Ini Lima Syarat Pemimpin Milenial Versi Alissa Wahid

  • Whatsapp
IMG 20190409 211458
Istimewa

Inisiatifnews – Putri sulung Presiden Gus Dur, Alissa Wahid mengingatkan generasi milenial harus memiliki lima kecapakan agar bisa menjadi pemimpin. Kelima kecakapan tersebut pertama adalah kecakapan ilmu atau disebut disiplin thinking.

“Kedua kecakapan untuk merangkum beragam jenis produk teknologi seperti optimalisasi seluruh feature gadget untuk menghasilkan suatu produk yang kompetitif. Itu di antara tanda-tanda generasi milenial,” ujar Alissa dalam Dialog Kebangsaan Gerakan Suluh Kebangsaan di hadapan ratusan mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Malang, Universitas Brawijaya, UIN Malang, dan Unisma di Auditorium Unmuh Malang, Selasa (09/04/2019).

Bacaan Lainnya

Syarat ketiga bagi generasi milenial, kata Mbak Lisa, sapaan akrab Alissa Wahid, adalah kecakapan dalam berkreasi yang ditandai bergesernya orientasi generasi milenial yang tak lagi bercita-cita jadi pegawai negeri atau karyawan. Sebaliknya, generasi milenial mempunyai kecenderungan kuat untuk menjadi kreator sehingga marak sekali beragam jenis start up dan lebih mandiri.

Sedangkan kekhasan keempat yang harus dimiliki generasi milenial adalah respecting thinking atau punya empati kepada orang lain. Dan, terakhir agar generasi milenial mempunyai peran penting adalah ethical thinking yakni mempunyai dasar pertimbangan yang matang sebelum melakukan sesuatu hal.

“Generasi yang mampu berpikir tentang baik-buruk, salah-benar, atau pantas dan tidak pantas. Kemampuan memenuhi kelimanya itulah kata kunci kepemimpinan generasi milenial,” tandas Mbak Lisa.

Menguatkan gagasan dasar tentang eksistensi generasi milenial dari Alissa, Prof DR Siti Ruhaini Dzuhayatin juga menegaskan bahwa generasi milenial khususnya milenial perempuan haruslah menjadi generasi yang lebih religius, smart, moderat, profesional dan nasionalis. Jika persyaratan ini dipenuhi maka bonus demografi tahun 2030 itu akan menjadi berkah.

“Tetapi jika tidak ya justru sebaliknya. Kenapa perempuan? Jika negara salah dalam memperlakukan milenial perempuan, negara ini akan runtuh ke depan,” ujar Prof. Aini, sapaan akrab mantan Ketua Komnas HAM OKI itu sekaligus Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

Sebagai kapital dasar bonus demografi generasi milenial itu, Direktur NU Online Mohamad Syafi’ Alielha menilai, harus lebih cerdas dalam menggunakan gadget. Di era post trust seperti saat ini, menurutnya makin sulit membedakan mana informasi yang benar dan salah. Apalagi kecenderungan yang ada justru kebenaran itu acapkali diukur dari siapa yang menyampaikan.

“Jika dari kelompoknya atau yang se-ide, maka semuanya dianggap benar, meski masih meragukan. Demikian juga sebaliknya. Kondisi seperti ini, bukan hanya menimpa sebagian bangsa Indonesia, tapi di negara lain juga tengah berperang melawan fenomena tersebut,” terangnya.

Sementara Rektor Unmuh Dr Fauzan mengingatkan bahwa generasi milenial sebagai modal utama bonus demografi itu harus menjadi generasi yang tangguh dan mandiri. “Kuncinya adalah dengan mengubah mindset mereka sehingga mampu berpikir di atas rata-rata. Di antara mereka itu tidak suka mengeluh, tidak suka mencaci-maki, tidak suka berdalih dan lebih mandiri. Jika generasi milenial ini ditingkatkan kualitas hidupnya, maka cita-cita untuk mewujudkan Indonesia emas 2045 akan terwujud,” katanya. (MMS)

Pos terkait