Ada Hacker Ngaku Retas Data KPU, Pramono : Itu DPT 2014

  • Whatsapp
Pramono Ubaid Tanthowi
Komisioner KPU, Pramono Ubaid Tanthowi. [NET]

Inisiatifnews.com – Wakil Ketua Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU), Pramono Ubaid Tanthowi menjawab adanya klaim hacker yang berhasil meretas dan membocorkan data-data kependudukan yang ada di lembaganya.

Menurut Pramono, data yang ditampilkan oleh akun Under the Breach adalah file Daftar Pemilih Tetap (DPT) tahun 2014 yang dipublikasi pada bulan November 2013.

Bacaan Lainnya

“Heboh isu DPT KPU di-hack. Kalau baca teliti itu DPT 2014, diakses 2013. Bukan DPT Pemilu 2019,” kata Pramono, Jumat (22/5/2020).

Sementara itu, apa yang ditampilkan oleh pemilik akun twitter @underthebreach tersebut adalah data yang memang bisa diakses oleh publik. Hal ini mengingat format file yang discreencapture adalah PDF.

“Bentuk file juga pdf, artinya memang aksesibel. Tidak perlu di-hack, memang dulu disediakan untuk publik,” jelasnya.

Kemudian, ia juga menyebut bahwa DPT tahun 2014 itu pun tidak sampai 200 juta.

“Jumlahnya juga tidak tepat. DPT Pileg 2014 hanya 186,6 juta, tidak sampai 200 juta,” imbuhnya.

Di dalam klaim hacker, mereka mengancam akan membocorkan data rahasia DPT yang dimiliki oleh KPU. Menanggapi hal itu, Pramono menegaskan bahwa data pribadi yang bersifat rahasia sangat dijaga betul oleh lembaganya. Karena hal itu bagian dari amanat undang-undang.

“Lain lagi soal rahasia data pribadi. Dalam DPT memang ada 2 regulasi (yaitu) keterbukaan informasi vs kerahasiaan data pribadi,” terang Pramono.

Data rahasia yang dimaksud Pramono adalah kelengkapan informasi nomor induk kependudukan (NIK) para pemilih yang dicatat. Dimana NIK mereka tetap akan dirahasiakan kelengkapannya.

“Untuk DPT 2019 diatur terbuka dengan 4 digit NIK ditutup,” sambungnya.

Sementara kapan NIK DPT dibuka secara utuh, Pramono mengatakan hal itu dilakukan dalam rapat dengan Partai Politik selaku peserta pemilu yang digelar secara tertutup pula.

“Di Pemilu 2019 KPU pernah buka 4 digit NIK dalam rapat tertutup dengan parpol-parpol yang tuntut KPU transparan,” tutupnya.

Klaim hacker

Perlu diketahui, bahwa seorang pemilik akun di salah satu situs komunitas peretas mengungkapkan bahwa pihaknya berhasil meretas database KPU dengan mendapatkan identitas DPT. Data yang berhasil diretas adalah Nomor Induk Kependudukan (NIK), Nomor Kartu Keluarga (NKK) dan sebagainya. Dimana identitas itu yang digunakan oleh pengguna provider telekomunikasi di Indonesia untuk mendaftarkan nomor ponsel mereka.

Bahkan peretas berencana untuk membocorkan 200 juta data kependudukan yang diklaim didapatkannya dari KPU.

“I hot more than 200 Millions Indonesia citizenship data,” tulis peretas dalam situs forum tersebut.

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia

Pos terkait