Ditanya Terus Soal Papua, Mahfud: Jangan Males Googling!

  • Whatsapp
Mahfud MD
Foto : Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof. Mahfud MD bersama Sosiaolog UI Imam Prasojo, Kiai Dian Nafi, dan sejumlah alim ulama serta tokoh ormas saat Halaqah Alim Ulama di Hotel Novotel, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (31/8/2019). 

Inisiatifnews – Masyarakat hendaknya berhati-hati menyikapi berita hoaks yang digerakkan melalui cara-cara post truth, terutama dalam kasus Papua. Sebab, kini banyak berita hoaks terkait Papua yang disebarkan lewat berbagai platform media sosial.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan (GSK) Prof. Mahfud MD saat menjadi penceramah kunci pada Halaqah Alim Ulama tentang “Membangun Kerukunan dengan Ibroh dari Mantan Pelaku dan Korban Terorisme” di Novotel, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (31/8/2019). 

Bacaan Lainnya

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini menerangkan, berita hoaks adalah berita bohong. Sedangkan post truth adalah berita yang jelas-jelas bohong, tetapi diulang-ulang terus menerus dari berbagai penjuru agar orang percaya.

Mahfud pun memberi contoh. Misalnya pertanyaan tentang dirinya yang jelas-jelas hoaks dan menyesatkan. “Mana suara Mahfud dan BPIP tentang Papua kok diam saja?” ungkap Mahfud mengutip pertanyaan sejumlah netizen di media sosial. 

Padahal, Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) ini telah berkali-kali berbicara tentang Papua sejak awal peristiwa rasisme berujung kerusuhan di Papua dan Papua Barat meletus. 

Misalnya pada Rabu (21/8/2019), dirinya bersama Menteri Hukum dan HAM Yasonna H. Laoly tampil di sebuah televisi swasta nasional dalam dialog khusus soal Papua. Bahkan dilengkapi dengan berita doorstop

Selanjutnya, pada Jumat (23/8/2019), ia bersama sembilan tokoh berbicara dalam jumpa pers tentang Papua di Hotel Sahid, Jakarta. Bahkan, pernyataan Mahfud MD dimuat oleh lebih dari 40 media mainstream baik cetak, televisi maupun online. 

“Kok dibilang diam? Jangan malas searching dan googling. Seperti ada yang aneh, sengaja mengembuskan pertanyaan ini berkali-kali,” sebut dia.

Malahan, Mahfud bercerita, ada seorang sahabatnya, profesor, yang bertanya hal yang sama. Mahfud meminta sang profesor membuka jejak digital baik lewat kanal youtube maupun mesin pencarian google untuk melihat berita dan artikel tanggal 21 dan 23 Agustus yang berisi statement-statmentnya tentang Papua. 

“Jadi karena yang bersangkutan adalah profesor, namanya jelas, dan kawan, maka saya menjawab dan memintanya untuk tidak ikut mengembangkan berita bohong dan bodoh, eman-eman (sayang) keterpelajarannya,” ungkap Mahfud.

Setelah itu sang profesor mengatakan, bahwa benar ada pernyataan-pernyataan Mahfud. Akan tetapi tak sesuai harapannya. “Hehehe, dia terjebak oleh hoaks dan post truth. Pertama dia percaya pada berita bahwa Saya diam. Setelah terbukti dirinya salah dia bilang kok tidak bilang begini dan begitu yang sesuai dengan harapannya,” ungkap Mahfud sembari tertawa. 

Untuk diketahui, dalam berbagai pernyataannya pada tanggal 21 dan 23 Agustus 2019 lalu, Mahfud menyatakan sejumlah poin menyikapi kasus Papua. Pertama, tak boleh ada sikap dan pernyataan rasis bagi saudara-saudara asal Papua. 

Kedua, Papua dan seluruh rakyatnya adalah bagian yang sah dari Indonesia. Ketiga, konstitusi dan hukum di Indonesia melarang adanya referendum untuk menentukan nasib Papua.

Keempat, penegakan hukum di Bumi Cendrawasih hendaknya dilakukan dengan persuasif hingga situasi tenang. Yang diutamakan adalah kemanfaatan hukum, bukan kepastiannya semata. 

Kelima, Mahfud menegaskan, Konvensi Internasional PBB yang telah diratifikasi oleh Indonesia menentukan, negara yang sudah berdaulat atas satu wilayah, termasuk Papua sebagai bagian dari Indonesia, dibolehkan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk menegakkan kedaulatannya termasuk penegakan hukum dan, jika perlu, langkah-langkah militer. (FMB)

PHP Dev Cloud Hosting

Pos terkait