BNPT Imbau Takmir Sterilkan Masjid dari Paham Radikal dan Kepentingan Politik

  • Whatsapp
anti terorisme
Ilustrasi

Inisiatifnews – Semakin mewabahnya paham radikalisme di Indonesia, terlebih di tahun politik saat ini. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengimbau pengurus atau ta’mir masjid di lingkungan kantor pemerintahan untuk selalu waspada terhadap paham radikalisme.

BNPT mengungkapkan, banyak pelaku terorisme adalah mereka yang pulang dari negara konflik seperti Afganistan, Filipina, Suriah dan Iraq menyebarkan paham radikalisme melalui masjid.

Bacaan Lainnya

“Orang-orang ini yang ketika pulang di Indonesia itulah yang berbahaya. Karena mereka membawa sesuatu. Mereka membahwa ideologi, networking, dan berbagai hal baik melalui online maupun offline,” ujar Direktur Pencegahan BNPT Brigjend Pol. Ir. Hamli dalam keterangan tertulis, Sabtu (2/3/2019). Hamli menyampaikan hal tersebut pada Focus Group Discussion (FGD) yang diadakan oleh Forum Silaturrahim Takmir Masjid Kementerian/Lembaga dan BUMN (FSTM).

Sebab itu, Hamli mengajak seluruh pengurus (takmir) masjid di kementerian/lembaga dan BUMN untuk bisa menyatukan takmir masjid pemerintah agar menyebarkan ajaran Islam yang damai, tenang, sejuk, dan memberi rahmat bagi semua (rahmatan lil alamin).

Dalam kesempatan yang sama, Akademisi UIN Jakarta, Moh. Najih Arramadlani mengingatkan agar masjid steril dari kepentingan-kepentingan paham radikal dan kampanye atau kegiatan politik.

“Kenapa masjid menjadi sasaran, karena masjid sudah terlalu masuk ke dalam politik, politisasi masjid itulah yang membuat masjid kita menjadi tidak murni lagi. Kita melihat indikasinya sudah sangat matang. Mengkonsolidir 17.000 masjid di Jawa Timur untuk tanggal 17 April 2019 mendatang,” kata Najih.

Pemerhati Timur Tengah dan alumni Suriah itu mengungkapkan, terdapat pola yang sama antara gerakan radikalisme di Suriah dan Indonesia.

“Saya menemukan banyak pola yang sama antara radikalisme di indonesia dengan di Suriah yaitu, menjadikan masjid sebagai basis gerakan radikalisme dan gerakan politik,” ungkap Najih.

Najih pun memberikan alasan sebab konflik di Iraq tak kunjung reda. “Kita lihat di Irak isu yang dibangun adalah isu sunni syiah. Di suriah juga demikian, di suriah itu sudah banyak masjid yang menjadi korban ledakan,” ujarnya.

“Qatar juga, kalau kita kenal Jumat dengan Jumat mubarok, tetapi di Qatar menjadikan hari Jumat sebagai Jumatul Ghadab (Revolusi Jumat),” lanjutnya. [SA]

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia

Pos terkait