Mahfud MD
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof. Mahfud MD bersama KH. Dasri foto bersama di dekat mimbar berkaligrafi kalimat tauhid di Masjid Istiqamah di Kompleks KBRI Singapura, Minggu (11/08/2019).

Inisiatifnews – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) yang juga Anggota Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof. Mahfud MD bikin sayembara. Bagi siapapun saja yang memiliki bukti dirinya pernah mempersoalkan bendera tauhid, ia akan memberi uang senilai Rp 10 juta. 

Tantangan Mahfud MD ini disampaikan setelah sejumlah portal berita online memberitakan pernyataannya soal Enzo Zens Allie. Diketahui, Enzo Zenz Allie menjadi perbincangan usai videonya saat berdialog dalam Bahasa Prancis dengan Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto menyebar di media sosial. Almarhum ayah Enzo adalah Warga Negara Prancis, sedangkan ibunya, Warga Negara Indonesia. 

Setelah viral dan jadi perbincangan, calon prajurit taruna akademi TNI berdarah Indo-Prancis ini diisukan terpapar dan berafiliasi dengan organisasi terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). 

Nah, Mahfud MD diwawancarai oleh wartawan pada Jumat (09/08/2019) lalu di kantor Pemda Daerah Istimewa Yogyakarta, terkait Enzo dan isu yang menerpanya. Mahfud ingat betul wartawan yang mewancarainya adalah jurnalis dari Kedaulatan Rakyat, Kumparan, Tribun Jogja, dan Radar Jogja. 

“Jumat lalu, Saya ditanya wartawan tentang lolosnya Enzo masuk Akmil. Saya bertanya balik, apa masalahnya? Saya tak tahu berita tentang itu karena Saya baru pulang dari Moscow dan terus ke Denpasar,” cerita Mahfud saat Dialog Kebangsaan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Singapura Minggu (11/8/2019) sore.

Selanjutnya, sambung Mahfud, wartawan menjelaskan, Enzo Allie diterima di Akmil TNI tapi kemudian ia diisukan diduga terpapar radikalisme. Mahfud pun lantas menjawab, jika isu itu benar, mungkin saja TNI kecolongan. Tetapi sepengetahuannya, seleksi masuk ke TNI itu sangat ketat, dilacak sampai ke keluarga, termasuk ibunya dan kakeknya. Artinya, jika benar kecolongan, dia menyarankan dipecat saja karena prasyaratnya tak terpenuhi. Dirinya  sama sekali tak pernah mengaitkan dengan berdera tauhid atau organisasi tertentu. 

Usai wawancara, tak ada satu pun wartawan yang menulis bahwa Mahfud berbicara tentang bendera tauhid. Sayangnya, hasil wawancara tersebut memviral dan dibumbui hoak di media sosial. Mahfud difitnah islamophobi dan anti bendera tauhid. 

“Saya hanya bilang begitu. Titik. Tak ada urusan bendera tauhid atau urusan organisasi radikal. Di bagian mana saya anti bendera tauhid atau islamophobi?” ungkap Mahfud heran.

Mantan Menteri Pertahanan ini pun menegaskan, sejak dulu hingga kini, dirinya tak pernah mengaitkan bendera tauhid dengan gerakan radikal di Indonesia. Menurutnya, radikalisme adalah masalah sendiri yang tak ada kaitannya dengan bendera tauhid. 

“Kalau ada yang bisa menunjukkan bukti bahwa saya pernah mengaitkan bendera tauhid dengan radikalisme, maka yang bisa menunjukkan buktinya, saya beri Rp 10 juta rupiah setiap orang.  Silakan cari di pernyataan pers, di televisi, di orasi atau halaqah, di pengajian, di rekaman wartawan, atau di mana saja. Kalau ada yang menemukan pernyataan saya seperti itu saya beri hadiah Rp 10 juta rupiah”, tantang Mahfud.

Mahfud menegaskan, dirinya berhati tauhid. Semua anaknya saat lahir, ia bisiki dengan kalimat tauhid “Laa Ilaaha Illaa Allah, Muhammadun Rasulullah”, bahkan sampai usia tiga bulan ketika anak-anaknya masih orok, di ubun-ubunnya yang masih lembut seperti bubur selalu ia bacakan kalimat tauhid dan shalawat nabi. 

“Cucu-cucu saya juga begitu, setiap ketemu saya pegang kepalanya sambil membacakan kalimat tauhid dan Shalawat nabi. Di rumah saya juga punya koleksi lukisan kaligrafi dan ukiran tauhid di kain, di kayu, maupun di batu yang diukir,” jelas Mahfud. 

Bagaimana jika ada yang menemukan pernyataan Mahfud tentang penolakannya atas bendera kalimat tauhid, dan yang menemukan sampai 1000 orang, apakah dirinya akan mambayar sebesar Rp 10 miliar?

“Saya tak perlu membayar itu karena saya tak penah mengaitkan bendera tauhid dengan radikalisme. Tak akan ada, wong saya tak pernah mempersoalkan bendera tauhid itu,” jawab Mahfud disambut tepuk tangan meriah peserta dialog yang berlangsung di KBRI tersebut.

Untuk diketahui, Mahfud MD yang juga Ketua Umum Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara (APHTN) itu hadir ke Singapura atas undangan duta besar RI, Ngurah Swajaya untuk menjadi narasumber dialog kebangsaan bertajuk “Meningkatkan Nilai Kebersamaan Menuju Indonesia Emas 2045” dalam rangka menyongsong HUT Kemerdekaan RI. 

Sebelum acara dialog, pagi harinya Mahfud MD Salat Idul Adha di Masjid Istiqamah yang terletak di Kompleks KBRI Singapura. Di zana Mahfud MD melayani dengan antusias jemaah yang memintanya foto bareng, termasuk dengan KH. Dasri, yang bertindak sebagai Imam dan Khatib pada salat Eid saat itu. Dengan KH. Dasri, Mahfud MD juga berfoto di samping mimbar yang berukir kaligrafi tauhid “Laa Ilaaha Illaa Allah, Muhamadun Rasulullaah”. (INI)

space iklan