Shaf Jamaah Salat Subuh Kampanye Akbar 02, Netizen: Sah Atau Nggak Ya?

  • Whatsapp

Inisiatifnews – Kampanye Akbar Capres dan Cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto – Sandiaga Uno di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, Minggu (07/04/2019) menyisakan polemik.

Ada perdebatan sengit di lini masa media sosial Twitter. Yakni posisi shaf alias barisan salat yang bercampur baur antara laki-laki dan perempuan.

Bacaan Lainnya

Seperti diketahui, dalam rangkaian Kampanye Akbar kemarin, pukul 04:30, puluhan ribu simpatisan yang hadir salat subuh berjamaah. Selain Prabowo dan Sandiaga di shaf pertama, nampak Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, Presiden PKS Shohibul Iman, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid.

Sementara relawan dan simpatisan mengikuti di belakangnya. Salat subuh di lapangan SU GBK diikuti puluhan ribu jamaah dan diimami oleh Ketua Umum DPP FPI KH Shobri Lubis.

Kondisi stadion memang penuh. Laki-laki dan perempuan campur baur. Akhirnya, bisa jadi dengan sangat terpaksa jamaah laki-laki tidak bisa semuanya di depan. Campur dengan jamaah perempuan. Bahkan saking penuhnya, jamaah yang tidak mendapatkan shaf di lantai dasar menggelar sajadah di sela-sela tribun stadion.

Ketua Umum GNPF Ulama, Yusuf Muhammad Martak menegaskan, tak ada unsur kesengajaan mencampurkan lelaki dan perempuan dalam satu shaf salat. Kondisinya darurat. Karena massa penuh sesak, terpaksa ada perempuan yang salat di dekat lelaki.

“Cuma saya tidak tahu di dalam keadaan yang sudah darurat, karena sudah padatnya umat seperti kejadian seperti, ya contoh, seperti di Masjidil Haram, kadang-kadang itu berdekatan, hampir bersebelahan walaupun tidak bersenggolan ya. Sifatnya darurat tapi tidak ada setting shaf salat itu, itu hal yang tidak mungkinlah karena kepanitiaannya juga dari kita juga ngerti semualah,” kilah Yusuf Martak.

Di lini masa Twitter, ramai betul warganet membicarakan ini. Beberapa menautkan foto-foto salat subuh berjamaah yang campur baur ini. Ada yang sekadar bertanya hukumnya. Ada yang mencibir dan nyinyir, ada juga yang membolehkan. Masing-masing netizen punya dalil sendiri.

Misalnya akun @Widyatingisi1 yang bertanya kepada Rois Syuriah Pengurus Cabang Istimewa Nahdalatul Ulama (PCI NU) Australia, Nadirsyah Hosen lewat akun @nadirs. “Trus salat campur baur gini gimana Gus Prof?” tanya salah satu netizen menautkan foto.

Gus Nadir, sapaan akrab Nadirsyah Hosen ini pun menjawab, tergantung madzhab yang dianut. “Madzhab Hanafi mengatakan salat bercampur shaf lelaki dan perempuan ini batal shalatnya. Jumhur ulama mengatakan tidak batal. Jadi gak usah kita persoalkan lah,” pinta Gus Nadir.

Akun @Joe_rentokkill bahagia sekali dengan jawaban Gus Nadir yang bikin adem. “Jadi gak usah kita persoalkan lah” kalimat ini sederhana sekali. Tapi bisa bikin dua kubu adem. Sangat mencerahkan. Sehat selalu Gus,” kicaunya.

Namun begitu, bukan netizen kalau gak rame. Sukanya ribut. Akun @Jakatingkir811 ngomporin. “Membolehkan dalam keadaan terjepit, misal perang atau tidak ada hijab yang bisa dipakai untuk pembatas perempuan dan laki-laki, nah mungkin di Monas tidak mengenal madzhab karena imam mereka bukan 4 Imam. Tapi imam besar FPI, Betul kan Gus?” cuitnya nyinyir membalas Gus Nadir.

Warganet yang lain pun mempersoalkan shaf campur baur ini seperti akun @_bje. “Butuh produk fiqh baru. Jangan berhenti di sini kalau memang ingin menempatkan syariat secara ihsan. Silakan bikin bahsul masail. Cari referensi dan ijma’ ulama’. Saya akan pelajari kalau sudah ada penjelasan hasil hukum shaf salat beginian,” cuitnya disambut akun @IcayTanaka_iDJ memanas-manasi. “Sepertinya ini Islam ajaran milenial ya. Sholat campur aduk shafnya. Coba kalo cebong yang begini. Pasti dinyinyirin hina dina.”

Akun @BayuSigma88 menimpali. “Iya shaf perempuan di belakang laki itu sunah, kalo shaf campur gitu wajib gitu kali ya? Menghalalkan segala cara demi meraih sesuatu,” senada dengan @McFatimah yang bernada provokatif. “Itu cewek cowok campur campur pak? senggolan dong. asyek.” Warganet @Adrianmzaki semakin meledek. “Menurut ULAMA, shaf sholat antara pria dan wanita dipisah. Nggak tahu kalau menurut UBARU.”

Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat Muhammad KH Cholil Nafis mencoba menjelaskan persoalan ini. “Sunnahnya shaf perempuan itu di belakang laki-laki. Tapi kalau shalat nyampur antara laki dan perempuan dalam satu shaf itu menyalahi sunnah atau makruh. Tapi menurut madzhab Hanafi itu membatalkan shalatnya. Makanya kalau mau shalat ya di Masjid aja yang utama,” saran @cholilnafis.

Serupa, Ketua Bidang Dakwah DPP Front Santri Indonesia dan pengasuh LPD Albahjah IV Kalimantan Barat Habib Ali Alhinduan juga ikut meluruskan polemik ini. Dia menyebut barisan perempuan di belakang pria hukumnya sunah. Oleh karena itu, jika menyalahi itu maka hukumnya makruh dan salatnya tetap sah.

“Jumhur Ulama selain madzhab Hanafi mengatakan shof perempuan di belakang shaf laki-laki itu sunnah bukan wajib. Jika menyalahi maka hukumnya hanya makruh dan salatnya tetap sah. Walaupun fadilah berjamaah hilang, tapi salat tetap sah bahkan dapat fadilah lebih yaitu jamaah yang banyak. Ngaji ya,” terang @alialhinduan.

Warganet yang lain ogah ikut berpolemik. Akun @rannyramadhanti santai banget menanggapi ini, dia tak membela kubu yang membolehkan, maupun yang menyindir dan mencela. “Pada ngeributin salat subuh berjamaah tapi shaf nya campur laki ama perempuan, salat berjamaah subuh ke mesjid aja ga pernah kecuali kalo bulan puasa,” kicaunya diamini @dyhaNKeecciill. “Buka TL pada ngomongin Masjidil Haram, tentang shaf sholat, salah atau benar. Kalau kata Pak Ustadz, ga usah diributin atuh! Yang salah itu, yang ga sholat. Betul tidak?” (FMV)

Pos terkait