Gus Mus Punya Firasat Sebelum Mbah Moen Wafat

  • Whatsapp
IMG 20190807 032116
Foto : Habib Luthfi, KH Maimoen Zubair dan KH Mustofa Bisri.

Inisiatifnews – Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Kabar duka menyelimuti bangsa Indonesia dan umat Islam, khususnya warga Nahdlatul Ulama (NU). Pagi tadi, ulama kharismatik KH. Maimoen Zubair alias Mbah Moen telah menghembuskan nafas terakhirnya di Makkah Al Mukarromah, Arab Saudi.

Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah Ini dikabarkan wafat saat menunaikan rangkaian ibadah haji di Makkah, Arab Saudi, Selasa (06/08/2019) sekitar pukul 04.17 waktu setempat.

Bacaan Lainnya

Ternyata, keinginan kiai sepuh yang lahir 90 tahun lalu untuk berangkat haji pada tahun ini, sempat dicegah oleh putra-putrinya. Cerita dan firasat atas kepergian Ketua Majelis Syariah PPP dan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini disampaikan sahabat baiknya, KH Mustofa Bisri (Gus Mus).

Lewat akun Instagram pribadinya @s.kakung, Pengasuh pondok pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, Jateng ini bercerita soal bagaimana kerasnya usaha putra dan putri Mbah Moen mencegah Sang Ayah  berangkat menunaikan ibadah haji.

Karena tidak berani mencegah dan menyampaikan niatnya, mereka meminta bantuan pada seorang santri yang masih kerabat mereka, Nawawi. 

Kepada Mbah Moen, Nawawi berbicara dengan penuh hati-hati menceritakan keinginan putra-putri Mbah Moen. Belum sempat mengutarakan cerita, Mbah Moen langsung memotong dan mengerti maksud omongan Nawawi.

Berikut cerita Gus Mus sekaligus firasat yang dirasakannya yang ia tuangkan lewat postingannya di Instagram.

Mautul ‘ãlim mautul ‘ãlam :: Putera-putera Kiai Maemoen Zubeir –rahimahuLlãh– sebenarnya ingin mencegah beliau berangkat haji tahun ini. Tapi tidak berani matur. Maka mereka minta tolong salah satu santri kinasih beliau yang kebetulan masih famili, mas Nawawi (Pemilik akun Facebook “Jambal roti”). 

Mas Nawawi dengan hati-hati matur menggunakan gaya bercerita. Menceritakan obrolan putera-putera beliau. Belum sampai Mas Nawawi tuntas memberitahu apa yang mereka obrolkan, beliau sudah memotong, “Mereka melarang aku berangkat haji ya?! Karepé déwé!” (Maunya sendiri). 

Terus terang saat Mas Nawawi menceritakan hal itu, dalam hati aku sudah merasa ketir-ketir, tidak enak. Bukan apa-apa; soalnya belakangan setiap ketemu, beliau hampir selalu ngendiko, “Dongo kulo sakniki namung nyuwun husnul khãtimah, Lék. Umur kulo sampun langkung 90 tahun.” (Doa saya sekarang ini hanya memohon husnul khãtimah, Lék. Umur saya sudah 90 tahun lebih). 

Dan doa permohonan beliau dikabulkan oleh Kekasihnya. Tokoh pendamai yang menyukai perdamaian itu kini telah damai di sisi Zat yang Maha damai. 

Meninggalkan kita yang belum selesai dengan urusan dunia ini, dengan membawa segudang ilmu, akhlak, dan kearifan beliau. 

Innã liLlãhi wainnã ilaiHi rãji’űn. 
Nafa’anãLlãhu bi’ululűmihi wa akhlãqihi wahikmatih.

Sugeng kondur Mbah Moen. (INI)

PHP Dev Cloud Hosting

Pos terkait