Perilaku Elite dan Bangsa Indonesia yang Buat Masih Banyak Golput

  • Whatsapp
Deddy Corbuzier
courtesy : youtube/cameoproject

Inisiatifnews – Tiga bulan lagi Indonesia akan merayakan pesta demokrasi besar-besaran dan pertama kali dalam sejarah politik di Indonesia, dimana Pileg dan Pilpres dilakukan secara serentak dalam waktu yang bersamaan.

Namun demikian, yang menjadi momok sendiri dalam kontestasi politik elektoral semacam ini masih banyaknya potensi orang tidak akan menyalurkan hak suaranya alias golput atau golongan putih.

Bacaan Lainnya

Lantas apa yang membuat potensi golput masih tinggi, salah satu influencer Deddy Corbuzier menilai bahwa memang ada yang salah di dalam perpolitikan di Indonesia itu sendiri yang belum terselesaikan.

Salah satunya disebutkan Deddy dalam tayangan video milik Cameo Project adalah masih ada keengganan dari para elite untuk lebih fokus bagaimana menunjukkan kelebihan diri dibandingkan fokus berlomba menjatuhkan lawan politiknya.

“Alangkah indahnya ketika dua orang ini dua-duanya men-show off kemampuan mereka dibandingkan menjatuhkan lawan mereka,” kata Deddy Corbuzier.

Analogi yang dipakai Deddy dalam menjelaskan pendapatnya adalah dengan perumpamaan lomba menggambar antara dirinya dengan Raditya Dika. Akan lebih baik dewan juri melihat siapa yang terbaik dari yang baik adalah dengan karya yang dihasilkan.

“Lu (Radit) sama gua ikut kompetisi menggambar, what can you do? gue juga akan gambar yang bagus. Kasih lihat orang, (maka) orang memilih,” jelasnya.

Sementara analogi lomba menggambar ini belum diterapkan dengan tepat dalam politik yang terjadi, dimana masing-masing hanya ingin mengolok-olok lawan sementara dirinya belum menunjukkan karya apapun.

“Gua gambar belum, (tapi bilang) Radit itu kan bulpennya murah enggak mungkin bisa gambar bagus. Dia kan enggak punya pengalaman menang gambar gak mungkin bisa gambar. (sementara) gambarnya belum (dibuat),” lanjut Deddy menerangkan.

Sementara di sisi bangsa Indonesia, sense negatif masih lebih suka dikonsumsi dibandingkan sense positif. Dan untuk menjelaskan itu, Deddy menganalogikan lagi dua buah gedung antara gedung satu tampak bagus dan ada gedung yang lainnya tampak terbakar.

Sense genatif bangsa akan lebih memilih untuk memberikan interest kepada gedung yang sedang terbakar dibandingkan dengan gedung yang tampak bagus.

“Ada orang baru bikin gedung bagus mewah jadi, lu lewat doang. Ada gedung kebakaran difoto. Ini kan bencana, ini kan psikologi negatif,” pungkasnya.

Sementara kesimpulan yang disampaikan Deddy Corbuzier adalah baik elite dan bangsa Indonesia harus berhenti menggelorakan sense negatif sehingga iklim demokrasi bisa lebih bagus dan angka golput bisa berkurang.

“Supaya enggak ada yang golput, masyarakatnya pun harus berhenti punya psikologi negatif terhadap calon-calon ini. Dan calon-calonnya pun berhenti menyiarkan yang negatif lawannya,” kata Raditya Dika dalam video tersebut mencoba menerangkan maksud penjelasan Deddy itu.

Survei

Berdasarkan hasil survei bulan Desember 2018 yang telah dirilis oleh Indikator Politik, bahwa setidaknya ada 20 persen pemilih akan memilih tidak memilih dalam Pemilu 2019.

“Potensinya minimal ya 20-an persen pemilih golput. Minimal kalau berkaca dari pengalaman sebelumnya, ada pemilih Jokowi dan Prabowo yang tingkat loyalitas militansinya lemah,” ujar Direktur Eksekutif Indikator Politik, Burhanuddin Muhtadi di kantor Indikator Jalan Cikini V Jakarta Pusat, Selasa (8/1).

Pos terkait