orang lain. Kemudian konten audio itu diunggah di internet dan dapat didownload oleh orang lain kapanpun dan dimanapun.

Podcast sendiri merupakan sebuah webcast. Nama webcast ini cenderung kabur dan lebih dikenal dengan istilah podcast seiring banyaknya penggemar device iPod yang notabane adalah perangkat pemutar musik genggam produksi Apple Computer, sehingga publik lebih familiar dengan kata Podcast dibanding Webcast.

Kemudian istilah podcasting juga muncul dari sebuah artikel yang dibuat oleh Ben Hammersley dan dimuat oleh surat kabar The Guardian pada bulan Februari 2004. Dan dari perkembangan pengertian istilah podcast ini muncullah uraian bahwa podcast adalah singkatan dari kalimat personal on demand broadcast, yakni sebuah penyiaran yang dilakukan atas dasar permintaan pribadi.

Salahkah Podcast dibawakan di Youtube ?

Raditya Dika sebagai salah satu orang yang mempopulerkan podcast di channel Youtube mengakui bahwa sejarah adanya podcast karena aktivitas penyiaran tersebut berasal dari populernya penggunaan iPod pada saat itu.

“Kalau kita mau main terminologi kan emang podcast dari Apple Podcast (iPod device –red),” kata Dika merespon Deddy.

Pada dasarnya podcast sendiri adalah produk digital download dan digital audio streaming tanpa menampilkan visual. Karena adanya perkembangan teknologi informasi seperti munculnya Youtube sebagai kanal video berbasis internet, kemudian podcast itu diangkat di sana.

Dan jika memang ingin tetap bertahan dalam terminologi asli podcast, Raditya Dika pun menjawabnya dengan santai. Ia mengatakan bahwa kegiatan personal on demand broadcast yang dibuatnya bisa didengarkan hanya suara saja, caranya dengan tidak melihat visualisasinya di layar sehingga makna podcast yang sebenarnya bisa dinikmati tanpa harus begitu saja menyalahkan teknik podcast yang dibawakannya itu.

Apalagi bagi Dika, podcast yang dibawa ke Youtube terbilang baru. Dan diyakininya bahwa sesuatu yang baru memiliki tantangannya sendiri. Betapapun itu, pria yang besar dari karya tulis dan sebagai komika itu menyebut bahwa apapun tetap harus mengikuti perkembangan jaman yang ada.

“Semua hal baru pasti ada tantangannya. Yang kita lakukan kan baru ya. Betul, podcast ditaruh di Youtube mungkin ini beda dari podcast yang aslinya secara terminologi tadi dari iPod dan lain-lain,” jelas Dika.

“Atau lu nontonnya merem, jadi podcast kan,” lanjutnya sembari berkelekar dengan Deddy.

Syarat Jadi Podcaster

Tidak semua podcast itu bisa digrowth dengan baik dan bertahan lama jika tidak dibawakan dengan baik dan tepat. Karena ternyata apa yang dilakukan Deddy Corbuzier dan Raditya Dika dalam membawakan podcast memiliki teknik tersendiri, bukan hanya sekedar asal cuap-cuap apalagi bersama dengan narasumber.

1. Memiliki tingkat penasaran yang tinggi

Menurut Raditya Dika, seseorang yang ingin membuat podcast dan menjadikannya berkembang, pertama adalah dia harus memiliki rasa curious (penasaran) yang tinggi. Bahkan untuk kasus ini, Radit sampai mengatakan bahwa dirinya sangat tidak menuntut putrinya yakni Alea sekedar pintar melainkan lebih kepada memiliki rasa penasaran yang tinggi.

“Karena kalau dia (Alea) curious maka dia akan bisa meng-hold conversation seperti ini dan jadi kaya pikirannya. Kalau dia curious maka dia akan belajar banyak hal. Pintar itu akan kalah sama orang penasaran,” tutur Dika.

Dengan tingkat rasa penasaran yang tinggi itu, maka lawan bicara akan lebih senang bercerita banyak dan lama karena merasa ada orang yang peduli dan tertarik dengan apa yang disampaikannya. Dan bagi Dika, orang yang memiliki tingkat penasaran tinggi cenderung memiliki kepedulian tersendiri dengan lawan bicaranya ketika sedang berbincang bersama.

Ketika seseorang memiliki tingkat rasa penasaran yang tinggi, maka itu adalah modal awal seseorang bisa membawakan podcast dengan baik atau tidak.

2. Jangan suka potong pembicaraan narasumber

Poin ini juga tak kalah penting bagi Raditya Dika apakah podcast itu bisa bertahan lama dan berkembang atau tidak. Yakni seseorang podcaster tidak suka menyerobot atau memotong omongan narasumber.

“Yang membedakan podcaster yang baik dan enggak dalam konteks interview atau ngobrol-ngobrol gini adalah bisa nggak dia nahan untuk tidak bertanya. Bisa nggak di saat narasumbernya ngomong dia nggak nanya lagi. Bisa nggak dia serap dulu formuling dulu, disimpan dulu baru dikeluarin (dalam formulasi pertanyaan baru yang lebih jauh),” ujarnya.

3. Jangan sok pintar dan mudah menyalahkan narasumber

Dan yang tak kalah penting selanjutnya adalah seorang podcaster tidak merasa paling pintar dan cenderung mudah menyalahkan narasumber. Karena dalam kegiatan podcasting, seorang podcaster basicnya membawa perspektif dirinya ingin tahu bukan ingin menggurui apalagi menghakimi dan menyalahkan narasumbernya.

“Perspektif kita adalah untuk tahu dia mau cerita apa, bukan untuk ngasih lihat bahwa kita juga tahu. Itu beda dua-duanya,” jelas Dika.

Tidak masalah ketika seorang podcaster memberikan referensi dan fakta-fakta lain kepada narasumber untuk memberikan masukan dan counter terhadap sebuah konteks pembicaraan yang dibawakan, dengan tujuan untuk memperkaya hasanah dan memperbanyak isi obrolan. Hanya saja yang menjadi poin penting Raditya Dika adalah ego dari podcaster itu sendir.

“Jangan sampai ini untuk mengalahkan dia (bukan sok pintar). Ini juga penting,” lanjutnya.

[NOE]

Pos terkait